Mengoptimalkan Pembelajaran Anak Autis Dengan Metode One by One
Leonel hugde(psikologi anak) menjelaskan tentang gejala autisme yang dialami anak. Gejala ini tidak dapat disembukan secara total kecuali perbedaan gejala. Anak autis menankap informasi yang memiliki respon stimulus diri sehingga mengganggu interaksi social , respon unik terhadap imbalan (reinforcement),khususnya imbalan dari stimulasi diri. Anak merasa mendapatkan imbalan berupa hasil pengindraan terhadap perilaku stimulasi,baik berupa gerakan atau suara. Hal ini menyebabkan anak mengulangi perilaku secara khas. Perilaku autistic digolongkan kedalam dua jenis yaitu perilaku eksensif (berlebihan) perilaku yang hiperaktif/berlebihan dan tantrum (mengamuk) disini sering terjadi pada anak yang menyakiti diri sendiri(self abuse). Perilaku deficit perilaku yang ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai. Deficit sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat dan tanpa sebab. Diperkirakan 75%-80% penyandang autis kemampuannya cukup tinggi untuk bidang tertentu.
Yang disebut dengan autis yaitu anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme yang ditandai dengan adanya keterlambatan dalam bidang kognitif,bahasa,perilaku,komunikasi dan sosial
Ciri-ciri anak yang mengalami autis yaitu tidak pernah melakukan kontak mata denga lawan bicaranya,tidak dapat menunjukan rasa sayang,cara berkomunikasi dengan orang lain terkadang menggunakan dengan simbol dan gambar,dan cara pemikiran anak autis yang jenius karena IQnya yang sangat tinggi.
Gangguan autisme terdapat kombinasi dari beberapa kelainan otak. Kemampuan dan perilaku dibawah ini adalah kelainan yang menyebabkan autisme yaitu:
1. Komunikasi, kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau satu sekali tidak dapat berbicara hanya seringkali menggunakan bahasa tubuh dan dapat berkomunikasi dalam waktu singkat
2. Bersosialisasi, anak autis lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri dari pada dengan orang lain tidak tertarik untuk berinterkasi dengan orang lain
3. Perilaku, dapat menjadi hiperaktif atau sangat pasif. Misalnya marah tanpa alasan yang tidak masuk akal dan sangat menarik perhatian pada satu tanda,ide,aktifitas ataupun orang.
Penerapan metode pembelajaran one by one yaitu pada metode pembelajaran one by one anak ditempatkan pada suatu ruangan/kamar kecil yang berfungsi sebagai kelas, ada pula kelas bermain di ruangan praxis (perencanaan gerak) yang dilengkapi dengan mainan anak,hal ini untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain. Sesuai dengan nama metode pembelajaran one by one guru menghadapi satu murid seperti les privat agar belajar anak menjadi lebih focus. Saat proses belajar mengajar, satu persatu anak ditempatkan pada kelas kecil yang didesain lucu agar anak lebih nyaman. Pada kelas tersebut guru harus lebih sabar dan halus menghadapi anak autis. Langka lainnya guru harus melakukan terapi wicara agar dapat berbicara dengan baik, terapi akupasi untuk melatih motorik halus anak. Masih banyak lagi terapi dan guru harus memaksa agar anak menurut apa yang dikatakan oleh guru. Selain itu,guru melakukan kontak mata, sembari dipegang dan berusaha menjalin komunikasi dengan baik. Metode ini sudah dilakukan oleh Gereja Kristen Indonesia.Grand Marina,Semarang Barang dan terdapat pula metode baru dan memodifikasi agar dapat memberikan anak autis lebih menurut pada orang tua dan perkembangannyapun menjadi lebih baik dengan adanya pendekatan dan terapi.
Cari
Diposting oleh
Anonim
0 komentar:
Posting Komentar