Non Fiction
by: ifa [091024015]
HOME SCHOOLING
Homeschooling adalah istilah yang relatif baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan masyarakat awam banyak yang belum mengenal istilah ini. Istilah-istilah lain yang digunakan untuk menyebut homeschooling antara lain school at home, home education, home-based learning, dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Nasional adalah Sekolah Rumah. Istilah ini juga digunakan oleh asosiasi yang bernama ASAH (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia).
Dalam bahasa umum, homeschooling adalah model belajar yang digunakan orang dewasa untuk mendapatkan informasi atau keterampilan sesuai dengan kebutuhannya. Homeschooling juga bisa disebut sebagi belajar mandiri alias belajar otodidak, walau banyak yang menyebutnya sebagai “sekolah rumah”.
Alasan-alasan orang tua memilih homeschooling antara lain:
Ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak.
Tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah regular.
Sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan.
Merasa keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak.
Menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak.
Merasa sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau.
Anak-anak memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhu di sekolah umum.
sistem yang ada tidak medukung nilai-nilai keluarga yang dipegangnya.
merasa terpanggil untuk mendidik sendiri anak-anaknya.
Alasan lain orang tua menerapkan homeschooling adalah keinginan untuk memberi kebebasan kepada anak-anak mereka tentang hal-hal yang ingin dipelajari lebih banyak sesuai bakat dan minat masing-masing. Namun homeschooling mempunyai konsekuensinya, yaitu orang tua harus benar-benar mendampingi anak dalam proses belajar.
Salah satu kelemahan sekolah rumah, yaitu anak agak sulit membedakan peran orang tua sebagai guru dan sebagai ayah-ibu. Jika orang tua tidak konsisten menekankan jadwal belajar, akan menyulitkan anak dan orang tua. Terlebih lagi bila sebelumnya anak sudah bersekolah secara formal. Hal ini bisa menciptakan kondisi yang berbeda. Suasana rumah bisa membuat anak merasa bebas karena tidak ada aturan yang mengikatnya seperti di sekolah formal. Kelemahan lain dari sekolah di rumah, yaitu kurangnya sosialisasi anak dengan teman sebayanya. Di sekolah formal anak bisa bertemu banyak orang dengan karakter dan budaya yang berbeda. Di sekolah formal anak juga lebih banyak kesempatan untuk belajar tentang rasa toleransi dan bagaimana bersikap pada teman.
Kelebihan homeschooling antara lain:
sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah formal.
Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
Lebih siap untuk terjun di dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
Sementara kekurangan dari homeschooling adalah:
Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua.
Sosialisasi seumur relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim, organisasi, dan kepemimpinan.
Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 27 ayat (1), menyebutkan: “Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.”
Lalu pada Ayat (2) dikatakan bahwa: “Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.” Jadi, secara hukum kegiatan persekolahan di rumah dilindungi oleh undang-undang.
Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).
DAFTAR PUSTAKA
Abe Saputra. 2007. Rumahku Sekolahku. Graha Pustaka.
Internet
Cari
Diposting oleh
ifa fauziah phe
0 komentar:
Posting Komentar