Cari

KEHIDUPAN KU

Bagaikan katak di ujung tanduk. Itulah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau mungkinkah bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupanku.

Lagi-lagi suara itu menggelegar, ”Ian, Cari duit sana yang banyak! Jo jadi arek males!”

Seperti biasanya sambil membawa sapu lidi, ibu menakutiku, mungkin juga siap memukulku jika aku membantahnya. Bahkan, untuk menatapnya saja aku malas. Malas karena bosan dengan segala ocehan yang menyurutkan setiap langkahku, malah tak pernah sekalipun ibu meberiku semangat tuk menjalani hidup ini.

”Yach Bu, tapi aku lagi capek. Tadi kan habis potong kayu.”

”Eh… ra enek alesan.”

Kalau sudah begini, suasana rumah seperti kayu yang sedang dibakar. Panas, hingga penghuninya ingin keluar mencari angin segar.

”Bu, saya bener-bener cape.”

“Koen ku yo, disuruh nyari duit aja ra gelem, mengko koen emange arep makan apa ?”

”Bu, kapan Ibu ngerti keadaanku.”

”Dah jo dadi arek manja. Mau pergi ngga!” Ibu mengangkat sapu dengan tatapan penuh amarah.

Tak pantas aku menyebutnya Nenek Lampir. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang telah rela mengandungku 9 bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, dan kini harus membesarkan anak cacat.

”Kenapa kalo Adi atau Duik yang sakit, Ibu pasti cemas. Ibu akan pergi ke warung cari obat. Tapi kalo aku yang sakit, jangankan tanya kenapa, malah ngomel-ngomel ngga dapet uang. Bukannya aku juga anaknya Ibu.”

”Karep mu ntu apa ? Hidup kita tu lagi susah. Apalagi koen kayak gini. Emang apa kata orang nanti. Udah miskin, punya anak cacat lagi.”

”Jadi ibu nyesel punya anak sepertiku.”

”Mana ayahmu sing penggangguran iku, ga pernah muleh.”

Aku menunduk sejenak. Apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ayah tidak peduli lagi denganku. Semua tampak asing. Mereka orang tuaku, tapi nampak makhluk dari planet lain.

”Ya, aku ngerti semuanya sekarang. Aku pergi!”

Aku berlalu meninggalkan Ibu yang masih mengangkat sapu. Ingin sekali aku berlari sekencang kilat. Tapi apa dayaku. Aku hanya punya satu kaki. Akibat kecelakaan itu. Ketika aku berlari karena dimarahi ibu, aku tertabrak mobil. Kaki kiriku diamputasi. Kini, hanya tongkat kecil sebagai teman membantuku berjalan. Melangkah, menapaki setiap kehidupan.

Teriakan ibu membuatku berpikir lebih dalam tentang kehidupanku. Aku pernah melihat jurang sedalam tiga ratus meter. Begitu mengerikan, tapi lebih mengerikan lagi di dalam rumah. Dengan gitar kecil pemberian sahabatku, Didi, sebelum ia pergi melanjutkan sekolah di tanah kelahirannya, Palembang di Sumatra ntuh, aku menjadi pengamen remaja yang malang. Anak cacat yang tak pernah diurus orang tuanya.

” Oh….kapan teriakan itu terhenti. Akankah Ibu sadar bahwa aku butuh kasih sayang bukan makian atau perintah setiap hari. Bukan aku benci Ibu, hanya saja aku sadar Ibu tak suka padaku. Kecacatanku ini terlalu membuat Ibu susah,” pikirku.

Aku menelusuri jalan-jalan. Menerobos keramaian kota. Dengan lagak pengamen, aku bernyanyi lagu tentang keceriaan seorang anak bersama orang tuanya. Aneh, semua lagu bertemakan dunia bahagia. Sedangkan keadaanku sebaliknya. Ini bukan pekerjaan. Tapi derita keseharian. Lihat saja penampilanku. Baju kumal yang jarang dicuci. Kalau pun sampai dicuci, tidak dengan air kran atau air sumur. Air sungai keruh telah menjadi tempat laundry bagiku dan teman-teman seperjuangan. Memang bajuku dicuci, tapi malah semakin kumal akibat lumpur sungai yang melekat menutupi pori-pori kain. Lain lagi dengan tubuhku. Badan kurus kering bagaikan anak kekurangan gizi. Tak khayal, banyak julukan untukku akibat bentuk tubuh ini. Kadang teman-teman memanggilku Cungkring, Garing, atau Krempeng. Aku menerima saja. Kalau dibilang marah. Aku sungguh terhina dengan julukan itu. Akan tetapi, jika dilihat dari keadaanku, memang begitu keadaannya.

Temanku banyak mengamen di bus-bus yang lewat. Berbeda denganku. Aku hanya keliling sehingga uang yang kudapat lebih sedikit. Bagaimana mungkin aku akan naik bus. Berjalan saja sudah sulit apalagi pakai tangga segala. Aku tahu pasti ada orang yang membantu. Tapi apakah kita harus selamanya bergantung pada pertolongan orang lain. Padahal, kita masih sanggup mengerjakannya sendiri. Sepreman-premannya orang pasti mereka punya rasa kemanusiaan bagi sesama. Apalagi untuk anak sepertiku.

Tibalah aku di depan rumah mewah. Menyanyi semerdu mungkin agar orang yang mendengarnya merasakan apa yang ingin kusampaikan. Meski sebenarnya lagu itu hanya untuk menyemangati hidupku yang sedang galau.

Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini…

Melakukan yang terbaik…

Jangan menyerah… jangan menyerah… jangan menyerah… ooooo..ooo..

Tiba-tiba seorang pembantu rumah tangga keluar lewat samping rumah. Ia memberiku dua keping lima ratusan dan sebungkus nasi. Namanya adalah bi Inah, pembantu rumah tangga yang ku kenal. Setiap kali aku ngamen di depan rumah mewah nich.

* * *

Sambil makan, aku mengkhayal tentang dunia impian. Menjelajahi naluri seorang manusia. Berimajinasi setinggi mungkin. Adakalanya, mimpiku terlampau tinggi. Ini membuatku tersenyum sesaat. Lalu kembali ke dunia nyata. Aku sadar bahwa itu bukan duniaku sekarang.

”Seandainya ibuku mengerti perasaanku, pasti aku akan betah tinggal di rumah. Sekolah, bukan ngamen. Cukup belajar dan belajar,” khayalku mulai bergerak cepat.

Tiba-tiba, ”Wei, Ian, dari mana aja sich lu! Dapet duwit berape? Wah, makan siang nih!” kata Iben, membuyarkan semua lamunanku.

Khayalanku hilang seketika. Gertakan Iben membuat suasana sepi menjadi ramai. Iben langsung saja menyantap makanan ku. Ia memang seperti itu. Walau kelakuannya kadang kurang mengenakkan, tetapi hatinya sangat mulia. Apalagi dengan temannya yang sedang tertimpa musibah. Dia berbeda nasib denganku. Hubungan dengan orang tuanya sangat dekat. Sekarang Iben berumur 18 tahun. Ia duduk di kelas 2 SMA Nusa Bakti. Iben mengamen hanya untuk bermain. Sedangkan bagiku, mengamen adalah mata pencaharian. Kalau sedang malas ngamen, aku jualan koran atau jadi tukang bersih kaca mobil di jalanan.

Tanpa cuci tangan, Iben langsung menyantap semua makanan. Tak peduli ada kotoran atau tidak yang menempel. Padahal, ia selalu bermain di jalanan. Entah berapa kali ia sakit perut gara-gara ulahnya ini. Walau mulutnya penuh dengan nasi, tetap saja ia menyempatkan diri untuk ngobrol.

”Lu dapet berapa jute nich hari?”

”Dikit, nih cuman 4000.”

Tangan Iben menyodorkan uang 10.000 untukku. Kebisaannya ini paling kubenci. Aku tahu, aku memang sangat butuh uang, tapi tidak mungkin aku tega mengambil hasil jerih payahnya seharian.

”Buat lu.”

”Apaan nich. Ga’ usah.”

”Gue marah nich kalo ngga mau.”

”Ben, lu lebih butuh nich duit buat sekolah.”

”Bokap gue ga bakalan buat gue kelaperan.”

”Ah masa. Ko makannya lahap gitu. Jangan-jangan lu ngga dikasih makan ma ortu lu.”

”Sapa bilang? Gue emang lom makan tadi pagi. Tapi bukan karna gue ga dikasih makan. Gue tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan.”

”Trus napa ga langsung pulang ja? Malah ikut ngamen segala.”

”Buat ketemu elu. Emang ga kangen, kalo gue ga ada.”

”Kangen nenek moyang lo!”

”Ni ambil !” Iben menyodorkan Rp.10.000,- ke arahku.

”Lain kali aja lah Ben , klo’ gue butuh uang. Lu tabung lah dulu.”

”Ya udah deh. Gue ngga maksa. Tapi klo’ lu butuh, ngomong ke gue ye.”

“Okelah. Wah, dah sore, gue cabut dulu.”

“Hati-hati.”

”Da…”

Aku pun meninggalkan Iben yang masih makan. Sebenarnya aku ingin menceritakan masalahku dengannnya. Namun, aku berusaha hidup lebih dewasa dalam masalahku sendiri. Tak tahu kapan badai ini surut. Aku hanya yakin, aku bisa hadapi semua.

-Tamat-

0 komentar:

Posting Komentar