Cari

Cita-citaku Tak Tercapai……..

Di desa Pangarengan, kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, Terdapat Seorang Remaja Lelaki yang berumur sekitar 18 tahun. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Remaja tersebut bernama Wira. Wira termasuk anak yang nakal dan bandel disekolahnya. Tetapi, dari kenakalannya tersebut, ia merupakan sosok yang pandai dan jenius dalam kegiatan belajar di sekolahnya. Dari kelas I sampai kelas III SMA, wira selalu mendapat rangking/peringkat 1 dan selalu menjadi juara kelas. Padahal, Orang tuanya tau bahwa dalam kesehariannya dirumah, aktivitas wira hanya bermain PS, nongkrong, dan selalu keluar malam bersama dengan teman-teman sebayanya. Mak wira tidak pernah melihat wira membuka buku pelajaran, hanya pada saat menjelang ujian saja, mak wira melihat wira membuka dan membaca buku pelajarannya. Orang tua wira pun merasa heran, mengapa wira berturut-turut selalu mendapatkan rangking/peringkat 1 disekolahnya. Orang tuanya pun mencoba menanyakan hal tersebut pada wali kelas wira, tentang kegiatan apa saja yang dilakukan wira disekolahnya.

”Bu,,,Bagaimana, Sikap wira dikelasnya,,?” kata mak wira

”Sikap wira baik, bu” kata wali kelas wira

”Tapi yang saya dengar dari teman-temannya, wira itu selalu membuat onar di sekolah....Apa betul itu, Bu?” kata mak wira

”Iya, betul Bu....Wira memang anak yang nakal dan susah diatur, Tapi dalam hal belajarnya, Wira mempunyai kecerdasan yang lebih dan memang jarang sekali ditemukan seorang anak yang nakalnya minta ampun, tetapi cerdas seperti wira ini bu.....” kata wali kelas wira

”Ibu yakin, kalau Wira itu anak yang pintar,,,? dan Apakah dalam pelaksanaan Ujian Kemarin Wira sering menyontek pada teman-temannya,,,,?” kata Mak Wira

”Tidak Bu...., Saat pelaksanaan Ujian Berlangsung, Wira tidak pernah menyontek apalagi tolah-toleh dengan teman-temannya,,,,Ia selalu diam dan fokus dalam mengerjakan soal ujian. Malah teman-teman Wira yang sering mencontoh jawaban Wira saat Ujian itu berlangsung....” kata Wali Kelas Wira.

”Anda yakin...Bu?” kata Mak Wira

”Saya YAKIN betul.....kalau Wira itu mengerjakan soal itu sendiri, karena saya yang mengawasi ujian pada saat itu dan saya juga yakin bahwa wira mempunyai IQ tinggi dibandingkan dengan teman-temannya yang lain”. Kata Wali Kelas Wira.

”Ohhh,,,,,syukurlah kalau begitu” kata Mak Wira dengan perasaan yang senang dan lega.

Setelah percakapan diantara keduanya selesai, lalu Emak Wira berpamitan pulang kepada Wali Kelas Wira.

* * * * * *

Di pagi Hari yang cerah dan segar, Wira bersiap-siap untuk berangkat kesekolahnya untuk mengikuti Ujian Akhir Sekolah.

”Mak...Wira berangkat dulu,..do’akan wira yaa mak,,,agar wira dapat menyelesaikan soal tersebut dengan benar,,,,,,” kata Wira

”Iya,,,emak do’akan semoga kamu lancar dalam mengerjakan soal itu.......” kata mak wira

”Assalamualaikum” kata wira

”Waalaikumsalam...,,Hati-hati yaa nak...dan jangan lupa sebelum berangkat baca do’a dulu,,,,” Sahut Mak Wira

”Iya,,,Mak,,”jawab Wira

Setelah tiba disekolah, Seperti biasanya wira selalu berkumpul bersama dengan teman-temannya dikantin sebelum bel masuk berbunyi, Karena tadi ia tidak sempat sarapan dirumah lalu wira memesan makanan dan minuman. Tak lama setelah ia menghabiskan makanan tersebut, timbullah sifat jelek wira. Ia dengan seenaknya tidak mau membayar makanan dan minuman yang dipesannya tadi. Penjaga kantin pun jengkel dan marah, karena ulah wira tersebut dan langsung memukuli wira. Salah satu teman wira pun melerai pertengkaran itu dan langsung membayar semua makanan dan minuman yang telah dipesan wira tadi.

Setelah kondisi ditempat itu mulai reda, akhirnya wira bersama dengan teman-temannya langsung masuk ke kelas untuk mengikuti ujian.

* * * * * *

Di siang hari yang panas dan terik, sang surya bersinar dengan ganasnya membuat ubun-ubun wira terasa mendidih. Wira mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.

” Huh....lega rasanya,,,,akhirnya Ujian itu selesai juga...” Ia menghela nafas dan beranjak masuk kedalam. Baru saja melangkahkan kaki kedalam rumah, ia menemukan uang berserakan dilantai.

” Hah, uang sapa pula ini Mak, ” katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini, uang dibiarkan berserakan dilantai begitu saja. ” Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk kedalam rumah ” pikirnya nakal

” Uang punya mak. Berikan sama mak. Bapak mau keluar.” sahut bapak

” Hmm, mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar Uang Buku, Les dan Uang formulir pendaftaran masuk Perguruan Tinggi.” pikirnya

” Maaak, Ooo Maaak,” panggil wira

” Ada apa, Wir. Ganggu orang saja kamu ini,” kata maknya jengkel

” Lalu wira menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa Uang buku, Les dan Uang formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukan diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya. Maknya malah menyuruh wira cari uang sendiri. Kemanakah Uangkan dicarinya?” Ah, emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan, kita bisa menatap masa depan yang gemilang”. Meskipun wira termasuk anak yang nakal dan susah diatur, tapi wira sangatlah perduli terhadap pendidikan.

” Buat apa kamu sekolah? Lihat itu, banyak yang sekolah tinggi-tinggi, tapi akhirnya Cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah? Buang-buang uang saja. Kamu tidak tahu, utang emakmu ini dimana-mana,....Dari mana emak dan bapak memperoleh uang untuk menyekolahkan kamu? Buat makan, Saja Susah? ” Tambah Maknya lagi.

Wira lebih memilih diam daripada menjawab omongan Maknya. Ia menyayangkan kenapa Maknya mempunyai pola pikir terbelakang Seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi maknya malah melarangnya untuk melanjutkan sekolah.

Karena merasa kelelahan sehabis pulang sekolah, Ia beristirahat sejenak dan berbaring ditempat tidurnya untuk melepas rasa lelahnya.

* * * * * *

Beberapa saat setelah ia tertidur pulas, Ia mendengar suara berisik yang berasal dari depan kamar tidurnya. Dengan cepatnya, wira bangun dan segera menghampiri sumber suara itu. Ia pun berusaha mengintip dan mencari tahu siapa orang diluar yang sedang berbicara dengan Maknya itu. Sewaktu wira mengintip keadaan di luar sana, ia melihat adiknya Lina yang pada saat itu yang terlihat sangat cantik dengan mengenangkan kebaya yang bagus, duduk bersanding dengan lelaki tua. Ternyata lelaki tua itu adalah juragan Sardi, seorang yang kaya raya di desa tersebut yang mempunyai usaha perikanan, pertanian dan tambak. Di sisi lain, Tampak sekali kesedihan di raut wajah lina. Wira masih belum mengerti apa maksud kedatangan juragan Sardi kerumahnya.

Tak lama kemudian Juragan Sardi pulang dari rumahnya. Dengan cepatnya, Wira langsung keluar dari kamarnya dan menanyakan tentang kedatangan juragan Sardi kepada Maknya.

” Mak...ada apa, kok tumben pak sardi datang kesini?” kata Wira

Lalu Maknya menjawab, ”Dia mau menagih hutang, karena hutang Emak dan bapak mulai menumpuk dan jatuh tempo”.

”Lalu, kenapa Lina ikut menemui Pak sardi?” kata Wira

”Mak mau menjodohkan adikmu dengan Pak sardi” kata Mak wira.

”Apaaa? Mau dijodohkan?” Sahut Wira dengan wajah terkejut.

”Iya, Pak sardi mau melunasi semua hutang kita, asalkan lina mau menjadi Istri Pak sardi” kata Mak wira.

”Tapi, mak,,,,,?” Sahut Wira.

”Sudahlah Wir, kamu jangan menghalangi niat Mak untuk menikahkan Lina dengan Pak sardi, Toh nantinya berimbas pada kamu juga kan?” kata Mak wira

”Maksud Mak apa??” tanya wira

”Dengan menikahkan Lina dengan Pak sardi, kita bakal menjadi orang yang kaya di desa ini dan juga kamu dapat meraih impian kamu untuk kuliah di luar negeri” kata Mak wira.

”Tapi bagaimana dengan sekolah Lina, Mak?” Tanya wira lagi.

”Mak akan memberhentikan sekolah Lina”kata Mak Wira.

”Tapi mak, sekolah itu penting” kata Wira

”Sekolah tidak terlalu penting,...Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya tempat lina di dapur juga kan?” kata mak wira

Akhirnya wira pasrah dengan keadaan yang ada. Ia tidak tahu kedepannya bagaimana dengan nasib adiknya itu.

* * * * * *

Setelah 7 hari kedatangan Pak sardi kerumah Wira, akhirnya pak sardi langsung meminang Lina menjadi Istri ketiganya. Tampak sekali kesedihan diraut wajah cantik lina. Tapi apa mau dikata, wira tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menghalangi rencana yang telah dibuat emaknya itu.

Setelah 3 minggu telah berlalu, wira mendapat surat kelulusan dari sekolahnya. Wira tampak senang dengan kelulusannya tersebut, karena hasilnya sangat memuaskan. Lalu wira langsung pulang kerumahnya dan segera memberitahu emak, bapak, lina beserta iparnya Pak sardi mengenai kabar baik itu. Semua keluarga wira pun merasa senang atas hasil yang wira capai, setelah ia bersekolah selama 3 tahun di SMA. Wira berjanji kepada seluruh keluarganya, bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh selama ia menuntut ilmu di negeri kangguru, Australia.

Lusanya, wira beserta keluarganya berangkat bersama-sama, mengantarkan wira ke bandara. Dengan hati yang berat, wira berjalan selangkah demi selangkah pergi meninggalkan seluruh keluarganya menuju ke pesawat yang akan ditumpanginya. Di dalam pesawat, wira meneteskan air mata kesedihan karena harus berpisah sementara waktu dengan keluarganya. Tapi ini demi kebaikan wira, karena dengan kepergiannya ke luar negeri bertujuan untuk menuntut ilmu.

Beberapa jam kemudian, sampailah wira di kota Melbourne dan langsung mencari bis menuju ke asramanya. Disana wira bertemu dengan banyak orang-orang asing. Wira dan semua anak-anak di asrama tersebut saling berkenalan satu sama lain dan wira langsung menjalin keakraban dengan teman-teman barunya itu.

* * * * * *

Tidak terasa, sudah 3 bulan lamanya wira menjalani kuliahnya. Wira pun merasakan kejenuhan karena setiap harinya dihadapkan dengan tugas-tugas yang menumpuk. Karena tidak tahan dengan keadaan tersebut, akhirnya wira mencari suasana yang baru. Wira pun langsung diajak ke tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan rasa jenuhnya tersebut, seperti labbing dan tempat-tempat biliard oleh teman-teman wira. Teringat pesan-pesan dari emaknya, Wira pun menolak ajakan temannya tersebut. Tapi temannya tersebut tidak putus asa, temannya terus menerus membujuk dan merayu wira agar wira mau ikut dengannya. Setelah mendapat rayuan dari teman-temannya tersebut, akhirnya wira mau ikut bersama mereka. Setelah sampai ditempat itu, wira ditawari minuman-minuman beralkohol dan disuruh mencoba mengkonsumsi sabu-sabu. Karena rayuan dan bujukan dari teman-temannya tersebut, akhirnya wira mau mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu. Seringnya mengkonsumsi obat-obatan tersebut, akhirnya wira menjadi kecanduan dan uang jatah bulanan dari emaknya tersebut, ia gunakan untuk membeli obat-obatan terlarang itu.

* * * * * *

Setelah 1 bulan kemudian, Mak wira mendapat telepon dari teman wira di australia, bahwa wira tertangkap polisi tadi malam, karena pesta sabu bersama dengan teman-temannya yang lain. Bagai guntur di siang bolong emak dan bapak wira kaget bukan kepalang. Tidak hanya tertangkap, kabarnya wira mengalami overdosis karena terlalu banyak mengkonsumsi sabu-sabu. Wira pun langsung dipulangkan ke indonesia. Kasusnya pun langsung di tangani oleh pihak kepolisian RI dan langsung dibawa ke RS Jakarta. Emak dan bapak wira pun langsung berangkat menuju jakarta. Setelah sampai dijakarta, emaknya menangis melihat kondisi wira saat itu. Karena perbuatannya tersebut, akhirnya Wira pun di keluarkan dari kampusnya. Emak dan bapaknya menyesali, karena telah menyekolahkan wira di luar negeri. Padahal, kualitas perguruan tinggi di luar negeri tidak kalah jauh dengan kualitas perguruan-perguruan tinggi di indonesia. Seandainya saja dulu wira di sekolahkan di wilayah-wilayah terdekat, seperti Surabaya, pasti orang tuanya dapat mengawasi dan memantau semua kegiatan dan aktivitas yang dilakukan wira selama ia kuliah. Nasi sudah menjadi bubur, emak wira hanya bisa menangis melihat kondisi wira saat ini. Semua cita-cita wira pun telah hilang dan semua itu takkan bisa kembali seperti sedia kala.

0 komentar:

Posting Komentar