Cari

Emakku Gila Harta


Hari panas terik, sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun terasa mendidih, Yanto mempercepat langkah menuju rumah, “akhirnya sampai juga” dia berkata sambil duduk dan sambil membuka kedua sepatunya. “huh lega rasanya” ia menghela nafas dan sambil berjalan kedalam rumah, baru saja melangkahkan kaki kedalam rumah ia menemukan uang berserakan di lantai.

“Hah uang apa pula ini mak?” katanya heran, tentu saja ia heran. Di zaman sesulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja, “untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk kedalam rumah” pikirnya nakal.

“Uangnya punya mak, berikan pada mak bapak mau keluar”, sahut bapak
“Hmm, mak sudah punya uang sekarang jadi,aku bisa minta uang untuk membayar les dan LKS” pikirnya.
“Mak……. oooh mak” panggil Yanto.

“Ada apa Yan? Ganggu orang saja kamu ini” kata maknya lagi jengkel.
Lalu Yanto menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum di bayar sedangkan pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya, tapi bukannya diberi uang malah ia di omeli oleh maknya.
“Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar, kan ada BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudah, tidak usah kamu sekolah, buang-buang uang saja sekarang ubi itu tidak berharga, tahu?” kata mak dengan muka merah menyala.

Yanto sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tetapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu, dia malah menyuruh Yanto mencari uang sendiri, kemanakah uang akan di carinya?. Ah mak tak mengerti tentang pendidikan.
Padahal pendidikan itu sangat penting, karena dengan pendidikan itu kita akan bisa menatap masa dpan yang gemilang.
“Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi tapi akhirnya cuma jadi pengangguran kan? Jadi buat apa sekolah?” bentak maknya lagi.

Yanto lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang-orang berlomba-lomba mencari ilmu, tetapi maknya melarangnya.

“Mak……mak, mengapa mak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak, Itu akan lebih bermanfaat.” Ngomongnya dalam hati. Yanto sudah lelah mendengar omongan maknya itu, dia keluar dan pergi entah kemana.

Sedangkan Lutfi, adiknya yang baru pulang sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini, ternyata si Lutfi mau dilamar oleh pak Dudung duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lutfi menolak dengan keras semua itu, namun mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu dibawah umur untuk menikah, apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda, Ah, benar-benar tidak masuk akal.

Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa, mak ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak sah sekolah, hanya menambah beban saja.

Hari berikutnya Yanto tak lagi bersekolah. Ia berhenti sekolah dan bergabung dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih ketika melihat teman-temannya yang berskolah, tapi apa mau dikata, Emaknya sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.

Setiap kali dia ikut teman-temannya dan tampaknya dia juga mulai tepengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan mak sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah mempunyai menantu kaya.

Waktu terus berjalan, Yanto semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan tersebut. Ia sudah banyak berubah. Hinnga pada suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Siska temannya Yanto datang dan memberi tahu pada Emak kalau Yanto di tangkap polisi tadi malam, tapi sekarang ia dirawat di sebuah rumah sakit, dia mengalami overdisis katanya, dikarnakan dia habis pesta sabu-sabu.

Bagai petir di siang bolong, Emak dan Bapak kaget bukan main, tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis menyesali perbuatan dan sikapnya yang tidak mau menyekolahkan anaknya itu.

“Sudah Nur, mudah-mudahan Yanto lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu, akan kita bina kembali rumah tangga kita, biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia” kata bapak dengan mata berkaca-kaca ia berusaha menenangkan hati mak.

“Bapak benar, kini mari kita bina dan sosong keluarga sakinah.” Kata mak dengan mantapnya.

Dua tahun kemudian Yanto keluar dari penjara, dan dia di jemput oleh emak dan bapaknya. Mereka kembali kekehidupan yang dulu lagi. Dimana meskipun kehidupan mereka sederhana tapi hati dan perasaan mereka sangat bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar