Tema : Sekolah
Judul : Aku Ingin Sekolah Lagi
Aku Ingin Sekolah Lagi
Pagi itu matahari sudah tampak di ufuk timur, seorang anak lelaki berjalan sendiri di tengah desa kecil di sebuah lereng gunung di daerah Jawa Timur. Anak itu tak seceria hari biasanya, wajahnya tampak murung ketika melihat beberapa anak yang hendak berangkat sekolah yang melintas didepannya. Dia hanya berdiri terpaku dan tanpa disadari matanya mulai berkaca-kaca.
Masih dalam keadaan terdiam, seketika itu terdengar suara wanita yang keras memanggil “le mreneo to le, lah opo kowe nang kono. rewangono abahmu iki”. Dan seketika itu pula lamunannya entah kabur kemana, dengan sedikit berlari anak lelaki itu menghampiri suara dari wanita tadi dan sesekali ia menggunakan tangannya untuk mengusap air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya. Matanya masih merah dan sedikit lebam “kowe keno opo to le?” tanya ibunya. Dengan bergegas ia menjawab “mboten mak,kulo mboten punopo”, ”kowe nangis? kenopo to le? crito, aku iki emakmu” sahut ibunya. Dan lagi lagi anak itu berlalu begitu saja meninggalkan ibunya yang hanya berdiri memandanginya sampai anak itu menghilang di balik pintu besar, rumah bergaya joglo itu.
Siang itu matahari bersinar sangat terik, warga desa mulai mengeluarkan gabahnya yang siap dijemur di pelataran rumahnya. Marno, anak lelaki itu hanya duduk diam dibalik jendela kamarnya yang berukuran lumayan lebar. Matanya hanya melihat ruas jalan di samping rumahnya, jalan yang selalu ia dan teman-temannya lewati ketika pergi dan pulang dari sekolah. Sesekali dialihkan pandangannya ke ujung jalan hingga berakhir lagi di ruas jalan yang tepat berada di hadapannya. Mungkin dalam benak anak lelaki itu dia ingin melanjutkan sekolahnya, tetapi keinginannya itu bertolak belakang dengan prinsip orang tuanya. Tak berapa lama Marno duduk di dekat jendela ternyata pipinya telah basah oleh air mata, Marno hanya melamun sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Setelah beberapa jam sudah berlalu, Marno keluar dari kamarnya dan menyalakan televisi. Dan sebelum Marno duduk di kursi depan televisi tiba-tiba ibunya memanggil “mar, mreneo, iki ewangi abahmu ngentas gabahe, iki mendunge wis peteng”. Marno segera bergegas mematikan televisi dan menghampiri abahnya sambil menjawab “inggih mak”. Dan saat membereskan gabah yang berada di pelataran rumahnya, Marno termenung dan meneteskan air mata ketika melihat beberapa anak berlari-lari untuk segera pulang ke rumah karena cuaca gelap. ”mar, ayo ndang diringkesono gabahe iki, nko selak kudanan” kata abah. Marno mengusap air matanya dan melanjutkan memasukkan gabah ke rumah. Setelah gabah sudah masuk ke rumah semua, Marno segera menyalakan televisi. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB, Marno pun segera mandi. Setelah mandi Marno bermain dengan teman-teman sebayanya, tetapi topik pembicaraan teman-teman Marno yaitu sekolah sekolah dan sekolah. Marno hanya diam mendengarkan temannya bicara. Tak terasa obrolan itu sudah cukup lama, lalu Marno pamit untuk pulang karena waktu sudah malam. Ketika sudah sampai rumah, Marno segera mencuci tangan dan kakinya dan menuju tempat tidur.
Pendaftaran Sekolah Menengah Atas kurang 10 hari lagi,
Ayam mulai berkokok, Marno terbangun dari tidurnya. Setelah itu dia bangkit dari tempat tidur dan tidak seperti biasanya, anak itu mulai mengeluarkan gabah kepunyaan abahnya. Setelah selesai di keluarkan semua gabah itu lantas anak itu duduk di teras rumahnya sambil menunggu anak-anak sekolah yang lewat di depan rumahnya. Tak sampai sejam menunggu muncul gerombolan anak-anak sambil bercanda gurau, Marno hanya tersenyum melihat anak-anak sekolah itu. Tak berapa lama orang tuanya keluar dari rumah dan memanggil Marno “mar mreneo, iki awakmu to sing ngetokno gabah”, “ngih bah” jawab Marno. “lha ngono lho, iwangi abahmu iki. gak usah sekolah, paling-paling awakmu yaw dadi koyok abahmu iki, kerjone cuman macul nang sawah” sahut abah. “tapi kulo pengen sekolah sami keleh rencang-rencang to bah” jawab Marno lagi. “wis gak usah sekolah” sahut abah dengan tegas. Marno hanya terdiam saja sambil melihat anak-anak berangkat sekolah.
Tak terasa Marno duduk di teras depan rumahnya sudah hampir 3 jam, setelah itu Marno beranjak dari teras menuju kamarnya dan menyalakan radio sambil tidur-tiduran di tempat tidur kesanyangannya. Sore pun tiba, Marno yang berdiam diri di kamarnya sejak tadi hanya keluar saat ada perlu saja. Hari-hari Marno saat itu terasa suram dan tak berarti lagi. Dan hari-hari Marno terlewati sampai hari ke 2 sebelum pendaftaran sekolah dibuka. Marno tak lantas pasrah oleh keinginan orangnya, tetapi Marno berusaha membujuk orang tuanya agar Marno didaftarkan di Sekolah Menengah Atas. Ketika pendaftaran kurang 1 hari, orang tua Marno akhirnya tidak tega melihat anaknya yang ingin melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Marno berterima kasih kepada orang tuanya sambil meneteskan air mata. Lalu Marno berlari menuju kamar tidur dan betapa senang hati Marno saat itu, dia meluapkan kesenangannya dengan loncat-loncat di atas tempat tidur.
Marno segera tidur karena sudah larut malam, dia takut kalau besuk bangun kesiangan. Saat ayam mulai berkokok Marno bangun dan langsung mandi, padahal waktu masih menunjukkan pukul 04.50. Karena dia begitu senang, dia tidak sadar kalau hari masih pagi sekali. Dan ketika waktu menunjukkan pukul 06.30 mereka berangkat untuk mendaftarkan Marno ke Sekolah Menengah Atas. Setelah mereka selesai mendaftarkan Marno, mereka pun langsung pulang. Dan Marno seketika itu berteriak dengan sangat keras “aku sekolah lagi”. Dan orang tuanya pun juga ikut senang karena keceriaan Marno sekarang kembali lagi. Hari-hari Marno dilewati dengan suasana gembira.
Nama : Erika Deny Dwi H S
Kelas : TP 2009 A
NIM : 091024012
0 komentar:
Posting Komentar