Cari

Kondisi Pendidikan di Indonesia

Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Dengan kondisi alam yang sangat melimpah tak heran banyak sumber energi yang ditemukan disini. Bahkan banyak negara-negara asing yang menjadikan Indonesia sebagai sumber pencaharian. Tetapi dengan sumber daya alam yang melimpah masyarakat Indonesia sendiri kurang bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Pendidikan merupakan hal yang paling penting didalam penentuan masa depan suatu bangsa, dimana pendidikan adalah suatu alat atau metode untuk membentuk kepribadian dan karakter suatu bangsa. Memang sumber daya yang ada seperti pada saat sekarang ini dinilai masih kurang memadai. Dalam hal ini pemerintah dituntut untuk memperhatikan dunia pendidikan, dalam arti pemerintah berusaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. dengan mempersiapkan tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai sehingga terciptalah sumber daya manusia yang cerdas dan bermutu yang sesuai dengan cita-cita yang diimpikan oleh bangsa ini.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat merupakan salah satu negara yang tingkat pendidikannya dinilai masih memprihatinkan. Pendidikan di Indonesia dinilai kalah bersaing dengan negara-negara lain yang sudah berkembang. Alasan itu disebabkan karena pemerintah dalam di nilai kurang serius menangani kualitas pendidikan Indonesia. Akibat rendahnya kualitas pendidikan akan menghasilkan tenaga-tenaga yang kurang terampil dan banyak yang menjadi pengangguran. Hal ini tentunya akan berdampak semakin meningkatnya kriminalitas dan semakin meningkatnya tingkat kemiskinan.

Nama : Nora Kurniawati

Nim : 090124203

Kelas : Teknologi Pendidikan 2009 A

Menjadikan Kampus Basis Produksi Entrepreneur

Negara Indonesia saat ini masih sangat kekurangan entrepreneur. Kita sangat kekurangan jumlah entrepreneur karena sistem pendidikan di negara kita memang mendidik kita untuk menjadi pegawai bukan entrepreneur, mengarahkan kita untuk menjadi kuli, bukan kreator. Sepanjang kita sekolah selama puluhan tahun, kita hampir tidak pernah mendapatkan pelajaran mengenai entrepreneurship. Juga hampir tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang keberanian mengambil resiko, tentang kejelian membaca peluang bisnis, ataupun pelajaran tentang life skills. Selama bertahun-tahun kita hanya dijejali dengan aneka teori dan konsep, seolah-olah kelak kita akan menjadi pegawai di sebuah pabrik. Di setiap akhir tahun, setiap kampus ataupun lembaga kursus beramai-ramai mengadakan job fair, memberikan cara menyusun CV yang baik dan benar dan tips dan trik bagaimana menghadapi tes wawancara kerja. Kenyataan seperti diatas mestinya harus segera dikurangi. Sebab situasi semacam itu hanya akan membuat spirit entrepreneurship kita pelan-pelan redup. Selain itu, mahasiswa sulit digerakkan menjadi entrepreneurship karena orang tuanya lebih suka melihat anaknya menjadi karyawan disebuah bank ternama daripada menjadi pengusaha ayam potong dikampung.

Sisi lain, semestinya acara job fair yang rutin digelar setiap akhir tahun mestinya disertai dengan acara semacam “Entrepreneurship Campus Festival”. Dimana banyak mahasiswa yang datang dengan gagasan bisnis yang bermacam, memamerkan barang produksinya, dan dipertemukan dengan investor-investor yang siap membantu mendanai. Melalui acara seperti ini, bisa lahir entrepreneur-entrepreneur muda dari setiap kampus.

Nama : Nora Kurniawati

Nim : 090124203

Kelas : Teknologi Pendidikan 2009 A

Menjadikan Kampus Basis Produksi Entrepreneur

Negara Indonesia saat ini masih sangat kekurangan entrepreneur. Kita sangat kekurangan jumlah entrepreneur karena sistem pendidikan di negara kita memang mendidik kita untuk menjadi pegawai bukan entrepreneur, mengarahkan kita untuk menjadi kuli, bukan kreator. Sepanjang kita sekolah selama puluhan tahun, kita hampir tidak pernah mendapatkan pelajaran mengenai entrepreneurship. Juga hampir tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang keberanian mengambil resiko, tentang kejelian membaca peluang bisnis, ataupun pelajaran tentang life skills. Selama bertahun-tahun kita hanya dijejali dengan aneka teori dan konsep, seolah-olah kelak kita akan menjadi pegawai di sebuah pabrik. Di setiap akhir tahun, setiap kampus ataupun lembaga kursus beramai-ramai mengadakan job fair, memberikan cara menyusun CV yang baik dan benar dan tips dan trik bagaimana menghadapi tes wawancara kerja. Kenyataan seperti diatas mestinya harus segera dikurangi. Sebab situasi semacam itu hanya akan membuat spirit entrepreneurship kita pelan-pelan redup. Selain itu, mahasiswa sulit digerakkan menjadi entrepreneurship karena orang tuanya lebih suka melihat anaknya menjadi karyawan disebuah bank ternama daripada menjadi pengusaha ayam potong dikampung.

Sisi lain, semestinya acara job fair yang rutin digelar setiap akhir tahun mestinya disertai dengan acara semacam “Entrepreneurship Campus Festival”. Dimana banyak mahasiswa yang datang dengan gagasan bisnis yang bermacam, memamerkan barang produksinya, dan dipertemukan dengan investor-investor yang siap membantu mendanai. Melalui acara seperti ini, bisa lahir entrepreneur-entrepreneur muda dari setiap kampus.

Pentingnya Media Dalam Pembelajaran

Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru atau dosen dan siswa /mahasiswanya bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien. Dari buku Sadiman M.Sc., yang berjudulkan Media Pendidikan menerangkan bahwasannya itu terjadi dikarenakan oleh kecenderungan Verbalisme, ketidaksiapan siswa / mahasiswa, kurangnya minat dan gairah, dsb.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan itu adalah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Hal itu sangat penting sekali mengingat fungsi media selain sebagai stimulus informasi, sikap dll. Juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.

Sebagai contoh dalam pelajaran Fisika. Apabila kompetensi dasar yang ingin kita capai adalah bagaimana siswa bisa mempraktekkan gaya gesekan terjadi, maka kita bisa menggunakan beberapa media yang mungkin dapat membuat siswa semakin faham dan dapat mempraktekkannya, diantaranya adalah dengan menggunakan media pembelajaran papan tulis. Karena dengan papan tulis ini kita dapat menjelaskan kepada siswa tentang materi suatu pembelajaran dengan tulisan-tulisan yang mungkin dapat membuat siswa mengerti suatu materi pembelajaran ketimbang ketika guru hanya menjelaskan suatu materi pembelajaran dengan verbalisme saja. Mengingat media papan tulis adalah salah satu media yang sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman sehingga terkesan membosankan, maka sangat diperlukan kreatifitas seorang guru agar penggunaan media papan tulis bisa menjadi menyenangkan. Baik itu menyangkut bentuk, ukuran, bahan, warna bahkan tata letak papan tulis tersebut. Karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap penglihatan siswa dan terhadap guru yang mengajar (dalam buku Oemar Hamalik, Media Pembelajaran : 1986)

Sehubungan dengan materi pelajaran Fisika dengan pokok bahasan bagaimana terjadinya suatu gaya, dalam hal ini guru bisa menulis dan menerangkan apa saja gaya yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak dalam hal ini, siswa sudah punya sedikit informasi atau gambaran tentang terjadinya suatu gaya.

Media pembelajaran lainnya yang dapat digunakan oleh guru adalah visual, yaitu berupa gambar-gambar. Hal itu mengingat kondisi setiap siswa yang berbeda-beda dalam memahami suatu materi pembelajaran. Dengan media pembelajaran visual (gambar), siswa dapat punya gambaran tentang materi suatu pembelajaran yang kemudian akan menjadi stimulus bagi siswa dalam memahami suatu pelajaran. Mengingat media visual akan dapat menvisualisasikan sesuatu yang akan atau sudah dijelaskan dengan lebih konkrit dan realistis.

Sehubungan dengan materi pelajaran, dalam hal ini adalah pelajaran fisika dengan pokok bahasan terjadi suatu gaya dalam kehidupan sehari-hari, setelah siswa tahu sedikit informasi dan punya gambaran tentang apa dan bagaimana suatu gaya itu terjadi, maka dengan penggunaan audio visual (TV – VCD), siswa akan dapat mengetahui proses yang sebenarnya yang terjadi. Sehingga kemudian diharapkan dengan tahu dan faham bagaimana proses kejadian yang sebenarnya, maka siswa akan dapat mengaplikasikannya dan mempraktekkan dalam kehidupan.

SEKOLAH GRATIS

Selama ini, isu-isu yang mengatakan tentang program pemerintah yaitu khususnya “Sekolah Gratis”, menurut pandangan masyarakat tidak ada bukti akan program tersebut pada kenyataan sampai saat ini pun. Sebagai bukti, sampai saat ini biaya kebutuhan sekolah pun masih dipungut biaya oleh pemerintah, baik di Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sebab definisi yang seharusnya mengenai “Sekolah Gratis” itu adalah program pendidikan yang mana dalam kegiatannya tidak dipungut biaya apapun. Akan tetapi pemerintah tidak mengetahui definisi mengenai nama “Sekolah Gratis” yang terbukti tidak jauh berbeda dengan istilah “Dana BOS”, Bantuan Operasional Sekolah.

Nama “Sekolah Gratis” sebaiknya di ubah, karena dapat terjadi kesalahpahaman mengenai pemahaman program tersebut antara pemerintah dengan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat dan pemerintah, masing-masing tidak dapat disalahkan. Masyarakat beranggapan bahwa dengan program yang diartikan sebagai program pendidikan yang tidak dipungut biaya apapun berarti tidak hanya masyarakat yang mampu dalam perekonomian saja yang bias melaksanakan sekolah dan menyekolahkan anaknya, akan tetapi orang yang miskin pun bisa merasakan bagaimana sekolah itu, apa saja yang diajarkan dan yang ada di dalamnya.

Bahkan dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun sebenarnya telah dijelaskan bahwa bagi masyarakat yang tidak mampu, mereka digratiskan atau tidak dikenakan biaya sampai menacapai usia wajib belajar 9 tahun.

Program “Sekolah Gratis” ini tidak jauh berbeda dengan program “Dana BOS”, karena sama-sama tidak dapat berjalan dengan baik. Program-program pemerintah tersebut hanya untuk kelengkapan politik, semata-mata untuk kebutuhan partai politik.
Pada saat akan diselenggarakan pemilu Presiden 2009, gemparnya iklan-iklan di berbagai stasiun televisi mengenai program baru (Sekolah Gratis) dari pemerintah dalam memajukan mutu pendidikan di Indonesia untuk memperindah visi dan misi pemerintah, sehingga masyarakat percaya. Tetapi pada kenyataannya program tersebut tidak berjalan sesuai dengan bagaimana mestinya. Terlihat dari bukti, setelah Pamilihan Umum Presiden tahun 2009, iklan yang sering muncul di semua stasiun televisi di Indonesia, tiba-tiba seakan-akan di telan Bumi, artinya tidak ditayangkan kembali atau lenyap dari tayangan iklan di televisi.

Dari bukti inilah, masyarakat langsung memberikan kritik dan pro kontra mengenai program “Sekolah Gratis” yang dibanggakan oleh pemerintah. Selain itu dari system penyaluran dana BOS untuk seluruh sekolah di Indonesia, tidak adanya komisi atau lembaga tertentu sebagai pengawas yang dilibatkan untuk mengawasi penyaluran dana secara khusus, akibatnya terjadi penyimpangan.

Diharapkan pemerintah betul-betul melaksanakan program yang telah dibuat dan diberitakan pada masyarakat, sehingga masyarakat bias menghormati kaum atas (pemerintah), dan yang lebih penting dapat mensejahterakan mutu pendidikan dan perekonomian di Indonesia.

Sumber : SuaraPembaruan, Jumat, 25 September 2009.

Chii-Es

Dengan tergesa-gesa, Tetsuya lari di tepi trotoar dekat dengan restoran KFC yang memang berseberangan dengan sekolahnya. KFC yang jual ayam goreng, kentang goreng, es krim dan berjubel makanan ala anak muda sekarang,…masih tutup bego’? makanan aja yang diomongin, si Tetsu kita kemanain???
Pagi ini Tetsuya telat, jam sudah nunjukin 07.15. Panggil ajah Tetsu.Dia telat 30 menit Bro..dasar bocah edan. Ngapain aja semalam. Semalam Tetsu abiz ngelembur tugas liat “bokep” yang dia dapet dari hasil download di internet. Hohooho…keren abiz, tapi jangan di tiru yach… (>_<) . Eeh, tokoh utamanya bukan Tetsuya, dia hanya public figuran ajah.Inilah cerita sebenarnya.
Namanya Chiihiro Rou, tapi dia lebih populer dipanggil Chii-Es. Katanya sih…, Chii sangat tertutup dan misterius, kadang lembut, kadang cuek, dingin dan sombong, itulah kenapa dia dipanggil dengan nama Chii-Es, yang artinya Chii sedingin Es. Brrrrr…

Di sekolah, SMA Negeri 38, Jakarta-Timur.

Ini dia public figuran saatnya nongol lagi. Hehehe… Dalam keheningan kelas, terdengar suara goresan spidol ke whiteboard, angin yang berhembus dalam keheningan kelas dari AC, dalam detakan detik jam tepat pukul 07.15, tiba-tiba terdengar suara langkah seribu kaki, dan membuka pintu kelas tanpa ketuk pintu. Gag sopan yach… “Creeek..!!! bloom!”. Diliatnya sosok siswa yang paling terkenal dengan pahlawan kesiangan, karena memang bener-bener kesiangan bangunnya, bukan istilah yang halus dalam sastra Indonesia.
Dengan terengos-engosnya sambil mengelus dada, dia pikir dia selamat dari maut Mr. Evil’s in school, namanya keren-keren mua yach… Di sekolah dia dipanggil Mr. Evil’s in school oleh semua siswa karena dia terkenal dengan sosok guru yang sangat garang dan ditakuti oleh para muridnya, dilengkapi dengan hardware kumis yang tebal. Kita kembali ke Si Engos-engos. Setelah dia menoleh dengan perlahan ke belakang untuk segera duduk di bangkunya dan menikmati sejuknya AC, ternyata muncul sosok Mr. Evil’s in school, dengan santainya eeh..dia malah tersenyum manis seraya orang yang gag punya dosa.Tak taunya murid itu adalah si Tetsuya.
“Maaf mister saya terlambat, hehehe…”
“Hmbmm..!! mistar mister, cengar-cengir, maaf maaf, terlambat! Terlambat kok 30 menit !, Ngapain saja ?!!! “ garangnya Mr. Evil’s.
“Panjang banget pembukaan UUD-nya…” ujar Tetsu dengan lirih.
“Apa yang kamu bilang!!“ ukh…gurunya garang banget nih…tapi emang dibuat gitu.
“Anu mister, saya terlambat karena bangun kesiangan..”
“Kenapa bisa?!!”, tegasnya Mr. Evil’s. Kemudian dengan polosnya Tetsu menjawab, “Abiz Ngelembur tugas liat Bokep..”. Teman-teman sekelas tertawa terbahak-bahak, sampai ada yang batuk-batuk segala, sampai yang mau muntahpun juga ada, ihh…jorok!karena kepolosan si Tetsu raja Bokep.
“APA!!”, sahut mister, “Eeh, salah…”, lirih Tetsu. “Maaf mister saya salah ngomong, bukan gitu maksud saya, tapi yah ada benernya juga…hehehe,saya terlambat karena tadi ban motor saya meletus mister..”, terang Tetsu.

“Meletus? Meletus balon hijau! Bokep aja di tong pikiranmu, mana bisa Negara Indonesia menjadi Negara yang maju, yang kaya akan SDA dan SDM. Kalau semua bokep aja mana bisa Negara kita bisa mengembangkan SDM-nya, masa jalan ditempat aja Negara kita?!Sedangkan Negara Jepang sudah jalan tegak seperti orang yang sedang Paskibra.Duduk !”, perintah Mr. Evil’s.
“Bla..bla..bla.., cerewet mulu ni mister kayak tante-tante ajah yang cerewet..huftt… (=_=), tapi aman dah..”, ujarnya lirih.

Biasanya jika Mr. Evil’s dalam keadaan buruk (kayak cuaca ajah) bisa-bisa muridnya d suru keliling lapangan basket sebanyak 5X buat cowok, 3X buat cewek, atau malah selama pelajaran Mr. Evil’s sampai bel pulang berbunyi untuk berdiri dan memberi hormat d depan tiang bendera (masih berlaku yah masa aktifnya hukuman ini).

Ukh..tapi si Tetsu duduk di sebelah Chii yang pinter dan tampan.. (>_<). Kok heboh ndiri aku ini, masih belum kelar tau ceritanya!.

Tetsu duduk disebelah Chii sambil cengar-cengir hobinya. “Hehehehe…”, kata Tetsu, “Gak lucu”, balas Chii. “Wey, gak sampai segitunya..,sabar napa sih? Kayak temen kita tuh yang namanya Sabar”, sahutnya. (Nambah berita yach, maaf Sabar, namamu terpublikasikan di ceritaku..(^.^)v peace…)
“DIAAMM..!!! Ini sedang ajang mencari ilmu, bukan ajang nyiarin Radio. Sekarang diam dan perhatikan di depan, Tetsu dan Chii !”, Mr. Evil’s bicara.
“Ya, pak..”, sahut mereka dengan kesal.

Chii bukan seperti itu, ini ada kisahnya.

Dulu Chii adalah sosok murid yang tampan, keren, pinter, baik, lembut, suka membantu temannya, dan yang lebih lagi dia punya segalanya, apapun bisa didapatnya dengan uang hasil jerih payah kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja di salah satu Perusahaan Yakuza di Tokyo, Jepang, yang mana merupakan tempat penjualan pakaian, model rambut dan asesoris ala gaya Harajuku yang terkenal saat ini di Jepang, para kalangan muda. Sedangkan ibunya bekerja sebagai wanita karier sebagai marketing d salah satu Perusahaan ASTRA di Jakarta.

Ayahnya berasal dari kota Shibuya, Jepang. Sedangkan ibunya orang asli Indonesia, mereka bertemu saat di Kuta, Bali.Saat ayahnya berlibur dengan keindahan alam pantainya, pantai Kuta, Pulau Dewata Bali. Kemudian beberapa tahun mereka menetap di Jakarta.

Chii sejak lahir sampai saat ini, dia hidup dalam serba kecukupan, apapun bisa dia perolehnya dengan mudah, sampai luber deh…hehehe.. Dan pada saat itu pula, gejolak dalam kehidupan Chii terjadi..Bagaimana bisa?? Bisa ajah deh…
Menurut cerita yang Gue buat, pada saat awal masuk menjadi seorang sosok remaja yang duduk di bangku SMA, dengan suka cita yang paling berkesan dengan penuh kasih sayang, dari seniorku sampai penulis yang ngRasain sendiri, bahkan juniorku-pun juga bilang gitu. Tapi, hal itu malah gag didapat oleh si Chii.
Di saat butuh pengawasan dan pengarahan dari orang tuanya, Chii mengalami banyak problem. Kedua orang tua yang sibuk akan pekerjaan masing-masing, ayahnya yang jarang ke Indonesia, dan ibunya yang jarang akan memberikan kasih sayang pada Chii karena sering pulang kerja malam. Ukh…Kasian banget Chii-kun (T.T), hmmm…kalau baca jangan ampe seriuz gitu…hehehe..

Sejak kecil sampai lulus di bangku SMP, Chii bisa mendapatkan kasih sayang itu. Di bangku SMA kini tidak ia dapatkan. Selama 3 tahun yang lalu, Chii mempunyai 4 teman yang mempunyai karakter yang berbeda-beda dan unik pula.

Nama-namanya adalah Tetsuya Hiiragi (si raja bokep), Ren (si siluman licik, tidak bisa ditebak jalan pikiran dan tindakannya, dan terlebih-lebih sering berkata pedas), Tamaki Ryu (si childish, yang penuh semangat dan berbagi keceriaan, murah senyum), dan yang terakhir Haruto (si jenius).Dari kelas VII sampai saat inipun, mereka satu sekolahan bahkan satu kelas, dan tempat dudukpun berdekatan.

Chii dulu sangat baik dan selalu membantu teman-temannya jika dalam kesulitan, terbuka, melindungi temannya.Tidak untuk saat ini. Pada bulan Oktober kedua orang tuanya mengalami problem sehingga Chii menjadi mengurung diri, masalah ini disebabkan karena jarangnya komunikasi dengan keluarga sendiri akan kesibukan profesi masing-masing serta ke-Egoisan mereka.

Dia di sekolah saat itu menjadi sedikit berubah menjadi pendiam dan menjadi di marahin gurunya tidak hanya Mr. Evil’s in school aja, tetapi semua guru-guru. Tetsuya, Ren, Ryu dan Haru-pun merasa tidak biasa dengan karakter Chii pendiam, dan tidak pernah mau menceritakan bila ada problem dalam keluarganya. Sehingga teman-temannya berpikir jika Chii sedang sakit saja.

Tapi hari demi hari bahkan dah dalam hitungan bulan Chii makin menyendiri dan menjadi orang yang cuek, terkadang baik, terkadang jadi orang yang kasar, tidak punya aturan dan rem pengendali emosi…hmm.. (>_<)*! Emosi punya rem juga yah,,kayak kendaraan ajah..tenang Bro, semua jalan cerita gag hanya standar menyedihkan gini ajah, tapi juga ada solusinya (^_^) jangan jenuh yah buat nerusin baca cerita ini.
Tepat pada saat Chii ultah pada tanggal 18 April, yang harusnya mendapatkan ucapan selamat dan kado terindah dari ortu dan para sohibnya, yang ada malah ia mendapatkan hal yang membuatnya dia down, ortunya hendak bercerai dan apalagi Chii merupakan anak tunggal. Masih perlu dukungan dan arahan dari kedua orang tuanya, tapi malah harus memikirkan masalah keluarganya, dan dipersulit mengenai pilihan yang harus dia putuskan jika perceraiannya sukses.

Atas keinginan dan kesepakatan kedua orang tuanya, selama Chii masih duduk d bangku SMA, dia harus menyelesaikan sekolahnya dengan ikut bersama ibunya tinggal di Jakarta.Kemudian setelah lulus, baru ikut ayahnya ke Tokyo, Jepang, untuk menjadi penerus Perusahaan Yakuza milik ayahnya.

Lama kemudian lambat laun, sejalannya waktu dan proses perceraian telah selesai di selenggarakan, sikap Chii menjadi sangat tidak bisa di atur, lebih suka menyendiri bahkan pada akhirnya dia menjauhi teman-temannya. Ren si licik mengira bahwa Chii dah gag butuh temannya pada saat SMP dulu, menjadi orang yang sombong dan sebagainya. Pernah ditemui oleh Haru si jenius, dan Ryu di rumahnya, tetapi manusianya gag berada di rumah itu, Chii pindah, dan rumahnya sudah dijual pada orang lain.

Itupun Chii gag menkonfirmasi kepada teman semasa SMP dan seperjuangan pada waktu ujian SMP dulu. Tidak memerlukan apa itu teman. Untungnya Chii masih sekolah di SMA Negeri 38, Jakarta-Timur.Akan tetapi persahabatan mereka pecah.

Satu setengah tahun kemudian, tepat pada bulan Oktober dimana pada bulan itu kelurganya mulai terjadi problem, dan sudah gag terasa mau mendekati Ujian Nasional. Tetsuya, Ren, Ryu maupun Haru rindu dengan masa-masa kebersamaan mereka dengan Chii hingga ujian berlangsung.
Terus..kita kembali lagi dengan peristiwa dimana si Tetsuya terlambat..
Semakin seru nih jalan ceritanya..

Sebelumnya Chii berambut putih seperti perak dan sekarang dia ubah warna rambut menjadi warna coklat, dan berganti gaya rambut... ukh,,jadi makin keren deh.. (>_<) !

Setelah jam Mr. Evil’s usai Tetsu pergi menghampiri Ryu, Rend dan Haru. Ryu sebenarnya gag tega membiarkan temannya (Chii), akan tetapi ada rasa sakit hati karena menghilang dan menjauh dari teman-temannya dan tidak pernah berbagi lagi dengan mereka.
“Gila, Bro !lagi-lagi Gua kena omelan Mr. Evil’s...”, ucap Tetsu.
“Habiz lhu telatnya karena nonton bokep, parah lhu Tetsu..., apalagi asal ceplas-ceplos, makin sip ae punya temen kayak gini”, sahut Ren.
“Nyindir nih..? Gimana ya..? Asik, enak, bagus, tanpa bokep otakku gag bisa jalan, seperti halnya tanpa bensin, motor gag bisa jalan, halah kayak gag tau liat aja”, balas sindiran Ren.
“Dasar Tetsu, di otaknya Cuma penuh bokep !Ingat !bentar lagi UAN, gag baca buku malah liat yang bikin rusak ae, dah rusak tambah rusak..”,
“Huzzt, sudah-sudah kalian ini bertengkar mulu, kayak anjing dan kucing aja”, sela Haru.
“Iya...bener apa kata si jenius yang sok teong ini (>_<) hehehe..biarkan Tetsu tetap menjadi julukan seperti itu, dan Ren tiada hentinya menyindir dengan kata-kata yang gag bisa aku telen..dan aku menjadi orang yang selalu tersenyum manis, tanpa ada beban dengan punya teman-teman seperti kalian, dan para Guru dan temen-temen pada memujiku..”, kata Ryu yang bersemangat dan tersenyum manis.
“Gila dunk ! “, sahut dengan lantang Tetsu, Ren, dan Haru.
“PD banget sok manis..,”
“Gag kayak temen kita dulu yang sekarang gag peduli dengan sosok kita !, makin parah...”, sindir Ren pada Chii, “BBraAkkK..!”, Chii menghentakan tangannya pada mejanya dan pergi meninggalkan kelas karena merasa temennya tidak mengerti apa yang dia rasakan, yang ada malah Chii harus selalu mengerti teman-temannya.

Kemudian Haru merasa iba dengan Chii yang sepintas ia lihat dengan wajah yang berantakan yang sedang dalam problem.

Gag terasa bulan Desember segera abiz, dan sebentar lagi pergantian tahun. Detik demi detik waktu Ujian pun semakin dekat. Haru ingin sekali mengetahui apa sebab Chii menjadi berubah. Pada saat pulang sekolah, Haru berencana ingin mengikuti Chii.Tetapi dapat sedikit halangan dari teman-temannya.
“Mau kemana, Haru..!”, teriakan Tetsu saat sedang di depan pintu gerbang sekolah bersama Ryu dan Ren.
“Mau pulang lah, mang mau dibawa kemana...?”, papar Haru, “Mau dibawa..kemana...”, Ryu menyanyi, “Stop! Malah nyanyi, gag enak tau, karena gag bisa Gua makan”, sela Ren.
“Halah kalian ini bikin repot aja”, balas Haru.
“Repot?”, Tanya Tetsu, “Aku mau les dulu, jadi aku pulang lebih awal”, jawab Haru,
“Ealah, sok pinter deh..pake les”, sahut ren.
“Itu harus, karena kita mau Ujian, lagian kalian juga nyontek sapa kalau Ujian? Aku khan??,harusnya kalian belajar, dengan baca buku kek atau nyari informasi di internet, karena buku adalah jendela dunia”, tegas Haru,
“Dah mulai lagi dah siraman rohaninya..hehehe..bercanda, Bro”, kata Tetsu, “Tapi bukannya hari ini tanggal 31 Desember, apalagi pergantian tahun, masa ada acara Les? Gua curiga”,

Karena Haru terpojok dengan kecurigaan Tetsu, dia cepat-cepat menceritakan apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Kemudian mereka bisa memahami apa yang dirasakan Haru, karena Ryu, Ren dan Tetsu sudah satu setengah tahun lamanya tanpa adanya Chii.

Chii pun keluar dari gedung sekolahnya, mereka mengikuti dimana Chii tinggal.Mereka berencana malam ini bertanya pada ibunya mengenai perubahan Chii.Pukul 19.00, mereka berkumpul di Rumah Haru, kemudian segera bergegas ke rumah Chii, dan kebetulan saat itu Chii sedang keluar beli makanan.

Setelah sampai di depan rumah, mereka saling dorong-mendorong untuk menekan bel, mereka takut untuk bilang apa setelah pintu terbuka. Angin malam berhembus semakin terasa menusuk di tulang rusuk mereka.
“Biar aku saja, kalian ini gini aja gag berani, apalagi Tetsu, beraninya di depan layar TV dengan diputarnya film menghadapi teman kita aja malah mundur, huft..(u.u)”, papar Haru.

Dengan memberanikan diri Haru pun menekan tombol Bel.Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu.“Creeek!” sosok ibu Chii yang membukakan pintu.Kemudian mereka dipersilahkan masuk. Kemudian diceritakan apa yang telah terjadi hamper dua tahun ini.

Setelah 1 jam mendengar cerita dari ibunya, mereka sangat merasa bersalah karena Chii adalah orang yang butuh akan kasih sayang orang tua, bahkan temannya, akan tetapi mereka yang menuntut Chii mengerti temannya.
Hmm..ceritanya mau berakhir nih teman...jangan nyerah buat baca cerita ini, cemangat !

Tiba-tiba ada yang membukan pintu..ihh, suasananya serem banget yah..Ternyata Chii yang datang.Ya jelaslah, Bro. Rumahnya Cuma yang nempatin Chii dan ibunya.
Chii terkejut.

Karena teman-teman SMP dulu sampai saat ini bisa ada di depan mata dan bisa tau rumah Chii.
“Maaf Chii, kami pikir kamu melupakan dan ingin menjauh dari kita, ternyata kami tau apa yang terjadi sehingga terjadi kesalahpahaman..,” kata Tetsu
“Sama-sama Tetsu, Ren, Ryu dan Haru. Aku juga salah gag menghargai kalian sebagai sahabat sejak SMP. Harusnya gag aku pendam sendiri, tapi juga berbagi duka dengan kalian, tidak hanya suka saja”. Tutur Chii, yang telah disebut teman sekelasnya dengan sebutan Chii-Es.
“Saatnya kita kembali seperti dulu.Tanpa kehadiran teman, orang yang dekat dengan kita, kita tidak berarti apa-apa, dan apalah artinya kita hidup di dunia”, papar Ryu.

Tetsu, Ren, Chii, bahkan Haru si jenius heran dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Ryu si childish. Gag biasanya dia berpikiran meluas gini. “Terus kita kembali mengerjain Mr. Evil’s seperti awal kita kenal dengan guru di SMA kita sebagai kenang-kenangan”, tambah Ren.
“Ha..hA..ha..Ha...!”, mereka semua tertawa dalam suasana tahun baru yang penuh kebahagiaan dan awal memulai lembar kehidupan yang baru.

Ujian Nasional pun semakin dekat menanti mereka.Mereka berjuang menghadapi Ujian Nasional dengan penuh semangat perjuangan.Hari demi hari siwa kelas XII di SMA Negeri 38, Jakarta-Timur, kerap mengadakan pelajaran tambahan demi kelancaran, kemudahan dan keberhasilan dalam Ujian Nasional.

Ujian Nasional pun tiba harinya... Siswa-siswi SMA Negeri 38, dan seluruh SMA, SMK dan MA sederajat melaksakan program dari pemerintah mengenai Ujian Nasional.

Chii dan teman-temannya sudah siap untuk mengerjakan Ujian.Sebelum ujian dimulai ada-ada saja tngkah lakunya Tetsu. Dia gag bisa berpikir tanpa melihat bokep dulu...
“Yah, waktu kok tinggal 5 menit, masuk kelas, ujian, tapi Gua masih belum liat bokep new edition, belum nulis kunci jawaban yang diberikan dari SMS”, ujar Tetsu sambil menunjukan mimik kebingungan.
“Kita semua pasti bisa melewati ujian ini bila kita rajin belajar, berusaha dan gag lepas dari doa’ supaya kita lulus semua. Gag perlu nyontek lewat jawaban yang dikirim lewat SMS, bisa-bisa malah kita rugi sendiri karena belum pasti jawaban itu benar dan bukan merupaka hasil kerja keras kita sendiri..”, ceramah Chii.
“IYAAA, Chii. . .“, serentak Ren, Ryu, Tetsu da Haru.
“Cemangat !cemangat !cemangat !”, kata Ryu, “Terlalu berlebihan dan gag jelas banget, Ryu”, sahut Ren.

Waktupun cepat berlalu, pengumuman hasl Ujianpun keluar, Chiihiro, Tetsuya, Haruto, Ren dan Ryu dinyatakan lulus, dan merekapun senang. Demikianlah ceritanya..Udah ngantuk banget, Bro.. (-_-) zzZzZZz... THE END.

KEHIDUPAN KU

Bagaikan katak di ujung tanduk. Itulah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau mungkinkah bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupanku.

Lagi-lagi suara itu menggelegar, ”Ian, Cari duit sana yang banyak! Jo jadi arek males!”

Seperti biasanya sambil membawa sapu lidi, ibu menakutiku, mungkin juga siap memukulku jika aku membantahnya. Bahkan, untuk menatapnya saja aku malas. Malas karena bosan dengan segala ocehan yang menyurutkan setiap langkahku, malah tak pernah sekalipun ibu meberiku semangat tuk menjalani hidup ini.

”Yach Bu, tapi aku lagi capek. Tadi kan habis potong kayu.”

”Eh… ra enek alesan.”

Kalau sudah begini, suasana rumah seperti kayu yang sedang dibakar. Panas, hingga penghuninya ingin keluar mencari angin segar.

”Bu, saya bener-bener cape.”

“Koen ku yo, disuruh nyari duit aja ra gelem, mengko koen emange arep makan apa ?”

”Bu, kapan Ibu ngerti keadaanku.”

”Dah jo dadi arek manja. Mau pergi ngga!” Ibu mengangkat sapu dengan tatapan penuh amarah.

Tak pantas aku menyebutnya Nenek Lampir. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang telah rela mengandungku 9 bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, dan kini harus membesarkan anak cacat.

”Kenapa kalo Adi atau Duik yang sakit, Ibu pasti cemas. Ibu akan pergi ke warung cari obat. Tapi kalo aku yang sakit, jangankan tanya kenapa, malah ngomel-ngomel ngga dapet uang. Bukannya aku juga anaknya Ibu.”

”Karep mu ntu apa ? Hidup kita tu lagi susah. Apalagi koen kayak gini. Emang apa kata orang nanti. Udah miskin, punya anak cacat lagi.”

”Jadi ibu nyesel punya anak sepertiku.”

”Mana ayahmu sing penggangguran iku, ga pernah muleh.”

Aku menunduk sejenak. Apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ayah tidak peduli lagi denganku. Semua tampak asing. Mereka orang tuaku, tapi nampak makhluk dari planet lain.

”Ya, aku ngerti semuanya sekarang. Aku pergi!”

Aku berlalu meninggalkan Ibu yang masih mengangkat sapu. Ingin sekali aku berlari sekencang kilat. Tapi apa dayaku. Aku hanya punya satu kaki. Akibat kecelakaan itu. Ketika aku berlari karena dimarahi ibu, aku tertabrak mobil. Kaki kiriku diamputasi. Kini, hanya tongkat kecil sebagai teman membantuku berjalan. Melangkah, menapaki setiap kehidupan.

Teriakan ibu membuatku berpikir lebih dalam tentang kehidupanku. Aku pernah melihat jurang sedalam tiga ratus meter. Begitu mengerikan, tapi lebih mengerikan lagi di dalam rumah. Dengan gitar kecil pemberian sahabatku, Didi, sebelum ia pergi melanjutkan sekolah di tanah kelahirannya, Palembang di Sumatra ntuh, aku menjadi pengamen remaja yang malang. Anak cacat yang tak pernah diurus orang tuanya.

” Oh….kapan teriakan itu terhenti. Akankah Ibu sadar bahwa aku butuh kasih sayang bukan makian atau perintah setiap hari. Bukan aku benci Ibu, hanya saja aku sadar Ibu tak suka padaku. Kecacatanku ini terlalu membuat Ibu susah,” pikirku.

Aku menelusuri jalan-jalan. Menerobos keramaian kota. Dengan lagak pengamen, aku bernyanyi lagu tentang keceriaan seorang anak bersama orang tuanya. Aneh, semua lagu bertemakan dunia bahagia. Sedangkan keadaanku sebaliknya. Ini bukan pekerjaan. Tapi derita keseharian. Lihat saja penampilanku. Baju kumal yang jarang dicuci. Kalau pun sampai dicuci, tidak dengan air kran atau air sumur. Air sungai keruh telah menjadi tempat laundry bagiku dan teman-teman seperjuangan. Memang bajuku dicuci, tapi malah semakin kumal akibat lumpur sungai yang melekat menutupi pori-pori kain. Lain lagi dengan tubuhku. Badan kurus kering bagaikan anak kekurangan gizi. Tak khayal, banyak julukan untukku akibat bentuk tubuh ini. Kadang teman-teman memanggilku Cungkring, Garing, atau Krempeng. Aku menerima saja. Kalau dibilang marah. Aku sungguh terhina dengan julukan itu. Akan tetapi, jika dilihat dari keadaanku, memang begitu keadaannya.

Temanku banyak mengamen di bus-bus yang lewat. Berbeda denganku. Aku hanya keliling sehingga uang yang kudapat lebih sedikit. Bagaimana mungkin aku akan naik bus. Berjalan saja sudah sulit apalagi pakai tangga segala. Aku tahu pasti ada orang yang membantu. Tapi apakah kita harus selamanya bergantung pada pertolongan orang lain. Padahal, kita masih sanggup mengerjakannya sendiri. Sepreman-premannya orang pasti mereka punya rasa kemanusiaan bagi sesama. Apalagi untuk anak sepertiku.

Tibalah aku di depan rumah mewah. Menyanyi semerdu mungkin agar orang yang mendengarnya merasakan apa yang ingin kusampaikan. Meski sebenarnya lagu itu hanya untuk menyemangati hidupku yang sedang galau.

Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini…

Melakukan yang terbaik…

Jangan menyerah… jangan menyerah… jangan menyerah… ooooo..ooo..

Tiba-tiba seorang pembantu rumah tangga keluar lewat samping rumah. Ia memberiku dua keping lima ratusan dan sebungkus nasi. Namanya adalah bi Inah, pembantu rumah tangga yang ku kenal. Setiap kali aku ngamen di depan rumah mewah nich.

* * *

Sambil makan, aku mengkhayal tentang dunia impian. Menjelajahi naluri seorang manusia. Berimajinasi setinggi mungkin. Adakalanya, mimpiku terlampau tinggi. Ini membuatku tersenyum sesaat. Lalu kembali ke dunia nyata. Aku sadar bahwa itu bukan duniaku sekarang.

”Seandainya ibuku mengerti perasaanku, pasti aku akan betah tinggal di rumah. Sekolah, bukan ngamen. Cukup belajar dan belajar,” khayalku mulai bergerak cepat.

Tiba-tiba, ”Wei, Ian, dari mana aja sich lu! Dapet duwit berape? Wah, makan siang nih!” kata Iben, membuyarkan semua lamunanku.

Khayalanku hilang seketika. Gertakan Iben membuat suasana sepi menjadi ramai. Iben langsung saja menyantap makanan ku. Ia memang seperti itu. Walau kelakuannya kadang kurang mengenakkan, tetapi hatinya sangat mulia. Apalagi dengan temannya yang sedang tertimpa musibah. Dia berbeda nasib denganku. Hubungan dengan orang tuanya sangat dekat. Sekarang Iben berumur 18 tahun. Ia duduk di kelas 2 SMA Nusa Bakti. Iben mengamen hanya untuk bermain. Sedangkan bagiku, mengamen adalah mata pencaharian. Kalau sedang malas ngamen, aku jualan koran atau jadi tukang bersih kaca mobil di jalanan.

Tanpa cuci tangan, Iben langsung menyantap semua makanan. Tak peduli ada kotoran atau tidak yang menempel. Padahal, ia selalu bermain di jalanan. Entah berapa kali ia sakit perut gara-gara ulahnya ini. Walau mulutnya penuh dengan nasi, tetap saja ia menyempatkan diri untuk ngobrol.

”Lu dapet berapa jute nich hari?”

”Dikit, nih cuman 4000.”

Tangan Iben menyodorkan uang 10.000 untukku. Kebisaannya ini paling kubenci. Aku tahu, aku memang sangat butuh uang, tapi tidak mungkin aku tega mengambil hasil jerih payahnya seharian.

”Buat lu.”

”Apaan nich. Ga’ usah.”

”Gue marah nich kalo ngga mau.”

”Ben, lu lebih butuh nich duit buat sekolah.”

”Bokap gue ga bakalan buat gue kelaperan.”

”Ah masa. Ko makannya lahap gitu. Jangan-jangan lu ngga dikasih makan ma ortu lu.”

”Sapa bilang? Gue emang lom makan tadi pagi. Tapi bukan karna gue ga dikasih makan. Gue tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan.”

”Trus napa ga langsung pulang ja? Malah ikut ngamen segala.”

”Buat ketemu elu. Emang ga kangen, kalo gue ga ada.”

”Kangen nenek moyang lo!”

”Ni ambil !” Iben menyodorkan Rp.10.000,- ke arahku.

”Lain kali aja lah Ben , klo’ gue butuh uang. Lu tabung lah dulu.”

”Ya udah deh. Gue ngga maksa. Tapi klo’ lu butuh, ngomong ke gue ye.”

“Okelah. Wah, dah sore, gue cabut dulu.”

“Hati-hati.”

”Da…”

Aku pun meninggalkan Iben yang masih makan. Sebenarnya aku ingin menceritakan masalahku dengannnya. Namun, aku berusaha hidup lebih dewasa dalam masalahku sendiri. Tak tahu kapan badai ini surut. Aku hanya yakin, aku bisa hadapi semua.

-Tamat-

Non Fiction
by: ifa [091024015]

HOME SCHOOLING

Homeschooling adalah istilah yang relatif baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan masyarakat awam banyak yang belum mengenal istilah ini. Istilah-istilah lain yang digunakan untuk menyebut homeschooling antara lain school at home, home education, home-based learning, dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Nasional adalah Sekolah Rumah. Istilah ini juga digunakan oleh asosiasi yang bernama ASAH (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia).
Dalam bahasa umum, homeschooling adalah model belajar yang digunakan orang dewasa untuk mendapatkan informasi atau keterampilan sesuai dengan kebutuhannya. Homeschooling juga bisa disebut sebagi belajar mandiri alias belajar otodidak, walau banyak yang menyebutnya sebagai “sekolah rumah”.
Alasan-alasan orang tua memilih homeschooling antara lain:
Ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak.
Tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah regular.
Sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan.
Merasa keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak.
Menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak.
Merasa sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau.
Anak-anak memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhu di sekolah umum.
sistem yang ada tidak medukung nilai-nilai keluarga yang dipegangnya.
merasa terpanggil untuk mendidik sendiri anak-anaknya.
Alasan lain orang tua menerapkan homeschooling adalah keinginan untuk memberi kebebasan kepada anak-anak mereka tentang hal-hal yang ingin dipelajari lebih banyak sesuai bakat dan minat masing-masing. Namun homeschooling mempunyai konsekuensinya, yaitu orang tua harus benar-benar mendampingi anak dalam proses belajar.
Salah satu kelemahan sekolah rumah, yaitu anak agak sulit membedakan peran orang tua sebagai guru dan sebagai ayah-ibu. Jika orang tua tidak konsisten menekankan jadwal belajar, akan menyulitkan anak dan orang tua. Terlebih lagi bila sebelumnya anak sudah bersekolah secara formal. Hal ini bisa menciptakan kondisi yang berbeda. Suasana rumah bisa membuat anak merasa bebas karena tidak ada aturan yang mengikatnya seperti di sekolah formal. Kelemahan lain dari sekolah di rumah, yaitu kurangnya sosialisasi anak dengan teman sebayanya. Di sekolah formal anak bisa bertemu banyak orang dengan karakter dan budaya yang berbeda. Di sekolah formal anak juga lebih banyak kesempatan untuk belajar tentang rasa toleransi dan bagaimana bersikap pada teman.
Kelebihan homeschooling antara lain:
sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah formal.
Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
Lebih siap untuk terjun di dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
Sementara kekurangan dari homeschooling adalah:
Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua.
Sosialisasi seumur relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim, organisasi, dan kepemimpinan.
Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 27 ayat (1), menyebutkan: “Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.”
Lalu pada Ayat (2) dikatakan bahwa: “Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.” Jadi, secara hukum kegiatan persekolahan di rumah dilindungi oleh undang-undang.
Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).

DAFTAR PUSTAKA

Abe Saputra. 2007. Rumahku Sekolahku. Graha Pustaka.
Internet

Cerpen
by: ifa [091024015]

DI UFUK TIMUR CINA

Menggenggam erat bara panas masih sangat terasa disetiap telapak tanggannya ketika ia melihat beberapa kolom berita yang termuat di surat kabar yang tercecer di halaman masjid yang baru ia pungut.
“Tak berguna sama sekali para tikus-tikus itu, tahunya hanya bisa menjilat koin-koin hidup rakyat kecil. Memangnya dulu mereka tidak disekolahkan apa?” terlihat jelas logat medok Jawa yang diucapkan lelaki bertubuh kecil namun tinggi itu dengan suara yang agak serak-serak basah.
Tetapi terdengar suara sahutan yang kurang enak didengar oleh telinga Sabdo yang sedang asyik-asyiknya memungut koran-koran yang ada disekeliling halaman masjid “Al-Istiqomah”.
“Oalah yo Sabdo-Sabdo. Sampeyan itu tahu sendiri kan, kalau kita itu mana punya andil ikut campur dalam urursan gitu-gituan. Lha wong buat cari makan sehari-hari saja susuahnya minta ampun, malah sampeyan ikut campur urusan orang lain. Yang kayak gini ini, baru dinamakan rezeki kita”. Sambil Teno menunjuk tumpukan-tumpukan sampah yang akan ia loakkan ke pedagang rongsokan sampah.
Sepertinya Sabdo tidak mendengarkan ucapan yang barusan diucapkan Teno tadi. Terlihat Sabdo tetap membaca selembar koran yang masih ia pegang kuat-kuat sembari tangan kanannya yang terlihat kurus panjang itu memungut bungkusan-bungkusan makanan yang tercecer sembarangan. Mungkin tadi malam di masjid ini baru saja mengadakan pengajian akbar, dan para undangannya tidak dapat barisan paling depan, sehingga duduk di halaman teras masjid sambil menggelar lembaran koran. Sudah terlihat jelas kebiasaan para undangan pengajian setelah acara, koran-korannya dibiarkan begitu saja menjadi sampah. Tapi itulah yang membuat Sabdo dan Teno hidup. Karena dari situlah mereka bias mengais rezeki
******
“Baca apa sih sampeyan itu? Kayak orang teges saja!!!” sindir Teno.
“Justru dari sini saya bisa mencari uang, jadi pintar daripada sampeyan yang bangga dengan pekerjaan sampeyan yang mana selamanya belum tentu bias mencukupi kebutuhan sampeyan tapi sampeyan malah bangga”.
Begitu mendengar ucapan dari Sabdo, Teno hanya menjawab dengan tawa yang terbahak-bahak, mengira semua ucapan Sabdo hanyalah bualan semata. Mana mungkin orang mikir seperti mereka, bias berbicara seperti itu kalau tidak “GILA” namanya. Darimana orang kecil seperti mereka bisa hidup kalau tidak mengandalkan sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat, kemudian mereka punguti dan menjualnya ke tempat loak.
Berbeda dengan pemikiran Sabdo. Lelaki muda, tampan, tinggi, dan kurus itu berpandangan lain. Selagi kita masih hidup dan bias belajar. Semua yang ada di alam ini bisa dijadikan uang. Tuhan member kita otak yang mana seharusnya bias digunakan untuk berfikir, mengolah sesuatu yang ada di ala mini untuk dijadikan uang. Otak kita juga diberi kemampuan belajar untuk membuat suatu penemuan baru yang nantinya dapat bermanfaat bagi keselarasan umat manusia. Itu semua dapat diperoleh melaui menuntut ilmu sehingga mungkin dan bekerja keras. Bukan hanya dengan selalu menunggu rezeki untuk datang. Justru rezeki harus kita kejar.
Mungkin pemikiran Sabdo terlihat sangat konyol dan bersifat menghayal jika melihat status sosial yang dimilikinya. Lelaki miskin yang tidak punya apa-apa, cuma seorang ibu yang sakit-sakitan.
“Saya pingin sekolah lagi” terdengar suara sendu dengan nada harapan.
“Sampeyan ini gimana toh, ingat ibu sampeyan yang ada dirumah itu, sedang sakit-sakitan. Eh malah sampeyan pingin sekolah lagi. Bukannya kerja keras, mikirin bagaimana punya uang banyak supaya ibu sampeyan cepat sembuh, malah pingin sekolah lagi. Lha emangnya sekolah itu gak butuh duit opo??”.
Tanpa banyak memberikan jawaban dari ucapan Teno tadi, Sabdo yang menumpuk koran-koran bekas hasil pungutannya yang ia jual di tukang loak hanya bisa mencibir, “Justru dengan saya mengenyam pendidikan kembali, saya akan mudah memperoleh pekerjaan dan dapat banyak uang.”
Mungkin terlihat sangat sulit jika Sabdo ingin mengenyam pendidikan kembali. Melihat perekonomian Sabdo yang terbilang pas-pasan bias makan dua kali sehari itu saja sudah sangat beruntung. Belum lagi untuk biaya berobat ibunya yang sudah setahun ini terjangkit TBC. Tapi dalam lubuk hati Sabdo, dia pasti bisa mengenyam pendidikan lagi. Meneruskan bangku kuliahnya yang sempat tertunda oleh himpitan ekonomi. Sabdo hanya Cuma lulusan SMA yang tinggi cita-citanya. Sabdo juga termasuk siswa yang pandai di sekolahnya dulu. Sabdo percaya bahwa denga tekad yang kuat disertai kerja keras, dia bakal jadi orang sukses seperto harapan ibunya. Hal apa yang tidak indah selain harapan seorang ibu yang ingin melihat anaknya berhasil di segala bidang.
“DO……. Sabdo!!!” suara teriakan dari seberang jalan sana terdengar sangat keras agar terdengar oleh lawan bicaranya diseberang sana.
“Ada apa?” suara tersebut dijawab dengan nada yang keras.
“Ibumu sakit, batuk-batuknya makin tambah parah!!! Cepatlah pulang, kasihan ibumu. Daritadi dia mencarimu. Cepat!!!”
Tanpa berpikir panjang Sabdo langsung berlari meninggalkan tumpukan koran yang ia kerjakan
******
“Sebaiknya ibu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian…… Ibu kan sedang sakit, biar Sabdo yang mengerjakannya Bu….”.
“Kamu anak yang baik nak, janganlah sia-siakan hidupmu hanya untuk memungut sampah. Manfaatkan ilmu yang diberikan Gusti Allah kepadamu untuk kepentingan orang banyak nak…. Ibu akan pergi dengan senang jika kau bisa mengenyam kembali pendidikanmu”.
“Sssst…. Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu pasti sembuh. Doakan Sabdo agar mendapat yang terbaik Bu….. Restu ibu yang Sabdo minta”.
“Doa ibu menyertaimu nak!!!”
Tanpa ada suara dan helaian dari sang ibu, Ibu Supiah wanita separuh baya yang dulunya seorang pegawai kantor yang di PHK dan ditinggal cerai oleh sang suami karena pergi dengan wanita lain, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
“Innalillahi Wa Innaillaihi Rajiun………”. Sabdo hanya bias melantunkan Lafadz kesedihan tersebut mencium kening sang ibunda tercinta.
surga dibawah telapak kaki ibu. Tiada lantunan yang indah selain selain lantunan suara ibu. Tiada sentuhan yang hangat, selain sentuhan ibu. Tiada lagi tempat merebahkan pilu dan penat selain di pundak ibu. Sabdo merelakan kepergian ibunya dari dunia fana ini.
******
Dia terlihat tegar dan ikhlas dalam pemakaman ibunya. Tapi dalam hati, dia tampak terpukul dan tidak rela. Seakan Tuhan tidak adil dan dunia begitu kejam.
“Mengapa Tuhan itu gak adil ya??” sambil melumat pisang goring panas yang baru keluar dari wajan penggorengan Ning Sri.
“Ngomong opo toh sampeyan? Sampeyan belum ikhlas atas kamatian ibu sampeyan?” sambil tertawa renyah.
Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan hambaNya. Dan semua pasti ada akhir yang indah.
******
etiap kali dia berjalan menyisiri tumpukan-tumpukan yang dilihatnya, dia berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Sabdo jarang bekerja lagi, mungkin bahkan tidak sama sekali. Dia lebih senang menyendiri menghabiskan hari-harinya dengan melamun. Tapi dalam hati orang sapa tau. Sabdo memang berbeda dari yang dulu. Dia mungkin banyak menyendiri, tapi kesendiriannya itu melamunkan sesuatu yang tidak biasa. Dibawah pohon mangga dia bersandar disamping ranting-ranting sambil menghayal tentang sesuatu.
“Aku memang miskin, pendidikanku sampai SMA, aku yatim piatu, tidak punya status social, tapi aku tidak mau di anggap remeh. Aku harus jadi orang, yang mana hidupku bias bermanfaat bagi setiap orang.”
Tiba-tiba selembar koran melayang dan menampar pipinya. Beritanya lagi-lagi tentang Bank Century. Matanya langsung terbelalak ketika melihat berita tersebut di media cetak. Wajahnya seketika ceria seperti Albert Einshen yang tatkala hidupnya berhasil menemukan rumus matematika. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melompat turun dari atas pohon mangga tanpa memperhitungkan keselamatannya. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju komplek kumuh rumahnya.
“No…. Teno….. Aku berhasil No….. Aku tau apa yang harus aku lakukan”, terus berlari tanpa memperdulikan sekeliling orang lalu lalang di depannya.
Tapi orang-orang berpikiran aneh tentangnya, mereka berpikir bahwa Sabdo telah “gendeng” alias tidak waras. Mungkin karena depresi akibat musibah yang menimpanya bertubi-tubi belakangan ini.
Sabdo menemukan sebuah cara bagaimana sampah-sampah yang ada di sepanjang komplek ini selain bisa di olah menjadi limbah, juga bisa menghasilkan uang. Maka dari itu, dia segera membicarakan ide-idenya itu dengan Teno.
“Bank sampah??? Apa itu??” Tanya Teno keheranan.
“Bank yang mana orang-orang menjual sampah-sampah yang dikumpulkannya untuk ditukar dengan uang”, jawab Sabdo menjelaskan kepada Teno.
“Apa bedanya dengan tempat rongsokan yang kita datangi setiap harinya itu?”, Tanya Teno lagi.
“Beda. Di Bank sampah setiap orang juga dapat meminjam uang disini”.
“Oh, saya tau maksud sampeyan. Jadi, kita menjadi pelopor dari berdirinya gerakan Bank sampah ini? Untuk membantu orang-orang disini dengan sampah itu?”. Kata Teno sambil bergaya layaknya orang yang memberikan pidato atau ceramah di gedung DPR.
Akhirnya Teno dan Sabdo mulai merencanakan dan menjalankan rencana-rencana dan ide-ide dari Sabdo tersebut. Mereka mulai membangun tahap demi tahap. Awalnya pemikiran mereka tidak diterima oleh masyarakat sekitar. Mereka berpikir bahwa Teno dan Sabdo sudah gila. Mana mungkin seorang yang tanpa pendidikan, miskin, bodoh, dan tidak punya uang, bisa berbuat hal senekat itu dengan membangun bisnis kecik-kecilan.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Lama kelamaan orang-orang mulai percaya dengan bisnis mereka dan banyak pula orang membantu mengembangkan bisnis mereka. Orang-orang disekitar pun mulai tertolong dengan adanya Bank sampah. Mereka juga tidak perlu lagi susah payah jika mengalami kesulitan uang ataupun tidak punya uang mereka bias meminjam di “Bank sampah”.
Sampai pada suatu hari ketika berita adanya bisnis “Bank sampah” yang dikelola Sabdo dan Teno terdengar ditelinga Arga. Arga adalah seorang businessman dalam pengelolaan dan produksi barang-barang bekas yang cukup terkenal di tengah kota. Dia meneruskan usaha ayahnya yang telah tiada itu. Arga penasaran dan tertarik oleh bisnis “Bank sampah” yang dipelopori oleh Sabdo, yang mana bisnis itu bias berkembang pesat dan membantu masyarakat yang ada di sekitar komplek kumuh itu.
Senja kala datang waktu itu. Mendung gelap sedikit menghimpit mega yang wajahnya memerah. Matahari pun akhirnya kembali keperaduannya. Arga memutuskan mengunji komplek tersebut. Sepanjang perjalanan, dia berpikir, melamun sejenak. Di depannya sudah terdapat laptop yang menyala, disamping kanan kirinya TV LCD dan DVD tersedia demi kenyamanan.
“Seperti apa orang itu? Nekat sekali dia membangun usaha seperti itu. Sepintar apakah dia?”. Arga berbicara dalam hati sambil masih penasaran.
“Kalau usaha kita begini terus Do, kita bakal jadi orang kaya. Dan sampeyan bisa sekolah lagi seperti yang sampeyan pinginin”, Teno berbicara sambil menghitung uang hasil keuntungan dari “Bank sampah”.
“Saya pingin belajar dulu No….”, jawab Sabdo sambil menyeruput air the yang ada di dalam cawan biru tua.
“Saya ingin mengajar anak-anak di sekitar sini”.
“Oalah Do…… Do…., laha wong usaha ini belum selesai, minta usaha lain lagi. Sampeyan ini gimana-gimana yang ini dijalani dulu baru yang satunya”, Teno keheranan.
“Saya gak bilang kalau ini usaha. Tapi saya Cuma ingin mengajar. Kasihan mereka, seharusnya jadi orang-orang yang pintar dan berhak mengenyam pendidikan. Biar ibu pertiwi bangga pada mereka”, Sabdo menjelaskan dengan tegas.
Heran mendengar ucapan sabdo tersebut, lalu Teno mengacuhkannya, “Ya…. Terserah sampeyan sajalah!!”
Angin malam berhembus lumayan kencang saat itu. Sepertinya malam ini nampak kurang bersahabat dengan Sabdo. Dan dia juga merasa kalau dari tadi ada yang mengikutinya dari belakang.
“Kamu Sabdo?” suara dari seorang pria yang tinggi, tampan, kulit putih, dan berpakaian sangat rapi.
“Anda siapa?” seperti terbelalak mata Sabdo.
Karena tidak ada seseorang dengan penampilan dan gaya seperti itu bisa masuk ke perkampungan kumuh seperti itu.
“Aku Arga, aku ingin menawarkan bisnis padamu” ajak Arga tanpa basa-basi mengutarakan maksud kedatangannya.
Sabdo mulai berpikir. Ini adalah salah satu jalan untuk peluang kerjanya agar dapat lebih berkembang lagi dengan bergabung sebagai partner dalam satu tim kerja. Tapi Sabdo malah bingung, kenapa orang kaya itu memilih dia yang miskin dan hanya tamatan SMA saja.
“Dalam berbisnis, kita tidak boleh memilih derajat atau status sosial, yang penting bakat, kemauan, dan semangat juang yang tinggi, itu yang lebih penting. Kalah atau rugi itu sudah biasa. Sudah aku perhitungkan”, Arga menjelaskan dengan tepat.
“Baik, aku setuju. Aku terima tawaranmu” saling berjabat tangan dengan tekad yang bulat.
Arga dan Sabdo mulai menjalankan bisnis mereka. Lambat laun, usaha yang mereka bangun dan bina bersama, berkembang pesat dan mengalami prospek kerja yang memuaskan. Tono juga ikut membantu tercapai suksenya bisnis Sabdo selama ini.
Akhirnya dengan perjuangan Sabdo, dia dapat melanjutkan pendidikannya, bahkan kuliah sampai ke luar negeri.
“Terima kasih Ar…. Ibuku pasti tenang di alam sana karena dapat sukses seperti ini kerenamu”.
“Bukan aku…… tapi kau sendiri. Karena kerja kerasmu dan semangat yang tanpa henti kau dapat seperti ini. Aku hanya Cuma bisa membantu”.
Mereka yang kini telah menjadi orang sukses dan berhasil saling memegang pundak satu sama lain sambil melihat indahnya matahari terbit di ufuk timur Cina, tempat mereka menimba ilmu dan menjadi orang sukses.
Sabdo tak lupa akan kampung halamannya. Setelah dia berhasil dan menjadi sarjana, dia pulang kembali ke Indonesia bersama Arga. Arga memutuskan untuk menggeluti lagi usaha ayahnya dan memperbesar proyeknya. Sedangkan Sabdo lebih memilih kembali ke kampungnya dan mengajar anak-anak yang kurang mampu disana untuk belajar. Dia teringat janji ibunya semasa hidup, bahwa dia harus jadi orang yang dapat memberi manfaat bagi orang. Apa gunanya kita hidup jika tidak dapat bermanfaat bagi orang banyak. Sabdo menyalurkan ilmu-ilmunya kepada anak-anak pemulung dan jalanan disana dengan membuka sekolah dadakan…………

TAMAT

INTERNET DAN PENDIDIKAN

Tekonologi Informasi dan Komunikasi mencakup dua aspek yaitu Teknologi Infornasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Infornasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan pengelolaan informasi. Sedangkan Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke perangkat lainnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan hal memproses, memanilpulasi, pengelolaan dan transfer/pemindahan informasi antar media.

Seiring dengan perkembangan jaman, Teknologi Informasi dan Komunikasi pun semakin berkembang pesat dari waktu ke waktu. Salah satu dari perkembangan itu adalah internet. Internet kependekan dari Interconnected-Networking yaitu rangkaian komputer yang terhubung didalam beberapa rangkaian atau bisa juga disebut dengan sistem komputer umum yang terhubung secara global atau menyeluruh di seluruh dunia sehingga kita bisa melakukan komunikasi dengan siapaun, dimana saja dan kapan saja. Internet dapat digunakan manusia sebagai alat komunikasi, penyedia informasi, fasilitas untuk promosi, dll. Sehingga secara tidak lansung telah mengubah cara berfikir atau paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak terbatas pada satu media.

Lalu apa dampak dari penggunaan internet? Apakah berpengaruh bagi dunia pendidikan? jika berpengaruh, apa pengaruh internet bagi pendidikan di Indonesia?

Internet mempunyai dampak yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia dan ilmu pengetahuan. Pengunaan internet juga dapat dipakai untuk memicu tumbuhnya tranparansi pelaksanaan pemerintahan melalui E-goverment, misalnya: Kabupaten Sragen berhasil meningkatkan pemasukan daerah dengan memanfaatkan internet untuk tranparansi pengelolaan dana masyarakat dan pemangkasan jalur birokrasi, sehingga warga daerah sangat diuntungkan, begitu pula dengan pegawai negeri sipil dapat ditingkatkan kesejahteraannya karena pendapatan daerah yang meningkat tajam. Oleh sebab itu penggunaan internet diatur dalam UU telekomunikasi tahun 1999.

Bagi dunia pendidikan internet mempunyai pengaruh yang besar karena internet mempunyai peranan yang sangat penting. Salah satunya adalah E-Learning yang dapat digunakan untuk memperoleh materi-materi bahan ajar yang diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) disekolah. Internet juga dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar jarak jauh. Contohnya: UT, dalam proses pembelajarannya melalui internet atau bisa disebut dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh. Selain itu internet juga dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengirim tugas-tugas yang diberikan oleh dosen melalui surat elektronik atau biasa disebut dengan E-mail.

Pengaruh internet bagi pendidikan bisa berpengaruh positif dan pengaruh negative. Dari sisi positif yaitu internet dapat membantu murid dalam mencari materi ajar, guru juga dapat mencari bahan ajar yang tidak mereka mengerti melalui internet. Dari segi negative yaitu siswa mungkin tidak hanya mencari bahan ajar tetapi juga membuka situs-situs yang tidak diinginkan misalnya: situs yang berbau porno. Jadi dapat disimpulkan bahwa antara pengaruh positif dan pengaruh negative internet bagi pendidikan adalah seimbang. Maka dari itu dalam menggunakan internet kita tidak hanya melihat dari sisi positifnya saja tapi kita juga harus mempertimbangkan sisi negativnya juga.