TAPAK KAKI JALANAN
Masih tersekap kabut pagi , ketika burung-burung masih lelap dengan tidurnya, Ayam-ayam masih sibuk memamerkan suara yang merdu saling bertautan, embun-embun mulai berjalan menuruni dedaunan dan mataharipun enggan menampakkkan batang hidungnya. Terlihat seorang anak laki-laki mengarungi tebalnya kabut yang menyelimuti kelamnya pagi itu,tak hayal ayam pun terdiam sejenak menunggu langkah kaki nya, rupa-rupanya Haris seorang anak laki-laki, dia adalah seorang nak pertama dari pasangan suami istri Pak Jayus dan Bu Martinah.
Pak jayus seorang pemulung di wilayah kota, dan bu martinah sorang ibu rumah tangga sekaligus menjadi buruh cuci di kampungnya, keadaan ekonomi mereka bisa dibilang serba ketidak cukupan jangankan dibuat untuk menyekolahkan anaknya, untuk makan sehari-haripun tak cukup, padahal pak jayus bekerja siang hari sampai menjelang tengah malam, tetapi masih tidak cukup untuk membiayai hidup keluarganya.
Mungkin dari itu haris berjalan ditengah tebalnya kabut pagi, dia berjalan ke sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari tempat singgahnya, setelah tiba dirumah itu dia mengetuk pintu rumah tersebut sembari berkata
“Assalamualaikum……assalamualaikum…….pak hadi…..pak, pak hadi……..”
dengan suara yang pelan ia mengeluarkan kata-kata itu. Tak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka, suara slot-slot mulai meninggalkan ruangnya, perlahan pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit mulai terlihat sesosok bayangan yang muncul dibalik kelamnya rumah itu, rupa-rupanya orang inilah yang sejak tadi dipanggil-panggil oleh haris, P. Hadi beliau adalah seorang pengefull Koran dan majalah yang akan diedarkan pagi itu.
”Oh……haris rupanya……maaf ya ris tadi bapak habis sholat subuh tertidur, rajin betul ya kamu… teman-temanmu saja belum ada yang dating kesini ambil barangnya, sedangkan kamu bapak belum bangun kamu sudah ada di depan pintu rumah bapak, hebat..hebat……. “
kata laki-laki paruh baya tersebut,
“ iya, maaf pak ya ganggu tidur bapak……”
sahut haris sambil menundukkan kepalanya.
“ Tak apa memang bapaknya aja yang males bangun………ambil berapa dek? ”
Tanya pak hadi sambil membawa dua buah karung di kedua tangannya,
“ saya ambil 5 paket Koran dan 3 paket majalah saja pak “
Jawab haris dengan santun
Oh ya……. baik kalau begitu hati hati ya di jalan karena banyak sekali bahaya kalau kita sedang dijalan.
Pesan pak hadi pada haris yang sedang menghitung jualannya
Beranjaklah kaki haris dari rumah pak hadi dia berjalan menyusuri jalan raya yang mulai hangat tersentuh sinar sang matahari. dia berjalan dan terus berjalan terhentilah langkah kakinya di sebuah halte bus, dimana biasanya orang sibuk mengantri bus sambil membaca Koran atau majalah dengan pemikiran seperti itu haris pun berjalan perlahan mendekati orang-rang yang sedang duduk mengantri menunggu bus yang dating dengan suara lantang iapun berteriak
“Koran…koran…koranyya pak koaran…… Koran……., majalahnya buk majalah….majalah Koran Koran……..kecelakaan terjadi kembali dijalur pantura, Koran……….. warga desa jombang diamuk masa…. Korannya….. Koran….pak buk”
Begitu teriak haris menjajahkan Koran yang ia bawa dengan sesekali membaca judul Koran yang ia bawa.
Tak berselang lama para pengantri bus itupun mulai menyerbu Koran yang dibawa haris karena kebanyakan darri mereka sudah banyak yang mengenal haris, karena haris adalah seorang yang baik jujur dan hanya dia yang berualan sepagi itu dan para pemebelinya pun selalu sama, bisa dibilang orang yang membeli dihalte tersebut sudah termasuk dalam langganan tetap haris, terkadang ketika haris tak datangpun mereka enggan membeli Koran yang di bawa oleh orang lain.
Koran yang dipegang haris sekarang tinggal 2 paket sedangkan majalahnya tinggal satu tapi hari mulai siang matahari berada tepat diatas ubun-ubun kepala haris, haris pergi ke sebuah moshollah untuk sholat terlebih dahulu, setelah sholat dia kembali kejalan, topi yang telah usang serta lubang-lubang pun terlihat menghiasi topi milik haris, topi mulai dipakainya, panas matahari serta panas aspal yang melelehkan sandal juga tak meredupkan semangat haris untuk menjual habis barang jualannya, dia bersemangat untuk memperoleh uang demi membantu ekonomi keluarga serta sebagian uang yang ia dapatkan ia pergunakan sebaik baiknya, dan sebagian lagi ia tabung untuk masa depannya. Untuk dapat bersekolah lagi dikemudian hari.
Dalam panasnya jalan raya ia terus berjalan menuju perempatan untuk menjajahkan korannya, dia berjalan menuju satu mobil kemobil yang lain menjual Koran satu demi satu Koran terjual tak sedikit juga orang yang hanya melihat Koran itu kemudian mengembalikannya kembali ke haris, tapi haris tak putus asa dengan itu karena dia sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh orang lain.
Hari mulai senja Koran yang telah dijajahkannya telah habis terjual ia kembali pulang untuk menghitung uang yang ia dapat, uang setoran di berikan kepada pak hadi, sebagian lagi diberikan keorang tuanya, dan sebagian ia simpan dalam tabungannya. Begitu seterusnya hari –hari dijalani oleh haris.
Suatu hari seusai ia berjualan Koran dan majalah haris dihadang oleh dua orang laki-laki, dia dibawa kesebuah gang kecil disudut kota uang hasil jerih payahnya diambil oleh dua orang itu haris bersusah payah mempertahankan uang hasil jualannya tapi malah dihajar oleh dua orang tadi, hadi pulang dalam keadaan babak belur ibunya pun bertanya kepada haris.
Ada apa ris? kamu berkelahi ya……… badan kamu kok babak belur begini ayo ibu antar kedokter.
Sewaktu diperjalanan ia menceritakan semua pada ibunya, bahwa ia dirampok dan dihajar oleh dua orang preman pasar. Setibanya di rumah sakit dia mendengar ada korban tabrak lari dan haris serta ibunya melihat orang itu, haris terpanah melihat dia ternyata korban tabrak lari itu adalah orang yang merampok ia tadi. Setelah dua orang tadi sadar dan melihat haris berdiri disampingnya mereka dengan tergesa gesa meminta maaf kepada haris, dan haris juga memaafkan mereka.
Suatu pagi haris kembali melakukan rutunitasnya, dia pergi kerumah pah hadi untuk mengambil jatah Koran dan majalah yang telah disiapkan,
“Mau ambil berapa ris hari ini..?”
Tanya pak hadi sambil menata jatah Koran bagi pedagang Koran yang lain
“Saya ambil 2 paket Koran dan 1 paket majalah saja pak karena saya hari ini harus ikut sekolah ini hari pertama saya saya gak mau telat di hari pertama saya pak“
Jawab haris
sudah mulai bersekolah ya…..? yang rajin ya kalau bersekolah jangan karna kamu menjual Koran lekas kamu tidak berkonsentrasi dengan sekolah mu.”
Kata pak hadi memberi semangat pada haris.
Tak sampai tengah hari ia sudah menjajahkan lunas semua yang ia bawa.
Jam baru menunjukkan pukul Sembilan siang, tak ada kegiatan yang harus dilakukannya Koran telah dijual habis, majalahpun amblas diserbu para ibu-ibu, jadi harispun beranjak ke pasar didekat halte bus tempat ia menjajakan Koran tadi, dia pergi kesebuah toko tempat biasa ia membantu ibu inah, Inah adalah ibu pemilik toko itu, haris biasanya membantu mengirimkan barang atau memindahkan baranyg dari gudang ke dasaran toko untuk dipasarkan.
“haris cepat kesini anter gula ini ke toko seberang jalan karena sudah ditunggu pemiliknya cepatya…..”
kata ibu inah melihat haris datang dari kejauhan,
“ Ya bu segera saya lakukan “
Haris dipercaya membantu ditoko itu karena dia jujur dan selalu menurut apa yang dikatakan oleh juragan pemilik toko itu.
Hari telah siang haris pun pamit ke ibu inah untuk pergi pulang, dan bersiap untuk pergi kesekolah.
Ahirnya dengan semangat dan jerih payahnya dalam mengumpulkan uang selama setahun dia berhenti sekolah demi mengutamakan adiknya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dia rela berhenti dan berjualan Koran dan majalah serta membantu dipasar dia bisa bersekolah kembali dengan biayanya sendiri serta dapat memperbaiki perekonomian keluarganya sehingga hidup haris dan keluarganya menjadi lebih baik.
Tapi haris tetap berjualan Koran setengah hari demi membantu ekonomi keluarga.
Cari
Diposting oleh
abdul rohman
0 komentar:
Posting Komentar