Cari

SUTTLECOCK

Pengenalan tokoh

Rio : anak SMP yang menggemari Bulu Tangkis.

Dani : Teman Rio, yang juga senang bulu tangkis.

Pak Budi : Pelatih Bulu Tangkis dan Guru Penjaskes

Rio, adalah seorang anak berumur 13 tahun dan dia duduk di kelas 2 SMP Bina Bangsa. Disela-sela kesibukan sekolahnya dia juga aktif dalam kegiatan Bulu tangkis disekolahnya. Bahkan dia sering menjadi juara tingkat daerah maupun tingkat kabupaten. Tak heran orang tua Rio, teman-teman Rio, dan para guru pun bangga atas prestasinya.

Di sore itu setelah pulang sekolah, Rio akan melanjutkan latihannya bermain bulu tangkis bersama temannya, Dani yang juga teman Rio bermain bulu tangkis. Dani datang ke rumah Rio untuk berangkat bersama-sama pergi latihan.

“Rio…….ayo berangkat, nanati keburu telat”, Teriak Dani.

“Iya Dan, sebentar……”,sambil terburu-buru Rio menali sepatunya.

“Ayo cepat……..”

“Let’s go…”

Mareka pun berangkat bersama-sama dengan sepeda dan dengan wajah yang penuh semangat dan ceria.

Sesampainya ditempat latihan, anak-anak yang lain sudah mulai melakukan pemanasan. Melihat ituRio dan Dani pun langsung menyesuaikan teman-temannya melakukan pemanasan sebelum Pak Budi, pelatih Badminton sekaligus guru penjaskes melihat mereka telat. Akhirnya mereka pun berlatih dengan sangat gigih.

Rio mempunyai impian jika suatu saat nanti dia bias menjadi salah satu pemaian bulu tangkis terbaik kebanggaan Indonesia, seperti pebulutangkis yang selama ini dia idolakan yaitu Maria Kristin. Saat ini Rio berlatih sangat keras, agar suatu dia bisa menjadi anggota pelatnas. Setiap hari dia latihan dengan semangatdengan temannya, Dani.

“Yo, kamu semangat sekali latihannya”.

“Iya Dan, aku pengen seperti Maria Kristin yang sudah menjadi pebulutangkis kebanggaan Indonesia”, sahut Rio.

“Yo, semoga suatu saat nanti bisa menjadi seperti mereka ya”.

“Kamu Dan, itu kan sudah menjadi impian kita dari dulu”.

Kemudian mereka pun pulang, dan latihan hari ini telah usai.

Di pagi hari Rio akan siap-siap berangkat sekolah, tentu saja tak lupa Dani yang selalu setia menghampirinya. Sesampainya di sekolah, tiba-tiba mereka melihat pengumumanyang tertempel di mading sekolah bahwa pelatihan bulu tangkis di sekolahnya akan mendatangkan Maria Kristin. Alangkah senangnya Mereka mendengar berita itu. Dan seperti biasa, setiap latihan dilaluinya dengan semangat.

Suatu hari ada berita yang mengejutkan bagi Rio. Dani kecelakaan, dan sekarang dirawat dirumah sakit. Dengan wajah cemas Rio mpun segara menjenguk Dani.

“Dan, kamu nggak apa-apa kan? Bagaimana keadaanmu?”, ucap Rio dengan wajah cemas.

Dani hanya diam saja.

“Dani, kamu nggak apa-apa kan?”.

“Tanganku patah, dan Dokter memvonisku bahwa tanganku tidak bisa digunakan untuk bermain bulu tangkis lagi”, Dani dengan suara putus asanya.

Mendengar berita itu, Rio tak tega lagi melihat Dani. Dia sungguh prihatin dengan keadaan Dani.

Hari-hari dilalui Rio dengan wajah yang tak secerah biasanya. Tidak ada seorang teman yang diajak bersepeda bareng dan latihan bulu tangkis. Pada hari itu tak seperti biasanya Pak Budi memanggil Rio.

“Rio, akhir-akhir ini prestasi akademikmu terus merosot. Apa ini karena kamu sering bermain bulu tangkis, sehingga kamu lupa dengan pelajaranmu?”, Pak Budi dengan nada kecewa.

Sigit hanya bisa diam.

“Bapak mengerti kamu senang dengan bulu tangkis, tapi kamu juga harus peduli dengan sekolamu”.

Sekali lagi Rio hanya tertunduk lesu.

“Saya peringatkan, kalau nilai akademikmu terus merosot,kamu tidak boleh lagi mengikuti latihan, bahkan pertandingan bulu tangkis”.

“Tapi Pak…..”, sahut Rio.

“Tidak ada tapi-tapi,ingat kamu harus belajar jika ingin berlatih badminton lagi”, sahut Pak Budi lagi.

Dengan raut muka yang sedih dan pucat, Rio menyesali perbuatannya. Kemudian dia menghampiri Dani.

“Dan, kamu tahu? Nilai akadmikku terus merosot akibat sering bermain bulu tangkis dan aku hampir tidak peduli dengan sekolahku”. Rio dengan suara sedihnya.

“Terus kenapa?”, sahut Dani.

“Tadi Pak Budi memanggilku dan memberitahuku bahwa aku tidak boleh lagi ikut latihan bahkan pertandingan Bulu tangkis”.

“Kamu itu Yo, mulai sekarang kamu harus giat belajar agar nilai akademikmu membaik, kamu ingin latihan bulu tangkis lagi bukan?”, sahut Dani.

Rio mengangguk.

“Lihat aku sekarang Yo, sekarang aku tidak bisa lagi bermain buku tangkis seperti kamu”, Dani memperingatkan sigit.

“Dani………..”.

“mulai sekarang mulailah menata hari esok jika kamu ingin sukses”. Dani menasehati Rio.

“aku berjanji Dan, mulai saat ini aku akan belajar dengan sungguh-sungguh”. Sahut Rio.

Mulai saat itu, Rio belajar dengan sungguh-sungguh. Setiap hari sepulang sekolah dia belajar dan belajar.Sampai suatu ketika nilai Rio pun semakin hari semakin membaik.dan akhirnya Pak Budi mengizinkan Rio untuk berlatih bulu tangkis. Hari dimana Maria Kristin akan mendatangi tempat latihan bulu tangkis pun tiba. Rio dan Dani menyambutnya dengan gembira. Dengan semangat yang kembali seperti dulu mereka melangkah pasti.

0 komentar:

Posting Komentar