Jalan Surya
Surya, adalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Bapaknya bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Kedua adiknya masih duduk dibangku sekolah dasar. Penghasilan kedua orangtuanya yang tidak menentu, biaya hidup yang makin tinggi mengharuskan Surya bekerja untuk meringankan beban kedua orangtuanya. Pagi, sebelum berangkat sekolah, Surya berjualan nasi bungkus buatan ibunya yang dititipkannya di warung-warung sekitar terminal bus Arjosari,
Sampai pada waktu Surya pulang sekolah, ia melihat spanduk yang terpasang diantara dua tiang listrik. Spanduk bertuliskan pembukaan calon bintara polisi tahun 2010. Surya berdiri terpaku disebrang jalan, membaca seksama isi spanduk itu. Ia ingin sekali menjadi seorang bintara polisi.
Sampai dirumah, menjelang sore hari. Bapak dan ibu sedang duduk dipelataran rumah, kedua adiknya sedang belajar di ruang tamu. Surya memandang kedua orang tuanya dari balik pintu, pikirannya tertuju pada pendaftaran calon bintara polisi. Tapi, mungkin itu hanya mimpi. Kedua orang tuanya tidak punya banyak uang untuk mendaftarkannya. Bahkan, sekedar melanjutkan ke bangku kuliah saja sudah tidak ada gambaran.
“kenapa, nak?” Tanya ibu mendapati Surya sedang termenung sendirian.
“enggak, bu.” Jawab Surya singkat.
“pasti ada yang ingin dibicarakan. Iya
Surya mendekat ke orang tuanya, duduk disebelah bapak.
“ada pendaftaran bintara polisi, pak, bu.” Kata Surya membuka pembicaraan.
Bapak menarik nafas panjang.
“Surya ingin ikut. Apa boleh?” Tanya Surya ragu.
Bapak mengangguk. “yang menentukan masa depan mu ya dirimu sendiri. Bukan bapak, bukan ibu, dan bukan siapapun.” Kata bapak.
Ibu membelai rambut Surya dengan pelan.
“kamu sudah dewasa, nak. Itu terserah kamu. Bapak akan berusaha semaksimalnya untuk kamu dan adik-adikmu.” Kata bapak.
“mungkin bapak dan ibumu tidak bisa sepenuhnya membekali materi, nak. Tapi, percayalah, doa orang tua tidak pernah putus untuk anak-anaknya. Cobalah, selagi ada waktu, kesempatan, dan kemampuan.” Ibu menyemangati Surya.
Dua minggu kemudian, Surya berangkat ke
Pukul 10.00 wib. Gedung Mahameru POLDA JATIM di penuhi para pendaftar dari berbagai daerah yang mempunyai keinginan sama dengan Surya. Surya berjalan lalu merapat barisan untuk menyerahkan kelengkapan persyaratan. Terlebih dahulu, Surya harus melewati seutas tali yang dipasang dengan tinggi 165 cm. jika kepala Surya menyentuh tali itu, maka Surya dinyatakan lolos untuk tinggi badan. Setelah itu, Surya menyerahkan kelengkapan persyaratan pendaftaran, jika sudah lengkap, maka Surya bisa mendapatkan nomor tes.
Surya mendapat nomor tes 245. Ia langsung pulang ke rumah, dan memberitahukan kepada orang tuanya.
“pak, bu. Saya dapat nomor tes 245. Tes pertama adalah baris berbaris, kedua kesehatan, ketiga psikologi 1, keempat tes tulis, kelima tes psikologi 2, keenam tes kesehatan 2, dan penentuan terakhir di
“ya, nak. Meskipun bapak dan ibumu seperti ini. Tapi, jangan pernah berkecil hati dan putus asa. Jadikan ini suatu semangat untuk menggapai sukses.” Kata bapak.
Surya mengangguk. Semangat untuk berjuangnya berkobar penuh. Ia ingin membuat orang tuanya bangga, ingin membantu menyekolahkan adiknya. Surya harus berusaha terbaik semaksimal mungkin dan selalu berdoa meminta kemudahan dan petunjuk kepada Tuhan.
Pagi, seperti biasanya sebelum matahari terbit. Surya lari mengelilingi lapangan sepak bola yang terletak tak jauh dari rumahnya. Kegiatan ini rutin dilakukannya semenjak duduk di bangku kelas XII semester awal. Ini supaya kondisi badan Surya stabil dan mampu menjalani serangkaian tes. Terutama tes kesehatan. Setelah lari, Surya tak lupa menitipkan nasi – nasi bungkus di warung – warung sekitar terminal Arjosari. Surya sangat bekerja keras di masa mudanya.
Hari, yang ditunggu datang. Inilah saatnya menjalani tes pertama, baris-berbaris. Surya sudah bersiap sejak dini. Ia menghilangkan rasa gugupnya dengan berdoa, ia harus berkonsentrasi penuh jangan sampai melakukan kesalahan yang berakibat fatal. Seminggu kemudian, hasil tes diumumkan, Surya lolos dalam tes pertama. Ia merasa senang namun ia tidak langsung terbuai karena masih ada banyak tes yang menantinya.
Setelah menjalani beberapa macam tes, dan Surya dinyatakan lolos. Betapa senangnya hati Surya, dan juga kedua orang tuanya. ia bersyukur, tidak menyangka bakal diberi kemudahan oleh Tuhan untuk menyelesaikan tes sampai tingkat yang jauh. Tinggal dua penentuan terakhir atau yang biasa disebut pantukir, yang harus dilewati Surya. Penentuan terakhir dengan tes yang sama seperti sebelumnya yaitu tes kesehatan, tes psikologi, dan tes tulis. Untuk penetuan terakhir yang pertama, diadakan di
Kali ini, untuk tes terakhir yaitu tes tulis dalam pantukir I di Surabaya. Surya menjalaninya didampingi kedua orangtuanya. Bapak dan ibu tidak henti-hentinya berdoa supaya anaknya mampu menjalani tes ini dan bisa melanjutkan ke tes berikutnya. Setelah tes berlangsung, tidak serta merta pengumuman hasil tes diumumkan. Memerlukan waktu dua minggu untuk mengetahui hasil tes tersebut. Waktu dua minggu dipergunakan Surya untuk membantu kedua orang tuanya seperti biasa.
Dan, waktu itu telah tiba. Hari ini adalah pengumuman siapa saja yang bakal maju mewakili Jawa Timur untuk penentuan terakhir di
Surya, kembali pulang ke rumah. Ia menyiapkan segalanya untuk berangkat ke
“nak.” Panggil ibu diseberang pintu.
“ya.” Jawab Surya. “masuk, bu.” Kata Surya.
Ibu masuk ke dalam kamar Surya. Lalu duduk di sebelah Surya. ibu melihat betapa optimis dan semangat sekali anaknya untuk melalui tes berikutnya.
“kapan berangkat, nak?” Tanya ibu.
“insya Allah jum’at, bu. Mungkin sampai
Ibu membelai rambut Surya. “tak diminta pun, ibu selalu mendoakan, nak.” Jawab ibu. “jaga diri, nak. Jangan sampai lupa sholat.” Nasehat ibu.
Jum’at pukul 14.00 wib. Terminal Arjosari
“bapak, ibu, doakan Surya sukses.” Pinta Surya dengan mencium kedua tangan orang tuanya.
Bapak mengangguk pasti, ibu berlinangan air mata, dan kedua adik Surya menangis.
“adik, jangan nakal. Terus belajar dan bantu bapak ibu.” Pesan Surya kepada kedua adiknya.
“Surya akan kembali kesini dengan memakai seragam polisi. Doakan Surya.” kata Surya dengan tersenyum semangat lalu memasuki bus.
“hati-hati, nak.” Kata bapak dan ibu.
Surya pun berangkat ke
Setelah menjalani tes dan Surya dinyatakan lolos menjadi anggota bintara polisi. Tak lupa Surya memberitahu kepada kedua orang tua dirumah. Betapa senang dan bangganya orang tua Surya. meskipun, setelah dinyatakan lolos menjadi bintara polisi, Surya tidak bisa langsung pulang ke rumah melainkan harus menjalani pendidikan selama 3 bulan.
Surya pun bangga karena dapat meraih cita-citanya. Ia merasa inilah salah satu hasil kerja keras dan ke prihatinnanya selama ini. Ia sadar tidaklah mudah untuk mencapai suatu keberhasilan, banyak rintangan yang harus dilalui. Yang terpenting yaitu usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu omong kosong.
0 komentar:
Posting Komentar