2 “B” Dalam Hidup Kidung
Oleh : Narulita S.K 091024025
Pagi itu, hujan turun dengan lebat. Tak biasanya, pagi hari disambut dengan hujan yang cukup deras. Diselingi kilat yang sesekali menampakkan cahayanya, aku mempercepat langkahku. Baru saja aku turun dari angkutan yang membawaku menuju kampus. Kuputuskan untuk menunggu di halte. Namaku Azka Ramadhani. Aku terdaftar sebagai mahasiswi semester 2 disalah satu universitas di Surabaya. Ditemani payung yang melindungi tubuh, akhirnya sampai juga aku dihalte. Kututup payungku dan kutepiskan titik-titik hujan yang sedikit membasahi baju dan kerudungku. Maklum, hujan pagi ini disertai angin. Walaupun sudah memakai payung, tetap saja aku harus puas dengan bajuku yang sedikit basah. Aku berdiri disamping seorang gadis yang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sepertinya, dia lebih parah dari aku. Sesekali kudengar dia menggerutu karena hujan belum juga berhenti padahal jam kantor sudah menunggunya. Aku hanya tersenyum simpul mendengar keluhannya. Tiba-tiba, pandanganku tertumbuk pada sosok perempuan kecil yang sedang duduk dipinggir kursi halte sambil memeluk sebuah biola tua pada tangan kirinya dan tangan kanannya melindungi tas plastik yang berisi buku. Ia mendekap kedua benda itu seolah – olah itulah harta karun yang ingin dilindunginya dan tak akan rela hujan membasahinya sedikit saja. Tubuh kecil itu, hampir basah kuyup. Mulutnya pun hampir memutih akibat hawa dingin yang lebih menguasai tubuh kecilnya. Tergerak, kuhampiri gadis mungil itu. Aku berhenti didepannya. Kusapa gadis mungil itu. Dia menatapku dan meyunggingkan senyum yang ia paksa mengembang. Namun, yang kulihat, gemeletuk gigi yang menandakan ia benar-benar kedinginan. Kukeluarkan jaketku dari dalam tas. Kuselimuti gadis itu. Adalah Kidung. Begitu nama gadis kecil itu. Entah kenapa, kami merasa langsung cocok. Dari mulut mungilnya, mengalir cerita tentang dirinya. Kidung adalah pengamen kecil yang berusaha bertahan hidup melawan kerasnya kota Surabaya. Ditemani biola tua peninggalan ayahnya, Kidung kecil mendendangkan jutaan lagu dari angkutan satu keangkutan yang lain. Sesekali aku hanya mampu menutup mulutku mendengar bagaimana ia harus menjalani hidup bersama ibu dan adik semata wayangnya, Melodi. Dari mulutnya pun, aku paham, kenapa nama Kidung dan Melodi tersaji untuk mereka. Ayahnya dahulu seorang pemain biola. Namun, 2 tahun yang lalu, ketika Kidung menginjak usia 8 tahun, sebuah kecelakaan telah memisahkan anak dengan sang Tulang Punggung keluarga. Hanya sebuah biola tua yang sudah mengelupas catnya dibeberapa tempat, yang ditinggalkan ayahnya. Biola tua itu berada dalam dekapan ayahnya ketika kecelakaan itu terjadi. Pagi ini, Kidung akan berangkat sekolah yang sebenarnya tidak jauh dari halte. Namun, niatnya harus terhenti sesaat ketika hujan turun dengan lebatnya. Heran juga, ketika Kidung mengatakan akan berangkat sekolah. Keherananku ada sebabnya. Tak kujumpai baju seragam melekat ditubuh mungilnya. Begitu juga sepatu yang seharusnya berada dikakinya. Aku malah mengira dia akan pergi mengamen.
“ Kok nggak pakai seragam sama sepatu, Kidung?” tanyaku padanya.
Sambil tersenyum malu, dia mengatakan “ Hehe.. di sekolah nggak pakai seragam nggak papa. Malahan banyak yang nggak pakai Kak!” jawabnya.
“ Oww.. ehm boleh nanti Kakak ikut ke sekolah Kidung?” tanyaku sambil melirik jam tanganku. Aku ingat, hari ini aku kuliah agak siang.
“ Boleh”
Sepertinya cuaca sudah agak bersahabat. Hujan sudah reda. Hanya tertinggal genangan air di pinggir jalan.Aku dan Kidung bangkit dan berjalan menuju sekolah Kidung. Kubawakan tas berisi buku-bukunya. Kami melewati gang sempit padat penduduk. Baru tahu kalau didaerah sekitar kampusku, ada tempat seperti ini. Perjalanan kami terhenti disebuah bangunan sederhana, atau lebih tepatnya amat sangat sederhana. Sebuah bangunan terbuat dari triplek dengan luas kira-kira 3 x 3 meter. Didepan bangunan berkumpul sekitar 15 anak yang berlarian disekitar bangunan itu.
“ Itu dia sekolahku Kak” kata Kidung sambil meunjuk kearah bangunan.
“ Sekolah? “ tanyaku. Aku hampir tidak percaya bangunan itu bisa disebut dengan “ Sekolah”.
“ Iya. Itu sekolah Kidung. Yuk kesana..” ajak Kidung.
Tak lama, dua orang dewasa berusia sekitar 25 tahun, datang dan menyuruh anak-anak masuk kedalam kelas. Semua anak menurut dan memasuki ruangan itu. Jangan membayangkan seperti sekolah pada umumnya dengan fasilitas kursi dan meja. Didalam ruangan, anak- anak duduk diatas tikar. Ada sebuah papan tulis lengkap dengan kapur. Aku berdiri diluar sambil memandangi kegiatan dikelas. Hari ini pelajaran berhitung. Satu orang guru, menuliskan angka 1 sampai 10 dan menyuruh anak-anak menuliskannya dibuku mereka. Aku sempat tercengang, anak dengan rata-rata berusia 10 tahun, baru belajar berhitung?? Sejuta tanya menari-nari dikepalaku. Terlambat seharusnya bila dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Namun, aku kembali melihat keadaan. Mungkin saja 2 guru itu juga dengan sukarela mengajarkan kepada anak-anak itu. Gaji? Mungkin itu hanya mimpi saja bagi mereka.
2 jam berlalu. Kelaspun usai. Aku menunggu Kidung dibawah pohon mangga yang tumbuh diluar kelasnya. Kidung menghampiriku. Dari mulut mungilnya, mengalir cerita, bahwa dia kini sudah bisa menulis angka. Ditengah Kidung bercerita mataku tertumbuk pada 2 orang guru yang sedang berbincang diluar kelas.
“ Kidung, Kakak mau ketemu sama guru Kidung. Bisa antar kakak kesana?” tanyaku sambil menunjuk kearah 2 orang itu yang diikuti anggukan kepala Kidung.
“ Bu guru, kenalin, ini Kak Azka!” Kidung mengenalkanku pada dua gurunya.
“ Azka Bu!” Kataku sambil menjabat tangan mereka.
“ Perkenalkan, saya Vira dan ini Indah. Panggil saja Mbak”.
Dari kedua guru itu, melantunlah bagaimana sekolah ini bisa berdiri. Keduanya adalah lulusan sarjana pendidikan disalah satu universitas negeri dikota ini. Mereka prihatin bila harus melihat anak-anak kecil berkeliaran di sepanjang jalan mencari nafkah untuk keluarga. Mereka buta sama sekali dengan pendidikan. Jangankan untuk sekolah, untuk makan 3 kali sehari saja sudah untung. Akhirnya mbak Vira dan mbak Indah memutuskan untuk mendirikan bangunan sederhana yang baru saja berjalan sekitar 2 tahunan. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka harus membujuk anak-anak agar mau bergabung. Tak jarang pula, mereka mendapat tentangan dari orang tua anak-anak kecil itu. Dan yang paling mengerikan, mereka harus berhadapan dengan preman-preman yang mengatur anak-anak agar mengamen, mengemis dijalanan. Namun, itu semua bisa dilalui. Saat ini, mereka sebenarnya membutuhkan tenaga lebih dan dana untuk memperbaiki fasilitas serta buku-buku untuk menunjang belajar anak-anak.
“ Ehm.. dik Azka nggak kepingin ikut mengajar disini?” tanya mbak Indah padaku.
“ Pingin sih mbak. Tapi saya masih kuliah. Mungkin bisa, namun tidak setiap hari”. Jawabku.
“ Ow.. nggak papa sih”.
“ Saya usahakan mbak”.
“ Tapi, jangan mengharapkan gaji atau honor lho” canda mbak Vira.
“ Ah mbak bisa saja. Nggak papa. Itung-itung belajar ngajar” jawabku.
Setelah berpamitan, aku dan Kidung menuju halte tempat kami bertemu. Aku berangkat ke kampus dan Kidung berangkat mengamen. Ditemani biola kecil, Kidung menaiki bus kota yang berhenti didepannya. Tas yang berisi buku, ia titipkan di warung rokok dekat halte dan nanti akan diambil ketika petang tiba.
Sesampainya di kampus, aku menghampiri Adit, ketua BEM jurusan yang kebetulan sekelas denganku. Kuceritakan semua pengalaman pagiku kepadanya. Adit cukup terkejut mendengar ceritaku.
“ Begitu ceritanya Dit”
“ Ehm.. kamu punya usul Ka?”
“ Gini, gimana kalau kamu sama temen-temen di BEM bikin program pemberian bantuan ya kayak disekolah-sekolah darurat kaya tadi”.
“ Boleh juga sih Ka. Tar deh aku omongin sama anak-anak”.
“ Ok. Kalau bisa secepatnya ya. Soalnya lagi butuh dana buat perbaikan fasilitas “.
“ Ok. Secepatnya aku kabari. Nanti sore aku juga rapat sama anggotanku”.
Keesokan harinya, kebetulan aku tidak ada kuliah. Kuputuskan untuk mengunjungi sekolah Kidung. Ternyata mbak Vira sedang sakit. Akupun membantu mbak Indah mengajar. Pelajaran hari ini mengenal huruf. Mbak Indah menuliskan huruf-huruf di papan. Anak-anak menyalinnya dibuku mereka. Aku mengawasi anak-anak. Ada yang kesulitan hingga kertas tulisnya robek karena terlalu sering dihapus. Kubantu perlahan-lahan. Setiap anak yang sudah menulis, mereka akan maju kedepan dan mbak Indah akan memberinya nilai.
Satu bulan setelah penyampaian usulku pada Adit, akhirnya kami dapat membantu sekolah kidung. Kami mendapat sumbangan dari kampus. Setelah beberapa minggu kemarin Adit dan teman-teman BEM datang ke sekolah Kidung dan mendokumentasikan keadaan sekolah, pihak kampus menyetujui program pemberian bantuan. Dana yang terkumpul, kami belikan meja-meja kecil dan karpet untuk menggantikan tikar lusuh yang biasanya digunakan alas. Selain itu, ruangannya pun diperbaiki, sehingga bila hujan tiba, anak-anak tetap bisa belajar didalam. Fasilitas tulis-menulis, buku-buku tulis dan pendukung pelajaran juga diberikan secara gratis. Semoga pemberian yang tidak seberapa ini, bisa memperbaiki kualiatas pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak. Sebab, bagaimanapaun keadaannnya, anak-anak kecil ini adalah bibit-bibit penerus bangsa. Mau dibawa kemana, jika tidak dari sekarang kita lebih membuka mata untuk melihat bahwa sebenarnya, dibalik tembok-tembok sekolah megah, berdiri juga sekolah yang sama-sama mencetak generasi penerus bangsa ini. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan Kidung kecil. Dari Kidung pula, aku banyak belajar. Dari seorang anak kecil itu, aku belajar memaknai hidup. Bahwa hidup memang keras namun kita bisa menerjang kerasnya hidup bila kita berusaha. Tepukan halus membuyarkan lamunanku.
“ Kak, kok nglamun suh” kata Kidung.
“ Eh.. ada apa Kidung?”
“ Aku mau ngamen dulu ah. Udah siang” jawabnya.
“ Ok.. sampai jumpa lagi “
“ Kakak tahu nggak pesan ayahku sebelum meninggal?” tanyanya.
“ Kayaknya kamu belum cerita?” jawabku
“ Ayah bilang, aku harus menjaga 2 “B” !”
“ 2 “ B “ ? apa itu sayang?”
“ Buku sama Biola ini “ jawabnya sambil berlari meninggalkanku untuk menaiki bus kota yang berhenti dihadapan kami. Tak lupa dia melambaikan tangannya kepadaku. Kubalas lambaian tangannya. Tak terasa mata ku memanas dan dua bulir air mata keluar dari sudut mataku. Aku beranjak menuju kampus. Kidung. Bocah sederhana namun ternyata tidak sesederhana pikirannya.
0 komentar:
Posting Komentar