Cari

Langkah Berat yang tak kan Terhenti

Seiring waktu yang menemani kegelisahan hati atas ketidaksempurnaan pada diri, begitu banyak teka-teki kehidupan ini dan apakah semua jawaban itu tersembunyi atau memang tak kan kudapati.

Ku hanya manusia biasa yang kini telah beranjak dewasa, ku bukanlah pemilik segala tapi ku juga bukan orang yang tak punya apa-apa. Kekurangan banyak melilit pada diri dari aku yang tak cukup pintar, tak cukup proposional dari fisik, tak ada yang lebih yang dapat dilihat dari diriku. Tapi ku memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup ku yaitu adalah cinta dari keluarga yang selalu setia mendukung dalam setiap perbuatan yang ku coretkan dalam lembar perjalanan hidupku. Meski aku tau dan merekapun tau bahwa aku tak pernah menjadi yang terbaik, namunku selalu berusaha untuk hal itu. Melangkah bersama seorang sahabat merupakan anugerah terindah yang tak terpungkiri, dimana mereka dapat memotivasi atas diri untuk menjadi lebih berani menatap cerahnya langit biru yang dilukiskan sang Pencipta dan menjadikanku untuk belajar dalam segala hal pengembangan diri serta pembekalan yang masih perlu diperbaiki.

Ku mengenal cinta tapi ku tak mendapatkan cinta yang ku ingin, akupun berpikir mungkin bukan saatnya aku tuk memikirkan hal tersebut karena aku masih terlalu lugu dan polos untuk disakiti oleh yang namanya cinta meski ku tau bahwa sebenarnya ku telah pantas untuk merasakan cinta.

Aku, nama ku adalah Kansa Sabrinegea keturunan orang Jawa dan Kalimantan. Mama ku dari Jawa sedangakan ayahku dari Kalimantan, watak yang sedikit berbeda antara orang Jawa dan Kalimantan, dimana mama ku lebih pada kelembutan dan kasih sayang penuh dalam mendidik anak-anaknya. Bebeda dengan ayah ku, beliau lebih pada kedisplinan dan menanamkan pada diri anak-anaknya untuk menjadi seorang yang mampu bertanggung jawab.

Orang-orang biasa memanggil ku dengan panggilan Gea, aku termasuk orang yang manja begitu kata para sahabat ku tercinta dan orang yang telah mengenal aku lama atau baru kenal saja, wajarlah mereka berstatment demikian karena ku memang anak bungsu dari 3 besaudara dan akupun juga sependapat dengan mereka semua “hehehhehe”.

Ku telah menempatkan diri di bangku perkulihan, perbedaan yang sangat luar biasa yang kurasakan, banyak orang asing disekeliling ku, dan bentuk kompetisi hebat didalamnya .

Semester 1 telah terlewati, aku tak merasa puas dengan hasil belajar ku selama 6 bulan. Ketidakadilan itu yang kurasakan, aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas kuliah dan tepat pada waktunya, sedangkan anak yang telat dalam pengumpulan tugasnya.. sama saja hasil belajarnya dengan aku. Padahal dosen berkata “Terakhir pengumpulan tugas besok”, dari sini artinya dosen tersebut tidak akan menerima pengumpulan tugas yang telat, “Apa aku yang salah menafsirkan perkataan tersebut” Tanda Tanya memenuhi benakku. Semua itu palsu buat aku, mau ngumpulin kapan saja akan sama hasilnya. Ku kecewa dengan semua ini….

Dendam ku masih berkecamuk hingga ku telah mendapatkan materi baru pada semester 2, ku benci, ku jengkel, ku marah. Mata kuliah yang ku percayai bahwasannya aku akan mendapatkan nilai sempurna yaitu A justru ku mendapatkan B. Apa salah ku??? ku bekerja keras untuk mata kuliah tersebut, ku menyukainya, hasil kerja ku pun tak mengecewakan dan dari pandangan orang yang menilai pekerjaan ku pun berkata itu bagus.

Tapi dari perjalanan semester 2 kini ku sedikit memahami apa itu yang disebut mahasiswa, apa itu bangku perkulihan, apa itu organisasi………

Semua itu karena ku telah menemukan teman baik dalam kelas yang sering kali memberikan pencerahan dan pengetahuan baru yang selama ini belum ku dapati dia adalah Nesa anak yang aktif dalam berorganisasi, serta aktif mengikuti perjalanan drama politik yang begitu dramatis dan tragis untuk disimak (capek bila bahas politik di Negara ini, gak ada titiknya, semua koma,,,,,,, “hehehhehehe..”).

Nesa mampu sedikit banyak merubah sudut pandang hidup ku untuk lebih berani bervokal dimuka umum ataupun untuk menyuarakan perasaan hati, ku senang bisa mengenalnya karena dia bisa menerima aku apa adanya, karena ku jauh berbeda darinya. Dia sosok yang kritis, pandai dalam berorganisasi dan aku hanyalah sebaliknya. Aku diajarkan banyak hal untuk menjadi mahasiswa yang sesugguhnya, mengikuti seminar, pelatihan, dan diskusi kecil membahas situasi yang sedang mencuat dipermukaan membuat aku lebih tahu banyak sesuatu dan akupun ingin sedikit merubah pola pikiranku setelah mengikuti pembelajaran-pembelajaran semua itu.

Rasa amarah akan hasil semester 1 masih membekas dihati (seperti lagunya laluna), tapi setelah mendengar kutipan dari seorang pemateri dari pelatihan yang aku ikuti, ku sedikit mempunyai pencerahan atas hal itu “Kegagalan bukanlah tercipta karena ulah orang lain, melainkan dari diri sendiri, hingga koreksilah diri kalian untuk belajar dari kegagalan dan mencapai keberhasilan”. Dari pelatihan itu ku mencoba untuk mengkoreksi diriku, dan kini ku tahu sesungguhnya ku tak pentas menyalahkan semua yang telah terjadi hingga ku harus terpuruk meratap hasil belajar ku yang menyedihkan. Ku mulai menyukai proses hidup yang kujalani saat ini, PERUBAHAN… Aku menginginkan ini, “perubahan akan terjadi membutuhkan tindakan”. Aku ingin menjadi orang yang lebih dari diriku saat ini, ku ingin menorehkan sesuatu yang hebat hingga keluarga ku bangga akan prestasi yang telah aku capai, aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda dalam diriku hingga sahabatku terkesan akan diriku.

Kini ku menjajal apa itu perubahan, sedikit pertengkaran batin karena takut untuk memulai, takut dipandang berbeda, tapi ku mencobanya. Aku sedikit menyibukkan diri ku dikegiatan UKM HIMAFO, disini ku mendapatkan pembelajaran seperti satu tiga pulau telah terlewati dimana ku mendapatkan ilmu tentang fotografer tapi ku juga bisa menerapkan di Mata kuliah ku yang berhubungan dengan hal ini, dan satu lagi disini ku menemukan keluarga baru yaitu teman-teman Himafo. Ku senang dengan aktifitas hidup ku kini seperti iklan Chitato “Life is Never Flat” ku merasakan Greget dalam hidup ada Taste gag monoton lagi.

Dan perubahan terbesar yang aku lakukan saat ini ialah ku memberanikan diri untuk lebih dekat dan menunjukkan sinyal pada si dia bahwaku sesungguhnya memiliki rasa sayang yang berbeda pada orang lain, dimana rasa ini ada hanya untuknya dan tak kan pernah tergantikan dengan yang lain.

Beberapa Bulan Kemudian

Grafik yang mengerucut terjadi dalam hidupku, Tak kusangka tak kuduga, ketika ku menginjakkan kaki ku disemester 4, aku merasakan kesempurnaan dalam hidupku. Dari langkah yang ku ayunkan dengan berat kini ku bisa lega merasakan perjuangan hidupku dimana tepat diusia 20 ku aku telah meraih secercah mimpiku dari percaan mimpi ku yang berserakan dan kini ku telah mampu menjadikan satu hingga indah tuk dirasa.

Aku Kansa Sabrinegea tepat usia 20 aku menjadi ketua di UKM yang aku ikuti, meraih IP yang hampir sempurna 3,80 mendapatkan beasiswa yang sedikit membantu aku dalam materi tuntutan perkulihan, dan anugrah terindah yang kumiliki serta melengkapi hidupku yaitu dia seorang yang ku idam-idamkan kini telah menjadi kekasihku (sang pujaan hatiku).

Kekurangan tak akan menghambat laju untuk lebih baik, jadikan suatu motivasi terhebatmu dan berpikirlah lakukan perubahan sepenuh hati tanpa terbesiit sedikitpun keraguan yang melintas dalam perjalanan diri, hingga akhirnya akan tercapai indah pada saatnya.

SEKIAN

0 komentar:

Posting Komentar