Cerpen
by: ifa [091024015]
DI UFUK TIMUR CINA
Menggenggam erat bara panas masih sangat terasa disetiap telapak tanggannya ketika ia melihat beberapa kolom berita yang termuat di surat kabar yang tercecer di halaman masjid yang baru ia pungut.
“Tak berguna sama sekali para tikus-tikus itu, tahunya hanya bisa menjilat koin-koin hidup rakyat kecil. Memangnya dulu mereka tidak disekolahkan apa?” terlihat jelas logat medok Jawa yang diucapkan lelaki bertubuh kecil namun tinggi itu dengan suara yang agak serak-serak basah.
Tetapi terdengar suara sahutan yang kurang enak didengar oleh telinga Sabdo yang sedang asyik-asyiknya memungut koran-koran yang ada disekeliling halaman masjid “Al-Istiqomah”.
“Oalah yo Sabdo-Sabdo. Sampeyan itu tahu sendiri kan, kalau kita itu mana punya andil ikut campur dalam urursan gitu-gituan. Lha wong buat cari makan sehari-hari saja susuahnya minta ampun, malah sampeyan ikut campur urusan orang lain. Yang kayak gini ini, baru dinamakan rezeki kita”. Sambil Teno menunjuk tumpukan-tumpukan sampah yang akan ia loakkan ke pedagang rongsokan sampah.
Sepertinya Sabdo tidak mendengarkan ucapan yang barusan diucapkan Teno tadi. Terlihat Sabdo tetap membaca selembar koran yang masih ia pegang kuat-kuat sembari tangan kanannya yang terlihat kurus panjang itu memungut bungkusan-bungkusan makanan yang tercecer sembarangan. Mungkin tadi malam di masjid ini baru saja mengadakan pengajian akbar, dan para undangannya tidak dapat barisan paling depan, sehingga duduk di halaman teras masjid sambil menggelar lembaran koran. Sudah terlihat jelas kebiasaan para undangan pengajian setelah acara, koran-korannya dibiarkan begitu saja menjadi sampah. Tapi itulah yang membuat Sabdo dan Teno hidup. Karena dari situlah mereka bias mengais rezeki
******
“Baca apa sih sampeyan itu? Kayak orang teges saja!!!” sindir Teno.
“Justru dari sini saya bisa mencari uang, jadi pintar daripada sampeyan yang bangga dengan pekerjaan sampeyan yang mana selamanya belum tentu bias mencukupi kebutuhan sampeyan tapi sampeyan malah bangga”.
Begitu mendengar ucapan dari Sabdo, Teno hanya menjawab dengan tawa yang terbahak-bahak, mengira semua ucapan Sabdo hanyalah bualan semata. Mana mungkin orang mikir seperti mereka, bias berbicara seperti itu kalau tidak “GILA” namanya. Darimana orang kecil seperti mereka bisa hidup kalau tidak mengandalkan sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat, kemudian mereka punguti dan menjualnya ke tempat loak.
Berbeda dengan pemikiran Sabdo. Lelaki muda, tampan, tinggi, dan kurus itu berpandangan lain. Selagi kita masih hidup dan bias belajar. Semua yang ada di alam ini bisa dijadikan uang. Tuhan member kita otak yang mana seharusnya bias digunakan untuk berfikir, mengolah sesuatu yang ada di ala mini untuk dijadikan uang. Otak kita juga diberi kemampuan belajar untuk membuat suatu penemuan baru yang nantinya dapat bermanfaat bagi keselarasan umat manusia. Itu semua dapat diperoleh melaui menuntut ilmu sehingga mungkin dan bekerja keras. Bukan hanya dengan selalu menunggu rezeki untuk datang. Justru rezeki harus kita kejar.
Mungkin pemikiran Sabdo terlihat sangat konyol dan bersifat menghayal jika melihat status sosial yang dimilikinya. Lelaki miskin yang tidak punya apa-apa, cuma seorang ibu yang sakit-sakitan.
“Saya pingin sekolah lagi” terdengar suara sendu dengan nada harapan.
“Sampeyan ini gimana toh, ingat ibu sampeyan yang ada dirumah itu, sedang sakit-sakitan. Eh malah sampeyan pingin sekolah lagi. Bukannya kerja keras, mikirin bagaimana punya uang banyak supaya ibu sampeyan cepat sembuh, malah pingin sekolah lagi. Lha emangnya sekolah itu gak butuh duit opo??”.
Tanpa banyak memberikan jawaban dari ucapan Teno tadi, Sabdo yang menumpuk koran-koran bekas hasil pungutannya yang ia jual di tukang loak hanya bisa mencibir, “Justru dengan saya mengenyam pendidikan kembali, saya akan mudah memperoleh pekerjaan dan dapat banyak uang.”
Mungkin terlihat sangat sulit jika Sabdo ingin mengenyam pendidikan kembali. Melihat perekonomian Sabdo yang terbilang pas-pasan bias makan dua kali sehari itu saja sudah sangat beruntung. Belum lagi untuk biaya berobat ibunya yang sudah setahun ini terjangkit TBC. Tapi dalam lubuk hati Sabdo, dia pasti bisa mengenyam pendidikan lagi. Meneruskan bangku kuliahnya yang sempat tertunda oleh himpitan ekonomi. Sabdo hanya Cuma lulusan SMA yang tinggi cita-citanya. Sabdo juga termasuk siswa yang pandai di sekolahnya dulu. Sabdo percaya bahwa denga tekad yang kuat disertai kerja keras, dia bakal jadi orang sukses seperto harapan ibunya. Hal apa yang tidak indah selain harapan seorang ibu yang ingin melihat anaknya berhasil di segala bidang.
“DO……. Sabdo!!!” suara teriakan dari seberang jalan sana terdengar sangat keras agar terdengar oleh lawan bicaranya diseberang sana.
“Ada apa?” suara tersebut dijawab dengan nada yang keras.
“Ibumu sakit, batuk-batuknya makin tambah parah!!! Cepatlah pulang, kasihan ibumu. Daritadi dia mencarimu. Cepat!!!”
Tanpa berpikir panjang Sabdo langsung berlari meninggalkan tumpukan koran yang ia kerjakan
******
“Sebaiknya ibu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian…… Ibu kan sedang sakit, biar Sabdo yang mengerjakannya Bu….”.
“Kamu anak yang baik nak, janganlah sia-siakan hidupmu hanya untuk memungut sampah. Manfaatkan ilmu yang diberikan Gusti Allah kepadamu untuk kepentingan orang banyak nak…. Ibu akan pergi dengan senang jika kau bisa mengenyam kembali pendidikanmu”.
“Sssst…. Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu pasti sembuh. Doakan Sabdo agar mendapat yang terbaik Bu….. Restu ibu yang Sabdo minta”.
“Doa ibu menyertaimu nak!!!”
Tanpa ada suara dan helaian dari sang ibu, Ibu Supiah wanita separuh baya yang dulunya seorang pegawai kantor yang di PHK dan ditinggal cerai oleh sang suami karena pergi dengan wanita lain, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
“Innalillahi Wa Innaillaihi Rajiun………”. Sabdo hanya bias melantunkan Lafadz kesedihan tersebut mencium kening sang ibunda tercinta.
surga dibawah telapak kaki ibu. Tiada lantunan yang indah selain selain lantunan suara ibu. Tiada sentuhan yang hangat, selain sentuhan ibu. Tiada lagi tempat merebahkan pilu dan penat selain di pundak ibu. Sabdo merelakan kepergian ibunya dari dunia fana ini.
******
Dia terlihat tegar dan ikhlas dalam pemakaman ibunya. Tapi dalam hati, dia tampak terpukul dan tidak rela. Seakan Tuhan tidak adil dan dunia begitu kejam.
“Mengapa Tuhan itu gak adil ya??” sambil melumat pisang goring panas yang baru keluar dari wajan penggorengan Ning Sri.
“Ngomong opo toh sampeyan? Sampeyan belum ikhlas atas kamatian ibu sampeyan?” sambil tertawa renyah.
Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan hambaNya. Dan semua pasti ada akhir yang indah.
******
etiap kali dia berjalan menyisiri tumpukan-tumpukan yang dilihatnya, dia berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Sabdo jarang bekerja lagi, mungkin bahkan tidak sama sekali. Dia lebih senang menyendiri menghabiskan hari-harinya dengan melamun. Tapi dalam hati orang sapa tau. Sabdo memang berbeda dari yang dulu. Dia mungkin banyak menyendiri, tapi kesendiriannya itu melamunkan sesuatu yang tidak biasa. Dibawah pohon mangga dia bersandar disamping ranting-ranting sambil menghayal tentang sesuatu.
“Aku memang miskin, pendidikanku sampai SMA, aku yatim piatu, tidak punya status social, tapi aku tidak mau di anggap remeh. Aku harus jadi orang, yang mana hidupku bias bermanfaat bagi setiap orang.”
Tiba-tiba selembar koran melayang dan menampar pipinya. Beritanya lagi-lagi tentang Bank Century. Matanya langsung terbelalak ketika melihat berita tersebut di media cetak. Wajahnya seketika ceria seperti Albert Einshen yang tatkala hidupnya berhasil menemukan rumus matematika. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melompat turun dari atas pohon mangga tanpa memperhitungkan keselamatannya. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju komplek kumuh rumahnya.
“No…. Teno….. Aku berhasil No….. Aku tau apa yang harus aku lakukan”, terus berlari tanpa memperdulikan sekeliling orang lalu lalang di depannya.
Tapi orang-orang berpikiran aneh tentangnya, mereka berpikir bahwa Sabdo telah “gendeng” alias tidak waras. Mungkin karena depresi akibat musibah yang menimpanya bertubi-tubi belakangan ini.
Sabdo menemukan sebuah cara bagaimana sampah-sampah yang ada di sepanjang komplek ini selain bisa di olah menjadi limbah, juga bisa menghasilkan uang. Maka dari itu, dia segera membicarakan ide-idenya itu dengan Teno.
“Bank sampah??? Apa itu??” Tanya Teno keheranan.
“Bank yang mana orang-orang menjual sampah-sampah yang dikumpulkannya untuk ditukar dengan uang”, jawab Sabdo menjelaskan kepada Teno.
“Apa bedanya dengan tempat rongsokan yang kita datangi setiap harinya itu?”, Tanya Teno lagi.
“Beda. Di Bank sampah setiap orang juga dapat meminjam uang disini”.
“Oh, saya tau maksud sampeyan. Jadi, kita menjadi pelopor dari berdirinya gerakan Bank sampah ini? Untuk membantu orang-orang disini dengan sampah itu?”. Kata Teno sambil bergaya layaknya orang yang memberikan pidato atau ceramah di gedung DPR.
Akhirnya Teno dan Sabdo mulai merencanakan dan menjalankan rencana-rencana dan ide-ide dari Sabdo tersebut. Mereka mulai membangun tahap demi tahap. Awalnya pemikiran mereka tidak diterima oleh masyarakat sekitar. Mereka berpikir bahwa Teno dan Sabdo sudah gila. Mana mungkin seorang yang tanpa pendidikan, miskin, bodoh, dan tidak punya uang, bisa berbuat hal senekat itu dengan membangun bisnis kecik-kecilan.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Lama kelamaan orang-orang mulai percaya dengan bisnis mereka dan banyak pula orang membantu mengembangkan bisnis mereka. Orang-orang disekitar pun mulai tertolong dengan adanya Bank sampah. Mereka juga tidak perlu lagi susah payah jika mengalami kesulitan uang ataupun tidak punya uang mereka bias meminjam di “Bank sampah”.
Sampai pada suatu hari ketika berita adanya bisnis “Bank sampah” yang dikelola Sabdo dan Teno terdengar ditelinga Arga. Arga adalah seorang businessman dalam pengelolaan dan produksi barang-barang bekas yang cukup terkenal di tengah kota. Dia meneruskan usaha ayahnya yang telah tiada itu. Arga penasaran dan tertarik oleh bisnis “Bank sampah” yang dipelopori oleh Sabdo, yang mana bisnis itu bias berkembang pesat dan membantu masyarakat yang ada di sekitar komplek kumuh itu.
Senja kala datang waktu itu. Mendung gelap sedikit menghimpit mega yang wajahnya memerah. Matahari pun akhirnya kembali keperaduannya. Arga memutuskan mengunji komplek tersebut. Sepanjang perjalanan, dia berpikir, melamun sejenak. Di depannya sudah terdapat laptop yang menyala, disamping kanan kirinya TV LCD dan DVD tersedia demi kenyamanan.
“Seperti apa orang itu? Nekat sekali dia membangun usaha seperti itu. Sepintar apakah dia?”. Arga berbicara dalam hati sambil masih penasaran.
“Kalau usaha kita begini terus Do, kita bakal jadi orang kaya. Dan sampeyan bisa sekolah lagi seperti yang sampeyan pinginin”, Teno berbicara sambil menghitung uang hasil keuntungan dari “Bank sampah”.
“Saya pingin belajar dulu No….”, jawab Sabdo sambil menyeruput air the yang ada di dalam cawan biru tua.
“Saya ingin mengajar anak-anak di sekitar sini”.
“Oalah Do…… Do…., laha wong usaha ini belum selesai, minta usaha lain lagi. Sampeyan ini gimana-gimana yang ini dijalani dulu baru yang satunya”, Teno keheranan.
“Saya gak bilang kalau ini usaha. Tapi saya Cuma ingin mengajar. Kasihan mereka, seharusnya jadi orang-orang yang pintar dan berhak mengenyam pendidikan. Biar ibu pertiwi bangga pada mereka”, Sabdo menjelaskan dengan tegas.
Heran mendengar ucapan sabdo tersebut, lalu Teno mengacuhkannya, “Ya…. Terserah sampeyan sajalah!!”
Angin malam berhembus lumayan kencang saat itu. Sepertinya malam ini nampak kurang bersahabat dengan Sabdo. Dan dia juga merasa kalau dari tadi ada yang mengikutinya dari belakang.
“Kamu Sabdo?” suara dari seorang pria yang tinggi, tampan, kulit putih, dan berpakaian sangat rapi.
“Anda siapa?” seperti terbelalak mata Sabdo.
Karena tidak ada seseorang dengan penampilan dan gaya seperti itu bisa masuk ke perkampungan kumuh seperti itu.
“Aku Arga, aku ingin menawarkan bisnis padamu” ajak Arga tanpa basa-basi mengutarakan maksud kedatangannya.
Sabdo mulai berpikir. Ini adalah salah satu jalan untuk peluang kerjanya agar dapat lebih berkembang lagi dengan bergabung sebagai partner dalam satu tim kerja. Tapi Sabdo malah bingung, kenapa orang kaya itu memilih dia yang miskin dan hanya tamatan SMA saja.
“Dalam berbisnis, kita tidak boleh memilih derajat atau status sosial, yang penting bakat, kemauan, dan semangat juang yang tinggi, itu yang lebih penting. Kalah atau rugi itu sudah biasa. Sudah aku perhitungkan”, Arga menjelaskan dengan tepat.
“Baik, aku setuju. Aku terima tawaranmu” saling berjabat tangan dengan tekad yang bulat.
Arga dan Sabdo mulai menjalankan bisnis mereka. Lambat laun, usaha yang mereka bangun dan bina bersama, berkembang pesat dan mengalami prospek kerja yang memuaskan. Tono juga ikut membantu tercapai suksenya bisnis Sabdo selama ini.
Akhirnya dengan perjuangan Sabdo, dia dapat melanjutkan pendidikannya, bahkan kuliah sampai ke luar negeri.
“Terima kasih Ar…. Ibuku pasti tenang di alam sana karena dapat sukses seperti ini kerenamu”.
“Bukan aku…… tapi kau sendiri. Karena kerja kerasmu dan semangat yang tanpa henti kau dapat seperti ini. Aku hanya Cuma bisa membantu”.
Mereka yang kini telah menjadi orang sukses dan berhasil saling memegang pundak satu sama lain sambil melihat indahnya matahari terbit di ufuk timur Cina, tempat mereka menimba ilmu dan menjadi orang sukses.
Sabdo tak lupa akan kampung halamannya. Setelah dia berhasil dan menjadi sarjana, dia pulang kembali ke Indonesia bersama Arga. Arga memutuskan untuk menggeluti lagi usaha ayahnya dan memperbesar proyeknya. Sedangkan Sabdo lebih memilih kembali ke kampungnya dan mengajar anak-anak yang kurang mampu disana untuk belajar. Dia teringat janji ibunya semasa hidup, bahwa dia harus jadi orang yang dapat memberi manfaat bagi orang. Apa gunanya kita hidup jika tidak dapat bermanfaat bagi orang banyak. Sabdo menyalurkan ilmu-ilmunya kepada anak-anak pemulung dan jalanan disana dengan membuka sekolah dadakan…………
TAMAT
Cari
Diposting oleh
ifa fauziah phe
0 komentar:
Posting Komentar