(CERPEN)
Detik-detik jam dinding terus berputar, sementara suasana kota air itu tetap sama. Suasana kering, hembusan udara panas serta taburan debu dengan riangnya berjalan dari sudut-sudut kota itu untuk memaksa memasuki rumah penduduk dan membuatnya terus semakin panas dan kering. Meski demikian tak ada yang mau terkalahkan dengan suasana neraka tersebut. Kegigihan masyarakat akan bekerja tetap mengalir bagaikan air yang mengalir di padang pasir. Bagaimana tidak, tuntutan sesuap nasi untuk anak dan istrinyalah yang telah membuat mereka bekerja keras seperti itu. Mereka tidak mengenal panas dan hujan, bahkan setiap pekerjaan yang ada selalu mereka kerjakan dengan baik. Mereka bukanlah professor, doctor, ataupun koruptor yang tinggal di kota kumuh itu. Mereka hanya secuil dari sekian juta manusia yang dibuang dan terasingkan dikota mati itu. Mereka hanyalah pengemis yang meminta-minta kekayaan di kotanya.
Kebiadaban dan keserakahan telah membutakan mata sang penguasa. Yang telah membiarkan kota yang indah itu menjadi kota mati yang kering dan tak berguna. Memang dulu kota itu adalah kota yang indah, kota yang diidam-idamkan oleh para wisatawan yang hendak berkunjung ke kota tersebut. Kota ini adalah kota yang subur, dengan pepohonan yang rindang dan sumber mata air yang memancur keatas yang telah menggambarkan kekuasaan serta keagungan Tuhan. Selain itu burung-burung kecil telah menghiasi setiap puing-puing keindahan kota air, menjadikan kota itu lebih hidup dan bermakna.
Namun tak lama kemudian kota air itu menjadi kota mati yang miskin akan sumber daya alam. Kicauan burung telah lenyap dari peradabannya, bahkan kota air ini bagaikan kota mati yang hidup ditengah gurun pasir.
Para penguasa telah menjual tanah itu kepada pengusaha asing tanpa kesepakatan dengan warga di kota air itu. Setelah mereka menjual asset warga lalu mereka tinggalkan kota yang telah tak berdaya itu. Mencari kota lain untuk disinggahi.
Ekspedisi dan Eksplorasi, dua kata yang telah melenyapkan air di kota itu, yang telah merobohkan pepohonan, membinasakan kicauan-kicauan kecil, dan telah menghancurkan mata pencaharian warganya. Sebelum ada pengusaha asing tersebut, para penduduk menggantungkan kelangsungan hidupnya pada pertanian, karena tanah yang subur dan tanah yang luas. Sekarang mereka telah membuat para petani itu menjadi pengemis dikotanya sendiri. Bagaimana tidak, tanah-tanah harapan mereka telah dijual dan mereka hanya diganti dengan uang yang tak sebanding dengan harga tanah itu, dan warga hanya diberi sebotol air setiap hari untuk menggantikan kekayaan mereka.
Seorang bapak yang harus kelaparan ketika merelakan sesuap nasinya untuk anaknya dan istrinya yang sedang sakit. Kesedihan mulai nampak lagi diraut wajah seorang bapak itu.rasa bersalah telah menghantuinya, kekurangan, dan nasib telah membuatnya putus asa. Sakit, memang harus dia jalani ketika kaki sang penguasa sudah tidak seimbang lagi, dan ketika mata meteka sudah mulai cacat, tangan yang mementingkan kebutuhannya sendiri dan tidak lagi perduli terhadap bagian tubuh lainya.
Mau tidak mau harus mau! Itulah nasibnya para rakyat kecil yang telah tertipu dan telah dibodohi oleh pemimimpin yang dipercayanya. Yang membuat mereka terseret oleh kemiskinan dan kesusahan.
Bagaikan buah yang “habis manis sepah dibuang” itulah kata-kata yang tepat untuk menggantikan sifat penguasa yang memanfaatkan wilbapaknya dan meninggalkanya ketika wilbapak itu tak berguna lagi.
Sementara itu disalah satu sudut kota kecil, nampak seorang anak laki kecil yang telanjang dada dan telah terbiasa dengan kehidupan itu, dia tidak mengerti apa-apa. Ia masih terlalu belia untuk menjalani kehidupan itu. Anak itu berumur sekitar empat sampai lima tahun. Kehidupan telah memaksanya untuk betah terhadap lingkungannya. Bapak dan Ibunya merupakan satu satunya kehangatan yang ada, yang telah membuatnya tentram dengan segala kekurangan kehidupanya.
Namun bebeda dengan anaknya, perasaan orang tua yang tak seimbang dengan anaknya. Perasaan kawatir akan cadangan beras yang telah mulai habis, dan uang yang menipis. Yang membuat mereka semakin sesak menikmati kehidupanya. Terkadang anak kecil itu harus diajak ikut bekerja oleh bapaknya. Mereka tidak mencangkul maupun berdagang dipasar, akan tetapi mereka bekerja mengambil kaleng minuman plastik yang harus dia bawa ketempat pengolahan dipabrik itu lagi. Mungkin pekerjaan itu bisa dikatakan dengan “pemulung ulung”. Tapi mereka bangga karena mereka belum sampai memaksa untuk mengambil barang orang lain yang bukan haknya.
Hembusan nafas kian lama kian menipis dan kerongkongan bapak itu semakin kering, dia bekerja sendirian hari ini, ibu sedang menjaga buah hatinya yang sakit digubuknya. Tak sedikit terlihat tetasan air mata keluar dari lubuk matanya, membawa penyesalan yang kian dalam, sedalam hembusan nafasnya.
Kian hari kian memburuk, kondisi anak itu semakin parah, panas dikeningnya semakin menjadi-jadi. Kecemasan mulai nampak dari bapak seorang anak itu, dan kecemasan itu mulai membabi buta oleh bapaknya ketika melihat istrinya menangis dan nampak sedih. Bingung dan sesak ia alami sendiri.
“bapak, bapak!” anak itu terus memanggil bapaknya. “Pak, kondisinya makin parah” kata istrinya. Bapak itu cemas dan lemas melihat ketidakberdayaanya menjadi seorang tulang punggung dalam keluarga kecil itu. ”sebentar aku akan meminjam sepeda pak lurah untuk mengantarkan anak kita ke dokter” kata bapak itu menenangkan istrinya, “Ya, ,, ,” sahut ibu itu.
Bapak itu pergi berlari dengan kencangnya untuk meminjam sepeda tua Pak Lurah. Namun harapanya mulai memupus ketika sampai didepan rumah Pak Lurah. Betapa tidak sakit, bapak itu pulang dengan tangan kosong. Bukannya sepeda yang ia bawa pulang namun cacianlah yang ia dapatkan. Ternyata Pak Lurah tak meminjamkan sepedanya untuk orang-orang miskin. Rasa dendam mulai terukir didadanya, sesak yang makin membara telah meliputinya.
Sesampainya dirumah istrinya tersenyum menyambut bapaknya, namun senyuman manis itu tak dibalasnya olehnya, hanya wajah yang sedih dan tangisanlah yang ia berikan. Ia mematahkan senyuman istri tercintanya, ketika ia pulang tidak membawakan sepeda yang ia harapkan untuk mengantarkan buah hatinya yang sakit. Kebingungan makin menghantam kepalanya sakit dan pening mulai terasa mencengkram. Keputusan tak kunjung didapat, apalagi masalah biaya berobat yang belum ada. Janganpun berobat untuk makan sehari-hari saja masih sulit. Akhirnya jawabanya hanya satu, pergi kedokter dengan menggendong buah hatinya.
Dengan kesedihan, ia mulai melangkahkan kakinya, Setapak demi setapak telah dilewatinya, tak tersadari puing-puing kerikil mulai menggerogoti kakinya yang telah lusuh dan kotor. Bercak darah mulai tampak ditelapak kakinya. Sakit makin terasa olehnya.
Rumah Sakit yang jauh itu mulai nampak dekat dengannya, namun napasnya kian lama kian menipis ketika ia ingat tadi belum makan, pohon-pohon jalanpun mulai hitam dan lenyap dari pandangnya, dan akhirnya . .. . “Brughhh“ tak sadar dia sudah terbaring lemas ditanah digenangi darah dari kakinya. Dan jeritan jeritan bocah itu mulai terdengar menyesali kepergian bapaknya.
Ia hanya bisa mengingat satu yang ia ingat dari pesan bapaknya, “tetap lanjutkan sekolahmu nak”.
2 komentar:
good tapi ejakanya dibenarkan ya??
bgus2. . hrmmm buat nangis, , hikz, , hikz, ,
Posting Komentar