POHON APEL DAN POHON JAMBU BIJI
Di sebuah desa hiduplah Pohon Apel dan Pohon Jambu Biji. Mereka hidup bersama di suatu kebun. Pohon Apel selalu menjadi yang pertama karena kepala desa dan warga desa suka dengan buah apel. Buah apel berwarna merah, mempunyai bentuk yang unik, dan rasa buahnya yang manis membuat semua orang suka. Tetapi beda dengan Pohon Jambu Biji. Kepala desa dan warga desa tidak suka dengan buah jambu biji. Buah jambu biji berwarna hijau, bentuknya bulat tidak rata dan rasa buahnya masam sehingga tidak ada yang suka dengan buahnya.
Suatu ketika istri kepala desa pergi ke kebun untuk memetik buah apel. Setelah buah apel dipetik satu keranjang, istri kepala desa meninggalkan kebun.
Pada waktu itulah Pohon Apel berkata pada Pohon Jambu Biji,
“Lihatlah Jambu Biji semua orang suka buahku karena rasanya yang manis dan enak. Lihatlah dirimu Jambu Biji semua orang tidak suka dengan buahmu. Buahmu masam dan tidak enak, tubuhmu bundar seperti bola pimpong.”
Dengan sombongnya Pohon Apel berkata seperti itu, sedangkan Pohon Jambu Biji hanya bisa diam dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Pohon Apel sadar bahwa perbuatannya itu tercela.
Di rumah kepala desa akan diadakan sebuah acara syukuran dan buah apel menjadi makanannya. Buah-buah apel yang baru diambil dari kebun dikupas kulitnya dan segera dibuat masakan pudding oleh istri kepala desa. Setelah masakan jadi, buah apel diletakkan di sebuah baskom besar di meja makan. Selama acara, semua orang yang datang banyak mengambil pudding apel. Pudding apel habis dengan cepat. Pohon Apel yang dari tadi melihat buahnya dimakan oleh semua orang tersenyum senang karena semua orang suka dengan buahnya. Pohon Apel juga tersenyum sinis pada Pohon Jambu Biji. Pohon Jambu Biji lagi-lagi diam, hanya bisa menangis dan selalu berdoa untuk Pohon Apel.
Suatu hari kepala desa jatuh sakit. Menurut dokter yang memeriksa, kepala desa terkena penyakit demam berdarah. Penyakit itu disebabkan karena kepala desa terkena gigitan nyamuk aedes aegypti dan sekarang kepala desa kekurangan sel darah putih. Istri kepala desa memberitahu seluruh warga desa. Warga desa dikumpulkan, Pohon Apel dan Pohon Jambu Biji juga ikut mendengarkan. Istri kepala desa kemudian berkata,
“Kepala desa sedang sakit. Kepala desa terkena penyakit demam berdarah dan membutuhkan buah untuk mengganti sel darah putih yang rusak. Barang siapa yang dapat menemukan buah untuk kepala desa dan membuat kepala desa sembuh dari penyakitnya akan mendapat hadiah berupa satu hektar sawah.”
Para warga yang mendengar berita itu langsung mencari buah untuk kepala desa. Pohon Apel yang dari tadi mendengar berita itu merasa yakin warga desa akan memilih buahnya karena buahnya disukai oleh kepala desa.
Pohon Apel berkata pada Pohon Jambu Biji,”Buah itu tentunya buahku. Buahmu tidak mungkin dipilih karena kepala desa tidak suka dengan buahmu yang tidak enak itu.”
Pohon Jambu Biji,”……”
Para warga desa sedang berkumpul di kebun, mencari buah yang tepat untuk kepala desa. Ada yang memetik buah apel, buah jambu merah, buah jeruk, buah salak, dan buah anggur.
Banyak yang memetik buah apel karena kepala desa sangat suka dengan buah apel. Tetapi salah seorang warga ada yang mendekati Pohon Jambu Biji dan memetik buahnya. Dia mencoba buahnya. Setelah dia merasakan buah jambu biji, dia berpikir bahwa buahnya yang masam pasti bisa mengganti sel darah putih yang rusak. Buah jambu biji kemudian dia petik untuk kepala desa.
Semua warga dikumpulkan kembali, dokter secara langsung menjadi juri dalam perlombaan itu. Semua buah milik warga dikumpulkan kemudian diteliti oleh dokter.
Beberapa saat kemudian dokter telah menemukan pemenangnya. Warga yang sudah menunggu tidak sabar mengetahui siapa pemenangnya, begitu pula dengan Pohon Apel dan Pohon Jambu Biji. Dokter mengumumkan pemenangnya adalah warga yang memetik buah jambu biji.
Pohon Apel marah dengan Pohon Jambu Biji.
Pohon Apel berkata,”Jambu Biji kamu tidak adil. Kamu curang membuat rasa buahmu manis, padahal rasamu masam.”
Pohon Jambu Biji berkata,”Siapa yang curang Apel? Aku tidak membuat buahku manis.” Selama berkata Pohon Jambu Biji juga sesekali berdoa untuk Pohon Apel dan untuk kepala desa agar cepat sembuh.
Kemudian terdengar suara dokter berkata,”Buah jambu biji ini rasanya masam dan mengandung vitamin yang cocok untuk mengganti sel darah putih yang rusak.”
Setelah dokter berkata seperti itu Pohon Apel malu dan merasa bersalah dengan Pohon Jambu Biji.
Keesokan harinya Pohon Jambu Biji merasa senang karena kepala desa sudah berangsur-angsur membaik. Tetapi, Pohon Jambu Biji juga merasa sedih karena teman yang ada disebelahnya merasa kecewa.
Di sisi lain, Pohon Apel merasa bersalah atas perbuatan yang dia lakukan selama ini kepada Pohon Jambu Biji. Sekarang dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Pohon Jambu Biji yang tidak disukai oleh semua orang. Pohon Apel menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf kepada Pohon Jambu Biji. Tetapi, Pohon Apel malu ketika akan berbicara dengan Pohon Jambu Biji karena dia sudah terlalu jahat kepadanya.
Suatu ketika saat kepala desa memakan buah jambu biji, Pohon Jambu Biji mendengar kepala desa berkata pada istrinya,”Saya masih suka dengan buah apel.” Suatu kabar gembira untuk Pohon Apel, dan Pohon Jambu Biji segera memberitahukan kepada Pohon Apel.
Pohon Apel yang dari tadi diam melihat Pohon Jambu Biji mendekatinya. Pohon Apel ingin semoga Pohon Jambu Biji berbicara padanya. Dan ternyata Pohon Jambu Biji berkata pada Pohon Apel.
Pohon Jambu Biji berkata,”Apel tidak perlu terlalu sedih kita bisa hidup bersama, karena tadi aku dengar kepala desa masih suka dengan rasa buahmu yang manis itu.”
Pohon Apel segera berkata,”Jambu Biji aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. Aku terlalu senang dengan diriku dan jahat kepadamu. Sekarang aku sadar semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.”
Pohon Jambu Biji menjawab,”Aku bersyukur Apel kamu sudah sadar. Sebenarnya dari dulu aku sudah memaafkan sikapmu dan aku terus berdoa agar kamu sadar. Sekarang aku merasa senang. Kita bisa hidup bersama dan menjadi sepasang sahabat yang saling menyemangati.”
Pohon Apel dan Pohon Jambu Biji sama-sama tersenyum.
Beberapa menit kemudian istri kepala desa pergi ke kebun dan sekarang istrinya tidak lagi memetik buah apel saja tetapi juga memetik buah jambu biji. Buah apel yang disukai oleh kepala desa dengan buah jambu biji untuk kesehatan kepala desa sekarang berada di dalam sebuah keranjang yang dibawa oleh istri kepala desa. Mereka berdua selalu ada di meja makan kepala desa. Di kebun, Pohon Apel dan Pohon Jambu Biji juga menjadi sahabat untuk selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar