Cari

Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.

Sebuah mobil kijang buntung tahun 70an yang membawa hasil panen jagung dari desanya nekat menerobos jalanan yang sudah penuh sesak itu. Bunyi klakson beberapa kali terdengar nyaring pertanda kijang tadi sedang mencari celah untuk lewat. Beberapa pedagang marah-marah kepada si pengemudi kijang, karena jelas-jelas diujung jalan ada tanda dilarang masuk bagi kendaraan bermotor. Namun Aji tidak terlalu peduli, ia masih terus mengayuh sepadanya. Aji memang tidak tahu saat itu sudah jam berapa. Ia tidak memiliki jam tangan, dan ia juga tidak sempat melihat jam dinding waktu berangkat tadi. Tapi ia tahu apabila merah sudah menghiasi langit berarti ia sudah sangat terlambat. Kira-kira lima belas kilo meter sudah ia tempuh dengan sepada tuanya itu, berarti masih ada setengah perjalanan lagi. Sementara itu peluh sudah mulai membasahi keningnya dan asam laktat sudah mulai memenuhi persendian kakinya.

Sekolah dengan tiga ruang kelas itu terletak di desa Sumber Arum, tiga puluh kilometer ke arah Barat dari Dusun Dander. Dulu, waktu pertama kali sekolah itu dibuka oleh Bapak Camat, Aji sempat kaget melihat ayahnya berteriak-teriak kegirangan. Katanya dusun ini bakal maju, anak-anaknya bakal pintar-pintar. Dengan penuh sukacita ayah dan ibunya kemudian membawa Aji yang waktu itu masih berumur empat tahun untuk mendaftar di sekolah itu. Dan masih teringat jelas di kepala aji, pada waktu itu Bapak Kepala Sekolah Syarifuddin yang juga merangkap sebagai wali kelas 1 dan kelas 4 di SD itu tertawa geli melihat tingkah polah kedua orang tuanya itu. Kemudian beliau dengan penuh kesabaran menjelaskan bahwa mereka-mereka yang diterima di kelas 1 adalah anak-anak yang sudah bisa memegang daun telinga melewati bagian atas kepalanya.

Dan pada waktu itu, bahkan untuk menyentuh ubun-ubun pun Aji masih belum bisa. Maka dengan sangat terpaksa mereka bertiga kembali pulang dengan perasaan kecewa. Tapi hari ini, keadaan sudah berbeda. Aji kini sudah berumur 7 tahun dan tangannya sudah cukup panjang untuk menyentuh telinganya. Maka hari ini, pagi-pagi sekali ia mencium tangan keriput kedua orang tuanya mengharap restu keduanya untuk menuntut ilmu.

Aji terlambat hampir satu jam lamanya, ia berjanji besok akan bangun lebih pagi. Beruntung baginya, karena tidak ada satu mata pelajaran pun yang terlewat. Hari ini adalah hari pertama sekolah, jadi sepanjang paginya hanya dihabiskan dengan mengobrol untuk saling mengenal satu sama lain. Walaupun sebenarnya mereka sudah saling kenal satu sama lain, kecuali gurunya. Siswa kelas satu hanya berjumlah enam orang, dan seluruhnya adalah teman main Aji di ladang. Jadilah pagi itu mereka semua ngobrol ngalor ngidul tidak karuan, kadang-kadang si guru bertanya kepada salah seorang dari mereka mencoba untuk mengorek sedikit info tentang mereka. Hingga tibalah giliran Aji yang ditanya.

“Nama kamu Aji Harjamukti kan?” Sang Guru membaca lembar absen yang ada di tangannya

“Iya Pak!” Aji menjawab dengan lantang. Pengalaman pertama selalu membuat dirinya diliputi perasaan ingin tahu yang membuncah. Mungkin itu juga yang membuat dirinya begitu bersemangat hari ini.

“Coba ceritakan sama Bapak, kenapa kamu bersekolah?” Sang Guru menyunggingkan senyumnya. Kumis tipis diatas senyumnya yang simetris membuat perangainya semakin terlihat berwibawa.

“Kata Ayah, orang yang sekolah bisa jadi pintar Pak! Kalau saya pintar kan saya bisa kaya. Kalau saya sudah kaya saya mau nyumbang orang-orang miskin yang gak bisa makan di dusun saya Pak.” Aji menjawab sambil memainkan ujung bajunya yang sudah kotor terkena cipratan lumpur sewaktu tadi bersepeda menuju sekolah. Sang Guru pun mengulum senyum, ia memaklumi kalau jawaban anak seumuran aji masih sangat polos.

“Bagus, bagus.. Lalu cita-cita kamu mau jadi apa?”

“Saya mau jadi petani jagung Pak, makanya saya sekolah. Biar bisa jadi petani jagung yang pintar.”

“Iya, kamu belajar yang rajin ya, biar kamu jadi orang yang pintar. Di sekolah kita nanti akan diajari banyak hal, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan masih banyak lagi. Kamu jadi bisa tahu banyak hal.” Sang Guru mencoba menjelaskan dengan bijak.

“Pak Guru, kalau cara menanam jagung diajari di sekolah juga?” Aji bertanya.

“O, kalau yang itu harus kamu pelajari sendiri..” Sang Guru menimpali sekenanya.

“Kalau pelajaran milih pupuk ada ga Pak?” Aji kembali bertanya.

“Yang itu juga tidak diajari disini Ji,” jawab sang guru sambil mencari nama baru yang akan ia tanyai berikutnya pada lembar absen.

Rupanya si Aji kecil masih tidak puas dengan jawaban gurunya. Ia merasa sangat heran mengapa pelajaran-pelajaran yang ia butuhkan malah tidak diajari di sekolah. Bukankah sekolah dibuat agar siswanya pintar?

“Kalau cara memandikan kerbau?”

“Hahaha.. Aji.. Aji.. Belajar hal-hal semacam itu bukan di sekolah dong tempatnya, kamu ini aneh-aneh saja” Sang Guru tergelitik hatinya mendengar pertanyaan-pertanyaan bocah berumur tujuh tahun yang masih sangat polos itu.

Aji terdiam sejenak. Ia tidak mengerti kenapa gurunya tertawa begitu keras, padahal ia sama sekali tidak melucu. Baginya sangat penting untuk tahu bagaimana caranya menanam jagung, karena kelak ia ingin sekali membantu ayahnya bekerja di ladang. Dan ia juga perlu tahu caranya memilih pupuk yang baik agar jagung-jagungnya tumbuh subur. Bahkan ia juga harus belajar bagaimana caranya memandikan si Bule, kerbau peliharaan ayahnya, karena kalau tidak dimandikan sehari saja baunya sudah sangat busuk. Aji benar-benar tidak mengerti apa yang lucu dari keinginannya itu. Bukankah menjadi petani jagung seperti ayahnya dan kebanyakan orang-orang di dusun Lembung Asih adalah pekerjaan yang mulia? Pekerjaan yang dapat memberi makan bagi banyak orang termasuk juga keluarganya. Lalu mengapa pelajaran menanam jagung tidak diajarkan di sekolah?

“Pak guru, kenapa menanam jagung tidak diajarkan disekolah saja?” Aji masih bertanya, mencoba memuaskan rasa ingin tahunya.

“Karena memang bukan di sekolah tempatnya belajar menanam jagung, di sekolah itu kita belajar matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan Bahasa Inggris. Itu sudah aturan dari sananya!” Sambil tersenyum simpul Sang Guru mencoba memberikan jawaban sebaik mungkin. Ia tahu bahwa selaku guru yang baik tugasnya tidak hanya menyampaikan isi buku, tetapi juga meladeni rasa ingin tahu setiap murid-muridnya.

“Kok gak diatur supaya kita belajar menanam jagung ya?”

Sang Guru memandang lekat-lekat mata anak didiknya itu, ia tahu kalau Aji adalah anak yang cerdas. Pada umumnya seorang anak seumuran Aji tidak mempertanyakan hal-hal yang sudah jelas. Tetapi berbeda dengan Aji, anak petani jagung ini sangat senang berdiskusi, logika berpikirnya pun sudah selangkah lebih maju ketimbang teman-temannya yang lain. Ia juga mampu menganalisis persoalan-persoalan sederhana yang terkadang tidak pernah terpikirkan untuk didiskusikan oleh para orang dewasa. Kali ini Sang Guru mencoba memutar otaknya, anak ini tidak bisa lagi ia pandang sebelah mata. Ia harus menemukan sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab rasa ingin tahu si anak petani jagung ini.

“Aji, begini ya.. Pelajaran apa yang harus diberikan disekolah semuanya sudah diatur di dalam aturan bersama yang disebut kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan itu dibuat sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia saat ini. Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS adalah ilmu-ilmu yang kita butuhkan. Pada masa sekarang ini kita tidak mampu menguasai ilmu dan teknologi yang sedang berkembang di dunia. Dan ini yang selalu menjadi masalah buat kita. Bangsa Indonesia kalau mau maju harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang saat ini sedang berkembang di dunia. Hal itu juga yang menyebabkan bangsa kita selalu miskin dan kelaparan. Banyak orang-orang tidak menyadari arti pentingnya pendidikan. Terkadang peraturan pemerintah pun tidak memihak pada peningkatan pendidikan di Indonesia, sekolah-sekolah dibiarkan ambruk dan gaji guru pun sangat minim. Di sisi lain masyarakatnya pun masih ogah-ogahan untuk menyekolahkan anak-anaknya, padahal lewat sekolahlah anak-anak mereka dapat merubah nasib keluarganya. Untuk itu Bapak mau mengajar di dusun kecil seperti ini walaupun bayarannya tidak seberapa. Bapak ingin menumbuhkembangkan kesadaran berpendidikan di kalangan rakyat kecil. Bapak ingin semua anak-anak di dusun ini bersekolah…” Pak guru menghela nafas panjang. Dari sorot matanya Aji tahu Pak Guru sekarang sedang mengatakan sesuatu yang sangat serius.

“Ji, kamu ingat baik-baik ya.. Pendidikan adalah satu-satunya solusi dari permasalahan hidup yang sedang dihadapi bangsa kita. Melalui pendidikanlah segala persoalan hidup dapat dengan mudah kamu lalui, melalui pendidikan juga kamu dapat membawa kesejahteraan bagi orang-orang di sekitarmu, dan pendidikan juga yang mampu menghantarkan negara ini ke puncak kejayaan. Kamu mau kan ikut berbakti untuk negara?”.

“Iya, mau Pak!”

“Untuk itu kamu jangan sampai malas sekolah ya?” Sang Guru memandang serius sambil menepukkan tangannya di pundak Aji. Dalam hatinya ia merasa sangat puas dengan jawabannya yang sudah ia utarakan dengan panjang lebar. Tidak sia-sia ia menjadi seorang guru. Pada tahap ini ia merasa sangat pintar.

Aji mengangguk keras sekali, matanya berkaca-kaca. Aji merasakan semangatnya meledak-ledak di dalam dadanya. Ia sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan kurikulum. Dan ia juga tidak mengerti sebenarnya ilmu dan teknologi macam apa yang harus dikuasai oleh seorang anak petani macam ia agar dapat mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Tapi kini ia menemukan alasan yang tepat mengapa ia harus sekolah. Yaitu untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Paling tidak itulah yang tadi dikatakan gurunya. Ya, pendidikan dibuat untuk menyelesaikan permasalahan hidup dan membawa kesejahteraan bagi orang banyak.

Semua orang di dusun ini juga tahu yang selalu menjadi masalah bagi Dusun Lembung Asih adalah tikus sawah. Tikus sawah selalu mau enak sendiri, seenaknya saja menggerogoti tanaman jagung yang sudah susah payah ditanami oleh warga. Ia tidak mau dusunnya kelaparan lagi seperti tahun kemarin saat terjadi gagal panen akibat jagung-jagungnya digerogoti tikus kotor. Aji ingin dapat menyelesaikan permasalahan hidup dusun ini, ia ingin dapat mengusir tikus sawah untuk selama-lamanya. Dan ia yakin sekolah inilah yang akan menjadi solusi bagi permasalahan hidup dusun ini. Dalam hati Aji berjanji akan belajar sunggung-sungguh ketika nanti diajari cara mengusir tikus sawah. Entah itu nanti akan dipelajarinya di pelajaran Matematika atau mungkin di pelajaran Bahasa Inggris, Aji tidak tahu.

“Pengembangan Teknologi Komunikasi (Internet) Pada Sekolah SMAN 4 BOJONEGORO”

Internet menjadi sebuah media informasi global yang sangat dinamis dan interaktif. Yang mampu memberikan berbagai macam informasi serta memberikan berbagai macam sumber – sumber bahan ajar yang dapat dmanfaatkan oleh pembelajar ntuk mendapatkan pengetahuan yang lebih efektif dan efisien untuk bahan ajar mereka.

Dengan dibangunnya situs web sekolah secara tidak langsung siswa pada sekolah yang bersangkutan diperkenalkan dengan teknologi internet dan web yang dapat dimanfaatkan untuk menambah kemampuan dan menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain itu ada banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh sekolah dengan mengembangkan dan memiliki internet web, antara lain :

· Memiliki wadah atau media guna menginformasikan profil, potensi, kegiatan, dan berbagai keunggulan yang dimiliki sekolah kepada masyarakat umum

· Memiliki media untuk menginformasikan berbagai pesan atau berita baik untuk para staf pengajar, siswa maupun untuk para pengakses situs web tersebut

· Memiliki wadah untuk mengembangkan pustaka sumber belajar yang berisikap berbagai materi / soal / artikel per bidang studi yang bermanfaat bagi siswa.

· Memiliki database siswa, pengajar, dan alumni yang dapat diakses secara on-line

(dengan elemen data terbatas )

· Memiliki media komunikasi berupa : e-mail maupun forum yang dapat digunakan

untuk berdiskusi antara siswa, guru, dan sekolah.

· Meningkatkan image sekolah di masyarakat umum.

Uraian di atas telah menunjukkan beberapa butir analisis kritis terhadap system pendidikan terutama pada aspek kurikulum, siswa, guru, proses pembelajaran, dan aspek partisipasi masyarakat. Tentu saja, masih terdapat aspek-aspek lainnya yang cukup signifikan namun tidak dapat dikupas dalam makalah ini, hal ini terjadi mengingat waktu dan ruang yang terbatas.

Pengecut

Ok..Let’s See My Short Story….Semoga MEnghibur!!
Sebuah Cerpen OLeh : Arya Rizky Prasetiya

Aku tak menampakan mukaku. Masih berupa bayangan hitam yang tak sesuai ukuran tubuhku. Aku hanya bayangan. Yang tak pernah jelas menampakan wujud dari aslinya. Sampai aku tersadar bahwa ak harus berdiri, menjelaskan sesuatu, atau mengungkapkan. Tapi apa??
” Oh, tidak!!” jiwaku memberontak keras!!tak menerima keinginanku yang berseberangan dengan kelakuan dan kehidupannya.
Lalu gadis itu hadir, ” Ry, kau tidak apa-apa?” tanyanya membuatku semakin tersungkur.
Apakah itu perhatian? apakah kekhawatiran? atau sekedar keingintahuan semata.
” Tidaaaaakk!!!!!!!’ Jiwaku lebih keras memberontak ketika kucoba menjelaskan apa yang kurasa.
apa sih maumu? dijelaskan pun tidak bisa, dipendam pun menyesakkan. rasanya ingin berteriak dan memaki diriku sendiri. apa yang kurasa? ” Tidaaaaaaaaaaakk!!!!! Teriakan lebih keras muncul saat kucoba menjelaskan bahwa yang kurasa adalah cinta. tertawa dalam diriku. menggali setiap makna yang kudapat sejak mengenalnya!!

” Hahahahahah…Pecundang!!! Apa kau bilang??? cinta???Anjink, Bedebah, Setan..Mampus lu dengan semua itu” Jiwaku semakin lancang memberontak…
Air mataku tak tertahan, terjatuh menitik membasahi bumi. Tangisan penyesalan karena aku tak bisa mengakui, tak bisa menerima kalau aku mencintainya.
******
” Ry, ada apa???” gadis bernama Syifa itu bertanya lagi.
Anjink!!kenapa harus kau tanya? kenapa harus kau beri secuil perhatian ini??bagimu muungkin biasa, tapi bagi orang gila sepertiku, itu sangat berarti, Kau takkan mengerti hatiku. Karena aku sendiripun tak mengerti dan tak mampu mencoba memahaminya!!
Aku terdepak dalam sebuah ruangan gelap gulita…tak ada cahaya tapi aku mampu melihat…Ya, melihat bayangannya..Bayangan Syifa menghantuiku. Tawaku tak terdengar siapapun, senyumku tak terlihat siapapun..Aku seorang diri, menyadari dan menikmati ketakutanku.
Entahlah, dia akan tau tidak!!! Tapi harusnya dia tau. akan isyarat mata dan hatiku. Anjiiiiiink..” Setiap Aku mencoba menerima kenyataan bahwa aku mencintainya, tubuhku berguncang, seolah setiap sel di tubuhku ingin keluar dan memisahkan diri dariku.Mengecam dan memaki apa yang kurasa.
Kulihat senyumnya selalu ada. Tapi tak cukup kuat untuk menghapus kata-kata yang sudah tertulis jelas di otakku, bahwa dia jelas mengharapkan seseorang akan menjadi pengisi hatinya. DAN ITU BUKAN AKU.
Hari ini aku tersenyum, karena ada senyumnya!!AKu manusia cengeng dan pengecut. Maki saja sampai kau puas memaki, hingga takkan ada lagi makian-makian untuk orang yang tak pantas mendapat makian. Maki saja aku yang terus menikmati kesakitanku. Menikmati sesaknya nafasku, dan Menikmati Kegilaanku. Menikmati Diriku yang menjadi pecundang, yang hanya berani memandang dari belakang.
Waktu, aku tak mungkin menyerahkan pada waktu. aku pemimpin dan imam. bukan penunggu. Tapi tetap saja aku ini pengecut.

Pengecut

Ok..Let’s See My Short Story….Semoga MEnghibur!!
Sebuah Cerpen OLeh : Arya Rizky Prasetiya

Aku tak menampakan mukaku. Masih berupa bayangan hitam yang tak sesuai ukuran tubuhku. Aku hanya bayangan. Yang tak pernah jelas menampakan wujud dari aslinya. Sampai aku tersadar bahwa ak harus berdiri, menjelaskan sesuatu, atau mengungkapkan. Tapi apa??
” Oh, tidak!!” jiwaku memberontak keras!!tak menerima keinginanku yang berseberangan dengan kelakuan dan kehidupannya.
Lalu gadis itu hadir, ” Ry, kau tidak apa-apa?” tanyanya membuatku semakin tersungkur.
Apakah itu perhatian? apakah kekhawatiran? atau sekedar keingintahuan semata.
” Tidaaaaakk!!!!!!!’ Jiwaku lebih keras memberontak ketika kucoba menjelaskan apa yang kurasa.
apa sih maumu? dijelaskan pun tidak bisa, dipendam pun menyesakkan. rasanya ingin berteriak dan memaki diriku sendiri. apa yang kurasa? ” Tidaaaaaaaaaaakk!!!!! Teriakan lebih keras muncul saat kucoba menjelaskan bahwa yang kurasa adalah cinta. tertawa dalam diriku. menggali setiap makna yang kudapat sejak mengenalnya!!

” Hahahahahah…Pecundang!!! Apa kau bilang??? cinta???Anjink, Bedebah, Setan..Mampus lu dengan semua itu” Jiwaku semakin lancang memberontak…
Air mataku tak tertahan, terjatuh menitik membasahi bumi. Tangisan penyesalan karena aku tak bisa mengakui, tak bisa menerima kalau aku mencintainya.
******
” Ry, ada apa???” gadis bernama Syifa itu bertanya lagi.
Anjink!!kenapa harus kau tanya? kenapa harus kau beri secuil perhatian ini??bagimu muungkin biasa, tapi bagi orang gila sepertiku, itu sangat berarti, Kau takkan mengerti hatiku. Karena aku sendiripun tak mengerti dan tak mampu mencoba memahaminya!!
Aku terdepak dalam sebuah ruangan gelap gulita…tak ada cahaya tapi aku mampu melihat…Ya, melihat bayangannya..Bayangan Syifa menghantuiku. Tawaku tak terdengar siapapun, senyumku tak terlihat siapapun..Aku seorang diri, menyadari dan menikmati ketakutanku.
Entahlah, dia akan tau tidak!!! Tapi harusnya dia tau. akan isyarat mata dan hatiku. Anjiiiiiink..” Setiap Aku mencoba menerima kenyataan bahwa aku mencintainya, tubuhku berguncang, seolah setiap sel di tubuhku ingin keluar dan memisahkan diri dariku.Mengecam dan memaki apa yang kurasa.
Kulihat senyumnya selalu ada. Tapi tak cukup kuat untuk menghapus kata-kata yang sudah tertulis jelas di otakku, bahwa dia jelas mengharapkan seseorang akan menjadi pengisi hatinya. DAN ITU BUKAN AKU.
Hari ini aku tersenyum, karena ada senyumnya!!AKu manusia cengeng dan pengecut. Maki saja sampai kau puas memaki, hingga takkan ada lagi makian-makian untuk orang yang tak pantas mendapat makian. Maki saja aku yang terus menikmati kesakitanku. Menikmati sesaknya nafasku, dan Menikmati Kegilaanku. Menikmati Diriku yang menjadi pecundang, yang hanya berani memandang dari belakang.
Waktu, aku tak mungkin menyerahkan pada waktu. aku pemimpin dan imam. bukan penunggu. Tapi tetap saja aku ini pengecut.

Arang Cemerlang


Asyiknya jadi anak pintar. Langganan ranking satu, masuk kelas akselerasi dan selalu juara lomba sains. Itulah aku, Freddy Andreas Yuangga. Di usia sepuluh tahun, aku mampu membuat banyak orang terkagum-kagum dengan bakatku yang “luar biasa” dalam pelajaran fisika. Secara spektakuler, aku berhasil merebut juara dunia Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura, ”37th International Physics Olympiad”. Inilah Olimpiade Fisika terbesar sepanjang sejarah, diikuti para siswa paling cerdas dari 85 negara, dan tentu saja aku yang paling cerdas dari mereka.

Tidak itu saja, aku juga peserta termuda genius yang berhasil membuat seluruh penonton dan perwakilan dari seluruh dunia tertegun dan takjub. Para wakil peserta terheran-heran, bagaimana anak sekecil aku bisa memecahkan persoalan fisika yang begitu kompleks, setara S-2 dan bahkan menjadi juara? Aku memang bukan anak kecil biasa.

Di umur 12 tahun, aku lolos seleksi untuk kelas super yang didirikan atas kerjasama Dikmenti DKI Jakarta dengan Yayasan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), dan BMW Indonesia. Kelas setara SMA yang dikhususkan untuk anak ber-IQ 150 ke atas dan nilai matematika 10 dengan tenaga pengajar khusus bergelar master dan doktor (S2 dan S3).

Orangtuaku bangga dengan prestasi anaknya yang luar biasa, mereka bertanya-tanya apakah pendidikan sekolah menengah mampu menahan diriku. IQ-ku memang lebih dari Einstein.

Dalam lomba sains, aku sudah berkeliling dunia. Salah satu yang paling kuingat, saat aku mengoreksi perhitungan badan antariksa AS (NASA). Laporan proyek penelitianku yang kuberi judul “Apophis-Asteroid Pembunuh” dalam kompetisi sains di Jerman, mengkoreksi estimasi peluang tabrakan asteroid dengan bumi yang menunjukkan resikonya jauh lebih besar. Aku menggunakan hasil rekapan teleskop di Institut Astrofisika di Postdam (AIP). Hasil perhitunganku menunjukkan bahwa peluang asteroid menabrak bumi satu berbanding 450 sedangkan NASA sebelumnya memperkirakan peluangnya hanya satu berbanding 45.000. Mereka membenarkan perhitunganku dengan disampaikan kepada ESA (European Space Agency). Lalu aku pun memperoleh “First Step to Nobel Prize in Physics”, yang hanya anak-anak paling cerdas di seluruh dunia, para genius muda calon-calon peraih Nobel, yang mampu meraihnya.

Sepertinya penemuanku itu mengusik seorang proffesor dari Harvard University. Ia pun datang menemuiku untuk menantangku menjawab soal yang ia buat. Aku harus mampu menjawabnya dalam waktu 3 jam. “ If you can do it aright, I’ll give you $ 100 Million,” kata proffersor itu.

Ternyata datang juga berbagai wartawan dari dalam dan luar negeri. Ini membuatku semakin tegang. Dan benar saja, soalnya memang sangat sulit. Lebih sulit dari olimpiade tertinggi sekalipun. Aku berpikir keras. Tanganku bergetar, tapi aku berusaha menyembunyikannya. Soal ini harus aku selesaikan sebelum jam 12.00. Deg-degan sekali rasanya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjawabnya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menyelesaikannya. Bagaimana kalau aku ditertawakan. Bagaimana kalau aku dipermalukan. Aduh, pikiran buruk berkecamuk terus.

Aku semakin galau. Sudah jam 11.20 tapi aku belum menemukan kunci permasalahan dari soal ini. Untunglah, aku selesai tepat waktu dan benar. Takjub sekali proffesor itu. Sesuai janji, ia berikan cek kepadaku. Kemudian berbagai julukan kuterima. Ada yang menyebutku anak jenius, anak terpintar sedunia, anak dewa, dan sebagainya. Tidak terbayangkan rasa hatiku. Dengan kejeniusanku, soal tersulit sekalipun bisa kulahap.

Untuk merayakannya, orang tuaku mengajak jalan-jalan ke Jepang berhubung bertepatan dengan liburan sekolah dan musim semi disana. Tiba-tiba muncul ide di otakku. “Kita ajak nenek juga, Pa. Nenek pasti senang lihat bunga sakura,” kataku. Sudah kubayangkan banyaknya pujian dari orang-orang di desa nenek nanti. Aku pasti dibanggakan sekali disana.

Tiga hari sebelum berangkat ke Jepang, keluarga kecilku ini pergi ke desa Japanan di Mojokerto, tempat tinggal nenek. Aku mendapat sambutan yang luar biasa. Dikalungi bunga. Luar biasa sekali. Seperti presiden yang datang saja.

Aku selalu senang jika di rumah nenek. Aku bisa bermain. Berlarian. Berlompatan. Tertawa bebas. Benar-benar diperlakukan layaknya anak-anak normal. Tidak dituntut untuk belajar.

Siang itu, mungkin karena terlalu senang atau capek, aku jatuh saat berlarian. Kaki kiriku terkilir. Kemudian aku pun diajak Nenek diurut (dipijat) di Mbok Nah. Tukang pijat yang rumahnya sekitar 1 km dari rumah nenek.

Rumah itu kecil dan reyot. Kemiskinan terlihat jelas di tubuh ringkih Mbok Nah. Tapi tangannya nampak kuat. Wajahnya pun meneguhkan hati. Kemudian keluarlah seorang anak laki-laki. Umurnya pasti tidak jauh dariku. Entah lebih tua atau lebih muda dariku. Tapi masa bodoh.

Meski badannya kurus kering dibaluti pakaian lusuh dan tidak memakai alas kaki pula, wajahnya terlihat cemerlang sekali. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Seperti memancarkan cahaya terang.

Niki putu kula, asmanipun Adi. Di, jupukno salep nang ndhukure meja. Tapi isuhana tanganmu dhisik1,” kata Mbok Nah. Tangannya memang kotor karena memegang arang. “Mbok Nah mau bakar sate?” tanyaku. “Adi niku seneng maca kale nulis. Alhamdulillah pak Lurah gelem nyilihna buku-bukune.2

Sambil memijat kakiku, nenek ngobrol terus dengan Mbok Nah. Untunglah aku mengerti bahasa Jawa sedikit-sedikit. Kata Mbok Nah, sejak umur 2 tahun, Adi sudah bisa bicara bahkan berhitung. Mbok Nah yakin sekali kalau dia anak yang sangat pintar. Tapi keadaan memang tidak mendukung. Untuk makan saja sudah pas-pasan. Apalagi untuk membeli buku. Jadi, Adi tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah. Mbok Nah hidup hanya berdua dengan Adi. Ayahnya menjadi supir angkutan umum di Surabaya dan Ibunya bekerja di Malaysia sebagai TKW. Entah kenapa secara turun temurun, selalu saja anak yang dilahirkan cuma satu. Jadi, Adi membantu neneknya dengan menjadi buruh tani sampai kulitnya hitam gosong hasil sengatan matahari.

Saat akan pulang naik becak, tanpa sengaja kertas soal dari proffesor jatuh dari kantong celanaku. Aku baru sadar itu saat becak sudah mendekati rumah nenek. Langsung saja aku kembali ke sana tanpa nenek.

Di depan rumah itu, kulihat Adi sedang menulis. Tentu saja dengan arangnya.Tapi aku seperti familiar dengan kertas yang ada di depannya. ” Adi, apa itu yang kamu tulis?” tanyaku. “Itu kertasku?”

Adi tersentak. “I...Iya..” Ia berkata terbata-bata sambil menyerahkan kertas itu. Aku lega, kertas itu tak tercoret apapun. Tapi aku bingung, “ Lalu apa yang kamu tulis tadi? Kamu menulis soal ini?”

Adi, “I...Iya..” Aku tertawa kecil. Ternyata dia memang suka menulis apapun yang ia baca. Meski tak tahu apa maksudnya. “Lalu bagaimana? Kamu mengerti soal ini? Bisa menjawabnya?” tanyaku. “I...Iya..”

Di kertasnya terlihat seperti ada banyak tulisan. Apa mungkin... “Sini. Aku lihat tulisanmu,” Ku ambil kertas dari tangannya. Wow, tulisannya rapi sekali. Seperti di ketik di keyboard padahal hanya dengan arang. Aku lebih shock setelah membacanya. Dia menjawab soal itu dengan cara yang belum pernah kutahu tapi benar. Cara yang sederhana sekali. Bagaimana bisa dia lakukan itu. Padahal seingatku, aku datang ke rumah Mbok Nah sekitar satu setengah jam yang lalu. Dan aku yakin kertas soalku masih ada di kantong celanaku beberapa saat sebelum pulang ke rumah nenek. Aku yakin sekali kertas itu jatuh saat aku akan naik becak. Hah, mana mungkin dia mengerjakannya hanya dalam waktu setengah jam?

Kembali di rumah nenek, aku duduk sambil menangis. Aku benar-benar shock, marah, kecewa, sedih, dan perasaan lainnya yang tidak enak bercampur aduk. “Aku kalah,” kataku lesu. Orang tuaku kaget dan bingung, “Kok bisa?? Kamu ikut olimpiade apa?” Kemudian aku menceritakannya dengan enggan.

“ Berikan ini pada Mbok Nah,” aku menyodorkan selembar kertas pada pembantunya nenek. Mata orang tuaku seperti siap meloncat keluar saat tahu apa yang aku sodorkan. “Tidak bisa! Kamu jangan ngawur, dy. Itu jelas bukan haknya, uang ini kamu dapat karena kamu yang ditantang proffesor itu. Bukan anak yang kamu ceritakan itu.” Aku bangkit berdiri. “Terserah! Pokoknya aku gak mau pergi ke Jepang! Aku gak mau pergi kemana-mana! Aku mau pulang!”

Di rumah, bahkan selama perjalanan ke Jakarta, aku hanya bisa diam. Merenung. Berpikir. Benar-benar memalukan aku ini. Merasa menjadi yang paling pintar dan paling hebat. Padahal ada yang lebih dari aku. Lebih cepat, tepat dan cermat dalam mengerjakan soal. Dan ia TIDAK pernah bersekolah. Kenapa aku baru sadar kalau aku ini sangat sombong!

“Pa, Ma, aku pengen balik ke sekolahku dulu. Aku gak mau di kelas super. Aku mau sama teman-temanku dulu,” pintaku. “Masuk ke kelas super itu sulit sekali. Banyak anak yang iri sama kamu karena kamu anak yang jenius. Jangan disia-siakan kesempatan ini,” bujuk Mama. “Tapi Ma, aku bukan anak jenius. Masih ada yang lebih pintar dari Freddy,” bantahku. Mama mengelus kepalaku, “Sayang, memang tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Kamu jangan patah semangat karena ada yang melebihi kamu. Kamu pasti punya kemampuan di bidang lain. Bukankah kamu juga suka bermain piano? Kamu ikut saja les piano sama sahabat lamamu. Ingat Freddy, tidak ada yang terbaik di dunia ini. Kamu harus lebih rendah hati lagi. Sehingga nanti, kamu bisa punya banyak teman.” Aku hanya bisa menangis sambil menyesali sikapku selama ini.

(Di rumah Mbok Nah)

Di, mau putune Bu Kaji Maryam sing jenenge sapa ya...Predi..ta sapa...menehi kertas iki. Ana tulisan angka-angka tapi ya ana tanda tanganne. Mboh apa iki.3 ” kata Mbok Nah.

Mboten semerap. Menawi niku kenang-kenangan.4” kata Adi. Mbok Nah manggut-manggut, lalu menyimpan kertas itu di lemari pakaian, di bawah tumpukan baju.




1Ini cucu saya, Adi. Di, ambilkan salep di atas meja. Tapi kamu cuci tangan dulu.

2Adi itu suka membaca dan menulis.Alhamdulillah pak Lurah mau meminjamkan buku-bukunya.

3Di, tadi cucunya Bu haji Maryam yang namanya siapa ya...Predi..atau siapa...memberi kertas kecil yang tulisannya ada angka 1 sama nol banyak tapi depannya ada tulisan S di coret. Enggak tau apa itu.

4Enggak tahu. Mungkin itu kenang-kenangan.