Neza’s Story
Ini adalah sebuah cerita yang mengisahkan tentang perjalanan hidup konyol seorang gadis cupu super blo’on plus lola (loading lama). Yupz itulah Neza, cewek berusia 12 tahun ini dilahirkan di sebuah kampung yang gak akan terkenal keberadaannya kecuali bila ada salah satu warganya yang telah memecahkan rekor muri. Berhubung si muri belum pecah jadinya sampai saat ini belum terkenal dech. Itulah kampung “semrawot” yang berada di pinggiran kota besar.
Dari kecil Neza telah lama menjamur, bermukim dan bersemayam di kampung “Semrawot” ini, tepatnya di sebuah gang yang gak terlalu lebar dan gak terlalu sempit pula itulah gang “Buntu”. Gang ini kira-kira hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Tetapi yang sering berlalu lalang di gang ini hanya becak, sepeda, dan motor saja.
Tau gak, gang ini biza dikatakan multifungsi lho, setiap harinya bisa dimanfaatin sebagai tempat parkir umum khusus sepeda motor, tempat bermain anak-anak, tempat konverensi depan rumah khusus ibu-ibu, tempat bapak-bapak bercengkrama dengan hewan peliharaannya dan yang terpenting lagi gang ini bisa digunakan sebagai tempat jemuran pakaian warga yang sekaligus sebagai hiasan yang indah di depan rumah. Hiburan sehari-harinya pun gak kalah menarik. Burung dara, ayam-ayam, angsa-angsa, entok-entok dan bebek-bebek yang lagi asyik berfashion show ria bak pragawati / model yang sedang memperagakan busana para desaigner di “cat walk”. Para unggas pun juga mahir menampilkan keahlian yang lain yaitu biza membuat ice cream-ice cream unik yang makin menambah keunikan gang ini.
Neza adalah anak tunggal, ia bersama Mama dan Papanya bertempat tinggal di sebuah rumah sederhana berlantai dua yang dihiasi beraneka macam tanaman hias yang tak terhitung jumlahnya. Rumah Neza letaknya di pojok gang di pinggir kali agak mepet dikit dari jembatan, tepat di sebelahnya warung kopi. Papa Neza adalah seseorang yang berwatak disiplin, penyayang, sabar, sederhana dan berjiwa sosial tinggi. Sedangkan Mamanya berwatak cerewet, bawel, keras, judes namun pengertian. Walaupun begitu kedua orang tuanya sangat menyayangi Neza begitu pula sebaliknya Neza juga sangat sayang terhadap kedua orang tuanya.
Masuk SMP adalah pengalaman baru baginya karena untuk pertaman kalinya Neza memakai seragam biru putihnya yang super kedodoran dan harus merelakan seragam merah putihnya yang sekarang berubah menjadi bendera yang siap dikibarkan di tiang bendera, padahal dia masih suka sama seragam lamanya itu.
“Ma gede banget sih seragamnya, kalo Q pake’ kan kayak layangan siap landas”. Gerutu Neza.
“Masak sih, menurut mama ini udah pas qo’ malahan kamu keliatan lebih beda aja kalo’ pake’ seragam ini, tapi kalo’ kamu gak mau pake’ ya udah kamu gak usah pake baju aja ke sekolahnya, sekalian diteriakin orang gila. Tau gak mama kan udah cape’-cape’ beliin seragam ini buat kamu, hargain dikit dong”. Omel mama.
Begitu tau ibunya sedang bersilat lidah, Neza langsung kabur ke ruang makan buat mengambil bekalnya trus keluar rumah dan dengan lantangnya Neza berteriak, “bu Neza berangkat sekolah dulu yach, assalamualaikum, dach ibuQ sayang.“ (sambil ketawa ngakak).
Setelah mendengar teriakan Neza, seketika itu pula ibunya langsung berhenti bersilat lidah (kayak mobil yang ngerem ndadak gara-gara mau nabrak pohon) dan langsung menjawab, “ wa’alaikum salam, ati-ati yach nak, kalo’ pulang jangan mampir-mampir, huft maunya apa sih tuch anak, dibilangin Qo’ malah kabur, ck...ck....ck....”
Setelah sebulan bertahan menjadi siswa SMP di sekolahnya “SMP Tunas Kelapa” yang letaknya jauh di pusat kota. Ini adalah pertama kalinya buat Neza mengikuti ulangan di sekolah. Pada saat ulangan sedang berlangsung di kelas, Tiba-tiba kedua bola matanya ingin sekali melihat seluruh ruangan kelas, Neza terheran-heran melihat pemandangan baru dan menarik. Gimana gak mengherankan dan kaget, sebab saat dia sedang sibuk memutar dan memeras otaknya untuk berusaha menemukan dan menjawab isi dari jawaban pada semua soal-soal ulangan, ternyata teman seperjuangan di kanan, kiri, depan, belakang, dan sampingnya malah asyik beraksi mencari isi dari jawaban yang ada pada soal-soal yang tertera pada secarik kertas berharga dengan menggunakan metode-metode yang sama sekali belum pernah ia lakukan dan ditemui di SD-nya dulu di SD “Suka Maju”.
“Nyebelin dech, niat ulangan gak sich, Qo’ malah pada asyik sibuk sendiri, huft dasar orang-orang males, kanan kiri pada asyik nari bali, belakang pada pose gaya jerapah, depan lagi atraksi sulap, di samping pada main petak umpet, Qo’ enak banget sich mereka dapat jawaban tanpa berusaha dulu dengan keras,” omel Neza dalam hati.
Tau nggak sich istilah-istilah di atas itu hanya ada di kamus besar hidup dan matinya Neza. Nari bali itu lirik sana-sini nyari’ jawaban dari teman yang ada di kanan-kirinya. Pose gaya jerapah itu adalah metode memanjangkan leher biar biza liat jawaban dari teman yang ada di depannya. Atraksi sulap itu trik ngeluarin kertas (yang isinya materi-materi prediksi dari soal-soal ulangan yang dirangkum dan diringkas) yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tak terduga seperti di saku baju, kantong celana, kaos kaki, bahkan dari sepatu. Main petak umpet itu sering ngumpetin dan nyelipin buku baik buku paket, LKS, maupun buku catatan di tempat tertentu yang gak bakalan ditemui oleh guru pengawas, jadi biza dibilang kucing-kucingan gitu dech sama guru penjaga.
Setiap hari pulang-pergi dari rumah ke sekolah, Neza harus selalu naik angkot. Sehingga ia harus berangkat usai shalat subuh karena dia takut terlambat. Hal ini disebabkan karena jarak dari rumah Neza sampai di sekolahnya yang baru saat ini sangat jauh, di samping itu perjalanannya pun juga membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama, apalagi kalo’ si angkot lagi jalan persis kayak nenek-nenek yang sedang lari maraton. Udah nunggunya lama, belum lagi kalo’ mogok lengkap sudah dech semua penderitaan Neza kalo’ mau berangkat ke sekolah. Hal ini jauh berbeda keadaanya pada saat Neza masih duduk di bangku Sekolah Dasar dia bisa berangkat pagi-pagi dengan santainya bersepeda atau berjalan kaki bersama teman-temannya menuju sekolah tanpa harus dihantui rasa takut terlambat.
Perjalanan pulang kali ini adalah hal yang paling menyebalkan bagi Neza karena dia masih memendam rasa kesal setelah melihat fenomena yang memprihatinkan di kelas. Neza masih saja mengungkit-ungkit dan melanjutkan kejengkelannya usai pulang sekolah. Mulai dia keluar dari pintu gerbang sekolah, nungguin angkot di depan sekolah, naik angkot sampai jalan kaki menuju rumah pun Neza terus aja ngomel-ngomel gak jelas plus gak karu-karuan. Mungkin aja orang yang ngeliat dia lagi marah-marah sendiri sambil berjalan-jalan di jalan raya menyangka dia adalah orang gila yang sedang berkeliaran dan kelayapan di siang bolong yang sangat terik dan menyengat, apalagi didukung dengan style berpakaian Neza yang awut-awutan serta gaya rambut yang berantakan plus acak-acakan mirip banget kaya’ orang yang lagi strezz berat.
Sesampainya di rumah pun Papa Mamanya juga dibuat tertegun-tegun dan kebingung melihat tingkah laku dan sikap anaknya yang asyik marah-marah sendiri serta ngomel-ngomel gak jelas mirip banget kaya’ burung Beo yang gak dikasih makan sebulan.
“Apa’an sich pada bodoh semua yach, mangkanya sebelum ujian belajar dulu dongkz, kalo’ gitu caranya kalian selamanya gak akan jadi orang yang pintar, itu namanya perbuatan curang tau, pada gak pernah ngaji apa. Dulu sama gurunya, orang tuanya, kakaknya whatever lah gak pernah diajarin cara belajar yang baik dan benar yach, sini biar Neza yang ajarin biar kalian tau gimana sih susahnya belajar itu,” omel Neza.
“Ck...ck...ck, kamu tuch lagi marah sama siapa dan ngomelin tentang apa sich, udah masuk rumah gak ketok pintu dulu, gak salam dulu, malah bikin kaget orang serumah, tadi di jalan abiz kesambet jin yach, apa dah kesurupan setan,“ omel mamanya yang gak kalah seru dari anaknya.
“Tau tuch ma, masa’ temen-temen di sekolah tadi pada asyik beraksi menunjukkan kemampuannya yang gak penting banget buat ditiru dan dicontoh, ada yang lagi nari bali, ada yang pose gaya jerapah, beratraksi sulap, main petak umpet, pokoknya pada nyebelin dech,” sahut Neza.
“Lho bagus kan berarti temen-temen kamu tuch pada berbakat semua, ternyata mereka semua pada hebat-hebat yach, gak kayak anakQ yang satu nie dirumah kerja’annya molor melulu, justru yang seperti itu yang harus kamu tiru dan contoh, kenapa sebel sich mangnya kamu tadi gak di ajak gabung ya sama mereka, mangnya tadi ada acara apa sich di sekolah?” sahut ayahnya dengan penuh kesabaran tanpa mengerti apa arti sebenarnya dari istilah-istilah tadi.
“Grrr...rrr.”(setelah mendengar komentar dari ayahnya, Neza mengernyitkan giginya, memonyongkan mulutnya dan menurunkan alisnya disertai dengan hembusan nafas mirip angin puting beliung yang keluar dari hidungnya, lalu pergi begitu saja).
“Kenapa sih tuch anak (??????),” seru Papa Mamanya dengan kompak.
Setelah usai sebulan kekesalan Neza berlalu, akhirnya hasil ulangan pun dibagikan. Tiba-tiba raut wajah Neza pun berubah jadi merah padam kayak kepiting rebus dan udang yang abiz digoreng, ekspresi mukanya pun gak kalah menyeramkan mirip kayak drakula yang lagi kehaus darah (ihh ceyem dech). “Dasar koruptor junior, hebat banget dapet nilai gede dan bagus dengan cara yang gak halal kayak gitu, Q yang mati-matian belajar sampe’ larut malam gak bisa dapat nilai segede da sebagus itu, huft kalian makin membuatQ tambah kesal sama sikap dan perilaku kalian,” gerutu Neza dalam hati (sambil mengebrak-gebrak meja bangkunya sampai membuat kaget orang-orang yang ada di sekelilingnya).
Di rumah Neza menangis dan menceritakan semua keluh kesahnya pada mamanya, “Ma, kenapa sih dunia ini gak adil banget buat Neza, kayaknya apapun yang udah Neza perjuangkan selama ini hanya sia-sia belaka, semuanya gak sesuai dengan apa yang Neza inginkan dan harapkan,” (sambil menangis dan memeluk mamanya).
‘Kenapa sih nak, qo’ tiba-tiba jadi kayak gini, sebenarnya apa sih yang udah terjadi sama kamu, sampai-sampai kamu kayak gini nak. Cerita sama mama, jangan hanya nangis aja, mama kan jadi bingung.” Tanya mamanya.
“Ma, Neza udah gak sepintar dulu lagi, Neza sekarang jadi anak bodoh, Neza gak bisa diandelin dan diharepin lagi, Neza gak bisa nyenengin mama papa lagi dan ngebanggain kalian seperti prestasi Neza waktu dulu.” Keluh Neza.
“Memangnya nilai-nilai ulangan kamu jelek-jelek dan menurun gak seperti dulu lagi ya?” tanya mamanya lagi.
“Kayaknya nilai rapor besok, bakalan membuat mama kecewa dan marah dech sama Neza, soalnya nilai-nilai Neza gak sebagus temen-temen Neza yang lainnya, nilai Neza Cuma pas-pasan jadinya Neza takut gak bisa memuaskan hati dan keinginan mama sama papa.” Ungkap Neza sambil tersedu-sedu.
“Sayang meskipun mama setiap hari bawel, cerewet, pemarah dan nyebelin tapi mama tetep sayang sama anak mama dan mama juga akan memberikan yang terbaik buat anak mama, lagian itu juga demi masa depan kamu nantinya. Mama tahu kamu udah berusaha dan bekerja keras buat dapetin semua yang ingin kamu berikan sama mama, tapi kalau belum tercapai ya gak apa-apa, dan tidak selamanya orang pandai itu dapetin segala hal yan terbaik, dan mungkin juga saatnya kamu berada dibawah dan gak semua orang pintar selalu berada di atas.” Ucap mama.
“terima kasih yah ma”. Ucap Neza sambil memeluk mamanya.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar