Cari

Arang Cemerlang


Asyiknya jadi anak pintar. Langganan ranking satu, masuk kelas akselerasi dan selalu juara lomba sains. Itulah aku, Freddy Andreas Yuangga. Di usia sepuluh tahun, aku mampu membuat banyak orang terkagum-kagum dengan bakatku yang “luar biasa” dalam pelajaran fisika. Secara spektakuler, aku berhasil merebut juara dunia Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura, ”37th International Physics Olympiad”. Inilah Olimpiade Fisika terbesar sepanjang sejarah, diikuti para siswa paling cerdas dari 85 negara, dan tentu saja aku yang paling cerdas dari mereka.

Tidak itu saja, aku juga peserta termuda genius yang berhasil membuat seluruh penonton dan perwakilan dari seluruh dunia tertegun dan takjub. Para wakil peserta terheran-heran, bagaimana anak sekecil aku bisa memecahkan persoalan fisika yang begitu kompleks, setara S-2 dan bahkan menjadi juara? Aku memang bukan anak kecil biasa.

Di umur 12 tahun, aku lolos seleksi untuk kelas super yang didirikan atas kerjasama Dikmenti DKI Jakarta dengan Yayasan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), dan BMW Indonesia. Kelas setara SMA yang dikhususkan untuk anak ber-IQ 150 ke atas dan nilai matematika 10 dengan tenaga pengajar khusus bergelar master dan doktor (S2 dan S3).

Orangtuaku bangga dengan prestasi anaknya yang luar biasa, mereka bertanya-tanya apakah pendidikan sekolah menengah mampu menahan diriku. IQ-ku memang lebih dari Einstein.

Dalam lomba sains, aku sudah berkeliling dunia. Salah satu yang paling kuingat, saat aku mengoreksi perhitungan badan antariksa AS (NASA). Laporan proyek penelitianku yang kuberi judul “Apophis-Asteroid Pembunuh” dalam kompetisi sains di Jerman, mengkoreksi estimasi peluang tabrakan asteroid dengan bumi yang menunjukkan resikonya jauh lebih besar. Aku menggunakan hasil rekapan teleskop di Institut Astrofisika di Postdam (AIP). Hasil perhitunganku menunjukkan bahwa peluang asteroid menabrak bumi satu berbanding 450 sedangkan NASA sebelumnya memperkirakan peluangnya hanya satu berbanding 45.000. Mereka membenarkan perhitunganku dengan disampaikan kepada ESA (European Space Agency). Lalu aku pun memperoleh “First Step to Nobel Prize in Physics”, yang hanya anak-anak paling cerdas di seluruh dunia, para genius muda calon-calon peraih Nobel, yang mampu meraihnya.

Sepertinya penemuanku itu mengusik seorang proffesor dari Harvard University. Ia pun datang menemuiku untuk menantangku menjawab soal yang ia buat. Aku harus mampu menjawabnya dalam waktu 3 jam. “ If you can do it aright, I’ll give you $ 100 Million,” kata proffersor itu.

Ternyata datang juga berbagai wartawan dari dalam dan luar negeri. Ini membuatku semakin tegang. Dan benar saja, soalnya memang sangat sulit. Lebih sulit dari olimpiade tertinggi sekalipun. Aku berpikir keras. Tanganku bergetar, tapi aku berusaha menyembunyikannya. Soal ini harus aku selesaikan sebelum jam 12.00. Deg-degan sekali rasanya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjawabnya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menyelesaikannya. Bagaimana kalau aku ditertawakan. Bagaimana kalau aku dipermalukan. Aduh, pikiran buruk berkecamuk terus.

Aku semakin galau. Sudah jam 11.20 tapi aku belum menemukan kunci permasalahan dari soal ini. Untunglah, aku selesai tepat waktu dan benar. Takjub sekali proffesor itu. Sesuai janji, ia berikan cek kepadaku. Kemudian berbagai julukan kuterima. Ada yang menyebutku anak jenius, anak terpintar sedunia, anak dewa, dan sebagainya. Tidak terbayangkan rasa hatiku. Dengan kejeniusanku, soal tersulit sekalipun bisa kulahap.

Untuk merayakannya, orang tuaku mengajak jalan-jalan ke Jepang berhubung bertepatan dengan liburan sekolah dan musim semi disana. Tiba-tiba muncul ide di otakku. “Kita ajak nenek juga, Pa. Nenek pasti senang lihat bunga sakura,” kataku. Sudah kubayangkan banyaknya pujian dari orang-orang di desa nenek nanti. Aku pasti dibanggakan sekali disana.

Tiga hari sebelum berangkat ke Jepang, keluarga kecilku ini pergi ke desa Japanan di Mojokerto, tempat tinggal nenek. Aku mendapat sambutan yang luar biasa. Dikalungi bunga. Luar biasa sekali. Seperti presiden yang datang saja.

Aku selalu senang jika di rumah nenek. Aku bisa bermain. Berlarian. Berlompatan. Tertawa bebas. Benar-benar diperlakukan layaknya anak-anak normal. Tidak dituntut untuk belajar.

Siang itu, mungkin karena terlalu senang atau capek, aku jatuh saat berlarian. Kaki kiriku terkilir. Kemudian aku pun diajak Nenek diurut (dipijat) di Mbok Nah. Tukang pijat yang rumahnya sekitar 1 km dari rumah nenek.

Rumah itu kecil dan reyot. Kemiskinan terlihat jelas di tubuh ringkih Mbok Nah. Tapi tangannya nampak kuat. Wajahnya pun meneguhkan hati. Kemudian keluarlah seorang anak laki-laki. Umurnya pasti tidak jauh dariku. Entah lebih tua atau lebih muda dariku. Tapi masa bodoh.

Meski badannya kurus kering dibaluti pakaian lusuh dan tidak memakai alas kaki pula, wajahnya terlihat cemerlang sekali. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Seperti memancarkan cahaya terang.

Niki putu kula, asmanipun Adi. Di, jupukno salep nang ndhukure meja. Tapi isuhana tanganmu dhisik1,” kata Mbok Nah. Tangannya memang kotor karena memegang arang. “Mbok Nah mau bakar sate?” tanyaku. “Adi niku seneng maca kale nulis. Alhamdulillah pak Lurah gelem nyilihna buku-bukune.2

Sambil memijat kakiku, nenek ngobrol terus dengan Mbok Nah. Untunglah aku mengerti bahasa Jawa sedikit-sedikit. Kata Mbok Nah, sejak umur 2 tahun, Adi sudah bisa bicara bahkan berhitung. Mbok Nah yakin sekali kalau dia anak yang sangat pintar. Tapi keadaan memang tidak mendukung. Untuk makan saja sudah pas-pasan. Apalagi untuk membeli buku. Jadi, Adi tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah. Mbok Nah hidup hanya berdua dengan Adi. Ayahnya menjadi supir angkutan umum di Surabaya dan Ibunya bekerja di Malaysia sebagai TKW. Entah kenapa secara turun temurun, selalu saja anak yang dilahirkan cuma satu. Jadi, Adi membantu neneknya dengan menjadi buruh tani sampai kulitnya hitam gosong hasil sengatan matahari.

Saat akan pulang naik becak, tanpa sengaja kertas soal dari proffesor jatuh dari kantong celanaku. Aku baru sadar itu saat becak sudah mendekati rumah nenek. Langsung saja aku kembali ke sana tanpa nenek.

Di depan rumah itu, kulihat Adi sedang menulis. Tentu saja dengan arangnya.Tapi aku seperti familiar dengan kertas yang ada di depannya. ” Adi, apa itu yang kamu tulis?” tanyaku. “Itu kertasku?”

Adi tersentak. “I...Iya..” Ia berkata terbata-bata sambil menyerahkan kertas itu. Aku lega, kertas itu tak tercoret apapun. Tapi aku bingung, “ Lalu apa yang kamu tulis tadi? Kamu menulis soal ini?”

Adi, “I...Iya..” Aku tertawa kecil. Ternyata dia memang suka menulis apapun yang ia baca. Meski tak tahu apa maksudnya. “Lalu bagaimana? Kamu mengerti soal ini? Bisa menjawabnya?” tanyaku. “I...Iya..”

Di kertasnya terlihat seperti ada banyak tulisan. Apa mungkin... “Sini. Aku lihat tulisanmu,” Ku ambil kertas dari tangannya. Wow, tulisannya rapi sekali. Seperti di ketik di keyboard padahal hanya dengan arang. Aku lebih shock setelah membacanya. Dia menjawab soal itu dengan cara yang belum pernah kutahu tapi benar. Cara yang sederhana sekali. Bagaimana bisa dia lakukan itu. Padahal seingatku, aku datang ke rumah Mbok Nah sekitar satu setengah jam yang lalu. Dan aku yakin kertas soalku masih ada di kantong celanaku beberapa saat sebelum pulang ke rumah nenek. Aku yakin sekali kertas itu jatuh saat aku akan naik becak. Hah, mana mungkin dia mengerjakannya hanya dalam waktu setengah jam?

Kembali di rumah nenek, aku duduk sambil menangis. Aku benar-benar shock, marah, kecewa, sedih, dan perasaan lainnya yang tidak enak bercampur aduk. “Aku kalah,” kataku lesu. Orang tuaku kaget dan bingung, “Kok bisa?? Kamu ikut olimpiade apa?” Kemudian aku menceritakannya dengan enggan.

“ Berikan ini pada Mbok Nah,” aku menyodorkan selembar kertas pada pembantunya nenek. Mata orang tuaku seperti siap meloncat keluar saat tahu apa yang aku sodorkan. “Tidak bisa! Kamu jangan ngawur, dy. Itu jelas bukan haknya, uang ini kamu dapat karena kamu yang ditantang proffesor itu. Bukan anak yang kamu ceritakan itu.” Aku bangkit berdiri. “Terserah! Pokoknya aku gak mau pergi ke Jepang! Aku gak mau pergi kemana-mana! Aku mau pulang!”

Di rumah, bahkan selama perjalanan ke Jakarta, aku hanya bisa diam. Merenung. Berpikir. Benar-benar memalukan aku ini. Merasa menjadi yang paling pintar dan paling hebat. Padahal ada yang lebih dari aku. Lebih cepat, tepat dan cermat dalam mengerjakan soal. Dan ia TIDAK pernah bersekolah. Kenapa aku baru sadar kalau aku ini sangat sombong!

“Pa, Ma, aku pengen balik ke sekolahku dulu. Aku gak mau di kelas super. Aku mau sama teman-temanku dulu,” pintaku. “Masuk ke kelas super itu sulit sekali. Banyak anak yang iri sama kamu karena kamu anak yang jenius. Jangan disia-siakan kesempatan ini,” bujuk Mama. “Tapi Ma, aku bukan anak jenius. Masih ada yang lebih pintar dari Freddy,” bantahku. Mama mengelus kepalaku, “Sayang, memang tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Kamu jangan patah semangat karena ada yang melebihi kamu. Kamu pasti punya kemampuan di bidang lain. Bukankah kamu juga suka bermain piano? Kamu ikut saja les piano sama sahabat lamamu. Ingat Freddy, tidak ada yang terbaik di dunia ini. Kamu harus lebih rendah hati lagi. Sehingga nanti, kamu bisa punya banyak teman.” Aku hanya bisa menangis sambil menyesali sikapku selama ini.

(Di rumah Mbok Nah)

Di, mau putune Bu Kaji Maryam sing jenenge sapa ya...Predi..ta sapa...menehi kertas iki. Ana tulisan angka-angka tapi ya ana tanda tanganne. Mboh apa iki.3 ” kata Mbok Nah.

Mboten semerap. Menawi niku kenang-kenangan.4” kata Adi. Mbok Nah manggut-manggut, lalu menyimpan kertas itu di lemari pakaian, di bawah tumpukan baju.




1Ini cucu saya, Adi. Di, ambilkan salep di atas meja. Tapi kamu cuci tangan dulu.

2Adi itu suka membaca dan menulis.Alhamdulillah pak Lurah mau meminjamkan buku-bukunya.

3Di, tadi cucunya Bu haji Maryam yang namanya siapa ya...Predi..atau siapa...memberi kertas kecil yang tulisannya ada angka 1 sama nol banyak tapi depannya ada tulisan S di coret. Enggak tau apa itu.

4Enggak tahu. Mungkin itu kenang-kenangan.

0 komentar:

Posting Komentar