Cari

SANG MOTIVATOR

Didi adalah seorang lelaki nasib yang kurang baik. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan kedua saudaranya. Dia tergolong anak yang patuh terhadap kedua orang tuanya dan selalu membantu meringankan beban orang tuanya.

Semenjak memasuki sekolah mengah pertama, kelakuannya yang selalu patuh sedikit demi sedikit mulai menampakan ketidak patuhan karena pengaruh lingkungan dan pergaulan yang salah dalam memilih teman. Banyak sekali kasus yang dia buat semenjak SMP, salah satunya yaitu membawa vcd porno sehingga dia harus dipanggil oleh guru BP beserta orang tuanya. Karena kasus tersebut orang tuanya marah besar terhadap Didi dan dia juga harus menjalani sanksi yaitu harus diskorsing selama 3 hari. Selama 3 hari Didi dimarahi oleh orang tuanya dan dia didiberi hukuman kalau uang sakunya dipotong dari biasanya yaitu lima ribu rupiah. Semenjak kasus teserbut, Didi merenungi kesalahan yang dia buat itu bahwa kelakuan yang seperti itu dapat membuat dirinya menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya serta dapat membuat dirinya menjadi anak yang nakal.

Pada saat menginjak sekolah menengah atas, dia sadar dan memiliki komitmen bahwa dia harus membuat orang tuanya bangga. Pada saat kelas 12, sang ayah pernah berkata kepada Didi.

“Di, kamu harus bisa melanjutkan pedidikanmu ke perguruan tinggi negeri yang ada di Surabaya. Terserah kamu mau masuk jurusan apa,yang terpenting itu kamu bisa jadi pegawai negeri sipil seperti ayah ini.”

“Iya ayah. Aku akan berusaha untuk melanjutkan keperguruan tinggi dan masuk ke universitas negeri dan akan menjadi seperti ayah, menjadi seorang pegawai negeri.”

Waktu terus berjalan sampai mendekati ujian nasional yang akan diadakan lima bulan lagi. Pada saat bulan November, Didi belum sempat membuat orang tuanya bahagia karena pada saat itu sang ayah pergi untuk selamanya. Kami semua merasa kehilangan sosok seorang ayah yang selalu memberi semangat kepada anak-anaknya serta selalu membuat ibu bahagia. Setelah peristiwa itu, Didi berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada ibunya bahwa dia akan memenuhi permintaan ayah pada saat dia diberi nasehat bahwa harus bisa menjadi pegawai negeri dan menjadi anak yang berguna bagi bangsa.

Dengan segenap usaha yang dilakukannya, dia berhasil meneruskan pendidikan ke universitas negeri di Surabaya walaupun belum sempat membuat bahagia sang ayah. Didalam benaknya dia percaya bahwa sang ayah tersenyum bahagia di surga bahwa anaknya berhasil masuk ke universitas negeri dengan usahanya sendiri serta tidak menjadi anak yang nakal.

Pada saat awal kuliah, Didi banyak menemukan teman yang selalu memberinya semangat dalam mengatasi kesdihan yang ia miliki. Dan semangat itu yang membuat Didi untuk menjadi lebih baik lagi serta mempunyai keinginan utnutk membuat bahagia seorang ibu. Pada saat malam tiba, Didi mengatakan sesuatu kepada ibunya “bu, jangan dipikirkan lagi kepergian ayah. Sudah, ayah sudah tenang disana. Beliau bersama ALLAH S.W.T dan sedang memandangi kita semua bagaimana kedaan kita dan tersenyum bahagia kalau aku sudah berhasil masuk ke Universitas Negeri Surabaya. Sudah bu, jangan bersedih lagi.” Begitlulah kata-kata Didi kepada seorang ibu yang ia sayangi.

Didi semakin bersamangat untuk kuliah dan mempunyai keinginan untuk memdapatkan beasiswa yang dapat membantu orang tuanya dalam membayar uang kuliah setiap semesternya. Selain itu, dia juga punya jalan lain yaitu dengan berjualan makanan ringan, compact disk, atau yang lainnya agar dapat memiliki uang saku sendiri tanpa meminta uang saku kepada ibunya. Semua usaha yang dilakukanya itu demi meringankan beban ibunya.

Menginjak semester dua, Didi semakin bersemangat dalam kuliahnya walaupun pada saat semester satu ia memiliki nilai IP kurang dari tiga. Dan nilai tersebut dijadikannya sabagai motivasi untuk jadi lebih baik lagi dan meningkatkan nilai IP tersebut. Didi selalu ingin bersaing dengan teman-temannya yang memiliki kemampuan lebih daripada dirinya. Didi sadar akan kekurangan yang dimilikinya itu, namun Didi tidak merasa minder atas kekurangan yang dia miliki.

Meskipun Didi tidak terlalu pandai dalam mata kuliah tertentu, dia selalu berusaha agar tidak dianggap bodoh oleh teman-teman yang lainnya. Disamping itu dia memiliki kelebihan yang lumayan menonjol daripada teman-teman yang, seperti menghibur teman-temannya dengan canda tawanya, pemberi semangat yang membuat orang untuk terus maju dan menghadapi segala tantangan yang ada dihadapannya.

Pada suatu ketika, ada seorang teman sedang meminta pendapat atau saran tentang masalah yang sedang dihadapinya. Dia bernama Wati. Wati mencurahkan semua isi hatinya pada Didi bahwa Wati ingin sekali mencari motivasi dan saran yang dapat membantunya dalam persoalan yang sedang Dia hadapi saat itu. Wati mengakatakan kepada Didi.

“Di, aku kok jadi bisa ya dimusuhin oleh teman yang tak pernah aku musuhin sebelumnya?? Apa salah ku terhadapnya sehingga dia memusuhi aku sampai seperti ini??”

“Tenang Wat, tenang. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Cumak cara kita bagaimana untuk menyelesaikan masalah itu dan wawktunya tidak tahu kapan yang akan menjawab semua ini. Kamu harus sabar Wat, janganlah menghadapi masalah itu dengan emosi. Mintalah petunjuk-Nya agar diberi kemudahan untuk menghadapi masalah pean saat ini.”

“Iya Di, aku akan menuruti perkataanmu itu. Mungkin aku lupa bahwa aku masih punya ALLAH S.W.T yang senantiasa membantu umatnya dalam menyelesaikan segala masalah. Terimaksih Di, saranmu itu sangat membantu sekali buatku. Kau mengingatkanku pada yang di-Atas.”

“Sama-sama Wat, jangan sungkan-sungkan sama aku itu. Kita adalah teman, jadi menurut q teman itu saling bantu. Ok Wat??”

“Oka Di, trimzz ya..”

Begitulah sifat motivator yang dimiliki Didi. Dia adalah seorang yang sangat peduli terhadap sesama teman, kelebihan yang dimiliki Didi yang belum tantu dimiliki oleh orang lain.

Dimas Dwi Senggono Saputro

Teknologi Pendidikan 2009 A

0 komentar:

Posting Komentar